Thursday, 18 Rajab 1444 / 09 February 2023

Angkatan Laut Rusia-China akan Gelar Latihan Gabungan di Lepas Pantai Afsel

Jumat 20 Jan 2023 19:09 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nidia Zuraya

Dalam foto selebaran yang dirilis oleh Layanan Pers Kementerian Pertahanan Rusia ini, pasukan China berbaris selama latihan militer Vostok 2022 di lapangan tembak di Timur Jauh Rusia, pada 31 Agustus 2022. Angkatan laut Rusia dan China akan menggelar latihan gabungan di lepas pantai Afrika Selatan (Afsel) di Samudra Hindia pada Februari 2023.

Dalam foto selebaran yang dirilis oleh Layanan Pers Kementerian Pertahanan Rusia ini, pasukan China berbaris selama latihan militer Vostok 2022 di lapangan tembak di Timur Jauh Rusia, pada 31 Agustus 2022. Angkatan laut Rusia dan China akan menggelar latihan gabungan di lepas pantai Afrika Selatan (Afsel) di Samudra Hindia pada Februari 2023.

Foto: Vadim Savitsky/Russian Defense Ministry Press
Latihan gabungan ini menjadi indikasi Moskow ingin memperkuat hubungan dengan Beijing

REPUBLIKA.CO.ID, JOHANNESBURG – Angkatan laut Rusia dan China akan menggelar latihan gabungan di lepas pantai Afrika Selatan (Afsel) di Samudra Hindia bulan depan. Hal itu menjadi indikasi bahwa Moskow ingin memperkuat hubungannya dengan Beijing.

Angkatan Bersenjata Afsel telah diberi tembusan tentang rencana latihan gabungan tersebut. Mereka, pada Kamis (19/1/2023) mengungkapkan, latihan bakal digelar 17-27 Februari di lepas pantai timur negara itu, tepatnya dekat kota Durban dan Teluk Richards. Tanggal 24 Februari mendatang akan menandai satu tahun perang Rusia-Ukraina.

Baca Juga

Informasi tentang latihan gabungan angkatan laut Rusia dan Chhina diumumkan beberapa hari sebelum Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov mengunjungi Afsel. Dia diagendakan bertemu Menlu Afsel Naledi Pandor.

Pemerintah Afsel telah menyatakan bahwa mereka memiliki sikap netral terkait konflik antara Rusia dan Ukraina. Namun latihan gabungan angkatan laut Rusia dan Cina di lepas pantai negara tersebut telah memunculkan anggapan bahwa Afsel memihak Moskow. Johannesburg menyangkal anggapan tersebut. Sebaliknya mereka justru menyerukan agar peperangan di Ukraina segera diakhiri.

Afsel merupakan salah satu negara Afrika yang memilih abstain dalam pemungutan suara di PBB tahun lalu. Voting itu bertujuan mengutuk serangan Rusia ke Ukraina. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa Rusia dan Ukraina akan merundingkan gencatan senjata atau perdamaian.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengatakan, dia yakin negaranya akan memenangkan peperangan di Ukraina. Putin menjelaskan beberapa alasan mengapa dia memiliki keyakinan tersebut.

“Dalam hal mencapai hasil akhir dan kemenangan yang tak terelakkan (di Ukraina), ada beberapa hal; Ini adalah persatuan serta kohesi rakyat Rusia dan multinasional Rusia, keberanian dan kepahlawanan para pejuang kita, dan tentu saja pekerjaan kompleks industri militer serta pabrik seperti milik kalian dan orang-orang seperti kalian. Kemenangan sudah pasti, saya tidak meragukannya,” kata Putin saat berbicara di hadapan kelompok pekerja yang bekerja di pabrik pembuatan sistem pertahanan Rusia, Rabu (18/1/2023).

Putin mengungkapkan, perusahaan senjata Rusia memproduksi rudal anti-pesawat dalam jumlah yang hampir sama dengan gabungan seluruh dunia serta tiga kali lebih banyak dibandingkan Amerika Serikat (AS). Sebelumnya Putin sempat menghadiri sebuah acara untuk memperingati berakhirnya pengepungan pasukan Nazi terhadap Leningrad yang kini dikenal sebagai St Petersburg pada Perang Dunia II.

Acara tersebut dihadiri para veteran militer Rusia. Kepada mereka Putin menyampaikan bahwa operasi militer yang kini sedang berlangsung di Ukraina bertujuan membela etnis Rusia dan penutur bahasa Rusia. Dalam pandangan Moskow, mereka menjadi sasaran diskriminasi sistematis di Ukraina. 

“Apa yang kami lakukan hari ini, termasuk dengan operasi khusus kami, adalah upaya untuk menghentikan perang ini dan melindungi rakyat kita yang tinggal di wilayah ini. Ini adalah wilayah sejarah kita,” kata Putin, merujuk pada fakta bahwa Ukraina pernah menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA