Rabu 18 Jan 2023 09:23 WIB

Ibu Kota Pindah, PHRI Minta Penjelasan Masa Depan Jakarta

Ibu kota pindah ke Kalimantan berdampak serius bagi hotel dan restoran di Jakarta.

Suasana saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Ahad (13/11/2022). Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DKI Jakarta meminta pemerintah pusat maupun pemerintah DKI Jakarta lekas memutuskan rencana konkret masa depan Jakarta terkait pindahnya ibu kota negara ke Kalimantan.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Suasana saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Ahad (13/11/2022). Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DKI Jakarta meminta pemerintah pusat maupun pemerintah DKI Jakarta lekas memutuskan rencana konkret masa depan Jakarta terkait pindahnya ibu kota negara ke Kalimantan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DKI Jakarta meminta pemerintah pusat maupun Pemerintah DKI Jakarta lekas memutuskan rencana konkret masa depan Jakarta terkait pindahnya ibu kota negara ke Kalimantan.

"Kita minta pemerintah pusat dan DKI Jakarta memikirkan dan merumuskan Jakarta mau dibawa ke mana," kata Ketua PHRI DKI Jakarta, Sutrisno Iwantono di Jakarta, Selasa (17/1/2023).

Baca Juga

Saat menjelaskan rekomendasi Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PHRI DKI Jakarta, Iwantono mengatakan, ibu kota negara pindah ke Kalimantan akan memiliki dampak sangat serius bagi perhotelan dan restoran di Jakarta. Ia mengatakan pemerintahan pusat, termasuk kementerian, kantor pusat perusahaan, dan lainnya akan pindah ke ibu kota baru. "Nasib hotel dan restoran tentu sangat tergantung pada nasib Jakarta," kata dia.

Saat ini, kata Iwantono, belum diketahui dengan pasti apakah Jakarta akan menjadi kota keuangan, perdagangan, industri, atau pariwisata. "Masih kabur, Jakarta ingin menjadi apa," ujarnya.

Jika peruntukan kota Jakarta diketahui, lanjutnya, tentu pelaku usaha perhotelan dan restoran akan dapat segera pula menyesuaikan usahanya. Iwantono berharap PHRI bisa dilibatkan dalam pembahasan mengenai masa depan Jakarta. Ia mengatakan, asosiasi yang lain tentu juga akan berkenan jika diundang untuk merumuskan nasib Jakarta.

Pada kesempatan itu, Iwantono mengatakan, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jakarta mulai meningkat. "Menurut data BPS, jumlah wisman yang berkunjung ke Jakarta pada Oktober 2022 naik 1,30 persen dibandingkan bulan sebelumnya.''

Kenaikan ini seiring berbagai upaya pemerintah dalam pemulihan sektor pariwisata. Di antaranya meningkatkan kualitas pariwisata dan peningkatan fasilitas dan atraksi di destinasi wisata. Tetapi kenaikan ini masih belum dapat menyamai jumlah kunjungan wisman sebelum terjadinya pandemi Covid-19.

Pada Oktober 2022, wisatawan dari wilayah ASEAN tetap mendominasi kunjungan ke Jakarta mencapai 39.591 orang. Berdasarkan kebangsaan, kunjungan wisatawan dari Malaysia tercatat paling tinggi 15.125 orang atau 13,43 persen dari seluruh kunjungan.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement