Thursday, 18 Rajab 1444 / 09 February 2023

Keluarga Korban Penembakan Masjid Christchurch Berterima Kasih pada Jacinda Ardern

Jumat 20 Jan 2023 12:30 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, bertemu dengan anggota komunitas Muslim setelah penembakan massal di dua masjid Christchurch, Selandia Baru, 16 Maret 2019.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, bertemu dengan anggota komunitas Muslim setelah penembakan massal di dua masjid Christchurch, Selandia Baru, 16 Maret 2019.

Foto: EPA/EFE/Boris Jancic
Belas kasih dan kepemimpinannya menyinari perjalanan duka keluarga korban penembakan

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Keputusan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern untuk mengundurkan diri pada Kamis (19/1/2023) mengejutkan warganya. Terutama keluarga korban penembakan masjid di Christchurch.

Aya Al-Umari kehilangan saudara laki-lakinya, Hussein dalam serangan penembakan brutal di masjid Christchurch. Al-Umari mengaku terkejut dan sedih dengan keputusan Ardern. Al-Umari mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada Ardern atas belas kasih dan solidaritas kepada umat Muslim Selandia Baru saat menghadapi hari buruk itu.

Baca Juga

“Perasaan saya campur aduk, kaget, sedih tapi sangat bahagia untuknya. Rasa terima kasih yang terdalam kepada Ardern, belas kasih dan kepemimpinannya selama hari yang suram itu menyinari perjalanan duka kami," ujar Al-Umari.

Ardern telah menjadi ikon kiri global dan mencontohkan gaya kepemimpinan baru. Ardern berusia 37 tahun ketika dia terpilih menjadi pemimpin Selandia Baru. Sikap tenang Ardern saat menghadapi penembakan massal di masjid Christchurch dan Linwood telah menuai pujian di seluruh dunia.

Pada Maret 2019, Ardern menghadapi salah satu hari tergelap dalam sejarah Selandia Baru ketika seorang pria bersenjata yang terpapar ideologi supremasi kulit putih menyerbu masjid di Christchurch dan membantai 51 jemaah selama sholat Jumat.  Ardern dipuji secara luas atas empatinya terhadap para penyintas dan komunitas Muslim Selandia Baru.

Setelah penembakan itu, Ardern bergerak cepat mengesahkan undang-undang baru yang melarang jenis senjata semi-otomatis yang paling mematikan.  Skema pembelian kembali atau buy back yang dijalankan oleh polisi menyebabkan lebih dari 50.000 senjata, termasuk senapan AR-15, dihancurkan.

Kurang dari sembilan bulan setelah penembakan di Christchurch, Ardern  menghadapi tragedi lain yaitu meletusnya gunung api di White Island. Letusan itu menewaskan 22 turis dan pemandu.

Ardern menjadi inspirasi bagi wanita di seluruh dunia setelah pertama kali memenangkan jabatan sebagai perdana menteri pada 2017. Kemudian pada 2018, Ardern menjadi pemimpin dunia kedua yang melahirkan saat menjabat. Dia membuat terobosan dengan membawa bayi perempuannya saat menghadiri Majelis Umum PBB di New York.

Ardern membukukan kemenangan kiri-tengah sementara populisme sayap kanan sedang meningkat secara global. Dia mendorong RUU yang menargetkan emisi karbon nol bersih pada 2050, mengawasi larangan senjata serbu, dan menetapkan kebijakan ketat selama 18 bulan agar virus korona tidak masuk ke Selandia Baru.

“Memimpin negara Anda di masa damai adalah satu hal, memimpin mereka melewati krisis adalah hal lain. Ada tanggung jawab yang lebih besar, kerentanan yang lebih besar di antara orang-orang, dan dalam banyak hal, saya pikir itulah yang melekat pada saya," ujar Ardern.

"Saya mendapat hak istimewa untuk berada bersama Selandia Baru selama krisis, dan mereka menaruh kepercayaan pada saya," kata Ardern menambahkan.

sumber : AP
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA