Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

Ekonom Proyeksi Investasi Tumbuh Hingga 7 Persen Pada 2023

Rabu 25 Jan 2023 06:40 WIB

Red: Fuji Pratiwi

Warga mengunjungi salah satu pusat kuliner di Jakarta, Ahad (8/1/2023). Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memproyeksikan investasi yang diukur dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada tahun ini memiliki ruang untuk tumbuh sekitar enam persen hingga tujuh persen.

Warga mengunjungi salah satu pusat kuliner di Jakarta, Ahad (8/1/2023). Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memproyeksikan investasi yang diukur dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada tahun ini memiliki ruang untuk tumbuh sekitar enam persen hingga tujuh persen.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Meski ada risiko global, investasi asing langsung ke Indonesia masih bisa berkembang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memproyeksikan investasi yang diukur dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada tahun ini memiliki ruang untuk tumbuh sekitar enam persen hingga tujuh persen.

"Kami mengharapkan pertumbuhan investasi tetap Indonesia akan semakin meningkat pada 2023," ujar Faisal dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (24/1/2023).

Baca Juga

Ia melihat investasi langsung Indonesia dapat semakin meningkat pada 2023, yang didorong oleh investasi asing langsung (foreign direct investment/ FDI) dan investasi domestik langsung (domestic direct investment/ DDI).

Meskipun terdapat risiko perlambatan ekonomi global, investasi asing langsung ke Indonesia masih dapat terus berkembang. Hal itu dapat terjadi di tengah keputusan pemerintah untuk melanjutkan proyek hilirisasi industri sumber daya alam untuk memperkuat rantai pasokan domestik dan meningkatkan nilai tambah ekspor. Selain itu, pembukaan kembali ekonomi China juga bisa menjadi katalis positif untuk arus masuk investasi ke Tanah Air.

 

Sementara untuk investasi domestik langsung, Faisal mengatakan arus investasi akan didorong oleh pencabutan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) pada akhir 2022, peningkatan mobilitas dan permintaan, serta Proyek Strategis Nasional (PSN) 2023. Adapun anggaran proyek infrastruktur dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 meningkat 7,18 persen menjadi Rp 392 triliun dibanding penurunan 12,55 persen dalam APBN 2022, sehingga relatif lebih tinggi dibandingkan empat tahun terakhir, tapi tidak termasuk 2021.

"Anggaran tersebut meliputi proyek infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK), jalan, dan jembatan, serta proyek strategis di ibu kota baru (IKN)," kata Faisal.

Tahun lalu, kata dia, investasi langsung di Indonesia mencatat pertumbuhan luar biasa. Sebagian besarnya didukung oleh investasi asing langsung ke sektor logam dasar dan pertambangan, berkat tingginya permintaan eksternal dan harga komoditas khususnya besi dan baja serta batu bara. Dengan demikian hal tersebut membuahkan hasil berupa pertumbuhan dua digit investasi non-bangunan dan struktur dalam PMTB dari produk domestik bruto (PDB) 2022.

Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) juga menunjukkan kinerja yang solid.  Hanya saja, PMDN tertahan oleh tertundanya PSN akibat realokasi anggaran 2022 ke program Pemulihan Ekonomi Nasional dan Penanganan Covid-19. Hal ini menyebabkan pertumbuhan PMTB 2022 terbatas karena sekitar 71 persen merupakan investasi gedung dan struktur.

 

sumber : ANTARA
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA