Monday, 15 Rajab 1444 / 06 February 2023

Konten Hilang, Nyawa pun Melayang

Ahad 22 Jan 2023 09:34 WIB

Red: Joko Sadewo

Membuat konten berbahaya marak terjadi di Indonesia. Foto ilustrasi anak main medsos

Membuat konten berbahaya marak terjadi di Indonesia. Foto ilustrasi anak main medsos

Foto: Dailymail
Hampir 90 persen usia antara 18-29 tahun menggunakan setidaknya satu media sosial.

Oleh : Qommarria Rostanti, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Mungkin tak pernah terbayang di benak Salim (bukan nama sebenarnya) bahwa dirinya akan meninggal pada usia muda, yaitu 20 tahun. Niat ingin membuat konten “keren” agar bisa eksis di dunia maya justru berujung pada malapetaka.

Istilah “maut menjemput” agaknya kurang cocok disematkan pada kasus ini. Sebab, Salim dan rekan-rekannya yang menyerahkan dirinya kepada maut. Namun, hanya nyawa Salim yang “diterima” maut. Hanya Salim yang meninggal dunia pada Kamis (5/1/2023).

Salim (20 tahun) dan teman-temannya membuat konten mengadang truk yang sedang melaju di Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor, Jawa Barat. Pengadangan truk dilakukan oleh sekelompok pemuda tersebut demi konten di media sosial.

Hal serupa terjadi beberapa hari kemudian. Kali ini menimpa M (inisial). Kecelakaan terjadi di sekitar exit Tol Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (14/1/2023) sekitar pukul 16.00 WIB. M tewas akibat tertabrak truk yang sedang berjalan, setelah dirinya berusaha untuk menyetop kendaraan besar tersebut demi konten.

Aksi remaja mengadang truk berujung tewas tertabrak bukan kali ini terjadi. Pada November tahun lalu, ada seorang remaja berusia 12 tahun tewas tertabrak truk di Pasar Jumat, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Jaksel). Sama seperti Salim, korban tewas tertabrak saat membuat konten mengadang truk. Bukannya konten keren yang didapat, melainkan malah nyawa yang berujung melayang.

Rupanya, konten menyetop truk memiliki komunitas di Facebook. Konten mengadang truk yang berhasil direkam akan diunggah ke dalam akun komunitas tersebut. Anggota bahkan mencapai ribuan.

Selain konten mencegat truk, ada juga konten lain yang bikin geleng-geleng kepala, yaitu ngemis online. Akun Tiktok @intan_komalasari92 kerap mengunggah konten seorang paruh baya mandi lumpur. Aktivitas mandi lumpur disiarkannya secara langsung di Tiktok. Dari sana, (melalui gift yang diberikan penonton, dia bisa meraup uang hingga Rp 2 juta untuk sekali siaran langsung). Penghasilan tersebut dibagi dua dengan pemeran yang bersedia mandi lumpur.  Warga Kecamatan Praya Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), ini tidak sendirian. Dia bersama sang suami, Sultan Ahyar, yang menjalankannya.

Anda dan saya pasti heran melihat fenomena kepengin eksis lewat jalan yang tak lazim. Apa yang menyebabkan pengguna media sosial nekat melakukan tindakan ceroboh? Mengapa mereka mati-matian untuk bisa eksis di dunia maya?

Media sosial awalnya menjadi salah satu cara untuk berinteraksi dengan teman dan keluarga. Cara ini kemudian diadopsi oleh pelaku bisnis, yang ingin memanfaatkan metode komunikasi baru yang populer untuk menjangkau pelanggan. Namun belakangan, konten nyeleneh sering wira-wiri di beranda akun media sosial.

Diperkirakan, ada lebih dari 3,8 miliar pengguna media sosial di seluruh dunia hingga 2022. Menurut Pew Research Center, pengguna media sosial cenderung dari kalangan anak-anak muda. Hampir 90 persen orang berusia antara 18 dan 29 tahun menggunakan setidaknya satu bentuk media sosial.

Tampaknya media sosial mengalami “perubahan fungsi”. Media sosial bukan lagi sekadar teknologi untuk berkomunikasi atau hiburan, melainkan sekarang menjadi tempat di mana orang-orang, khususnya anak muda, menghabiskan waktu.

Agak sulit untuk menentukan konsekuensi baik dan buruk media sosial dalam jangka panjang. Namun, banyak peneliti telah menyimpulkan hubungan kuat antara penggunaan berat platform media sosial dengan peningkatan risiko depresi, menyakiti diri sendiri, kecemasan, dan kesepian.

Penggunaan platform media sosial yang lama membuat Anda ketagihan melihat apa yang dilakukan orang lain. Fear of Missing Out (FOMO) adalah perasaan yang diperburuk bahwa orang lain menjalani kehidupan yang lebih baik dibandingkan  Anda. Perasaan ini membuat Anda memeriksa notifikasi setiap detik, hanya untuk membuat diri Anda merasa lebih baik.

Di sisi lain, remaja perlu menyesuaikan diri, menjadi populer, dan mengalahkan orang lain. Proses ini sudah cukup menantang, jauh sebelum munculnya media sosial. Kehadiran Instagram, Facebook, Twitter membuat tekanan yang dihadapi remaja tumbuh terlalu cepat di dunia maya.

Jika tidak digunakan dengan bijak, media sosial dapat mendatangkan sifat impulsif. Pesan baru dan notifikasi menjadi dorongan bagi seseorang untuk terus-menerus memeriksa ponsel, yang mengakibatkan gangguan. Individu membuang-buang waktu bahkan mengabaikan pekerjaan penting hanya untuk melihat notifikasi.

Bukan tidak mungkin, pengguna dapat menghabiskan waktu berjam-jam di sofa, terpaku pada HP, yang akhirnya mengakibatkan beberapa masalah kesehatan, seperti obesitas, stres, dan tekanan darah tinggi. Teknologi dan media sosial yang menyertainya telah menyebabkan meningkatnya kemalasan di kalangan masyarakat karena tidak melakukan aktivitas fisik atau olahraga.

Masalah serius di kalangan kecanduan media sosial remaja telah menyebabkan konsekuensi bencana. Padahal, mengecek media sosial dan menggunakan HP secukupnya tidaklah buruk. Waktu dan energi produktif dapat terbuang sia-sia akibat penggunaan yang berlebihan.

Meski begitu, tak bisa ditampik bahwa informasi adalah kekuatan. Tanpa sarana mendistribusikan informasi, orang tidak dapat memanfaatkan kekuatannya. Salah satu dampak positif media sosial jika digunakan secara benar adalah penyebaran informasi di dunia saat ini. Beragam platform, seperti Instagram, Facebook, LinkedIn, Tiktok, dan Twitter memungkinkan pengguna untuk mengakses informasi dengan hanya mengeklik tombol.

Penelitian yang dilakukan oleh parse.ly, seperti dilansir laman simplilearn.com menunjukkan bahwa harapan hidup sebuah cerita yang diunggah di situs web adalah 2,6 hari; dibandingkan dengan 3,2 hari ketika sebuah cerita dibagikan di media sosial. Perbedaannya mencapai 23 persen, ini cukup signifikan jika Anda mempertimbangkan bahwa miliaran orang menggunakan internet setiap hari.

Umur artikel berbeda dengan umur aktif unggahan media sosial itu sendiri. Green Umbrella memperkirakan, unggahan Facebook memiliki umur rata-rata enam jam, Instagram atau LinkedIn 48 jam, dan cicitan di Twitter hanya 18 menit. Semakin lama pengguna media sosial aktif mengakses informasi, semakin banyak diskusi yang dihasilkan dan semakin besar dampak media sosial.

Bagaimana pun, dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih lambat tanpa media sosial. Hal itu bisa menyebabkan kerugian dan kebaikan. Namun, dampak positif media sosial sangat besar dan jauh melampaui “penyakit” yang terkait dengan berbagi secara daring.

Pada akhirnya, berbagi atau sharing di media sosial adalah tentang membuat orang melihat dan menanggapi konten. Selama kontennya masih relevan, positif, dan kebutuhan akan informasi masih ada, media soaial akan selalu bermanfaat bagi individu dan organisasi mana pun. Jadi, mari ciptakan konten-konten yang manfaat, bukan kontan yang hanya mengejar eksistensi sesaat.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA