Monday, 15 Rajab 1444 / 06 February 2023

Hobi Belanja dan Hantaman Limbah Pakaian

Senin 23 Jan 2023 01:59 WIB

Red: Natalia Endah Hapsari

Jadilah pembeli cerdas yang berbelanja karena kebutuhan bukan keinginan (ilustrasi)

Jadilah pembeli cerdas yang berbelanja karena kebutuhan bukan keinginan (ilustrasi)

Foto: AP / Andy Wong
Jutaan ton limbah pakaian sulit untuk didaur ulang.

Oleh : Endah Hapsari, Jurnalis Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Anda hobi belanja? Tenang saja, Anda ternyata tidak sendiri.

Menurut survei yang dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia pada 2022 lalu terkait akses media dan perilaku digital pada sekitar 733 orang, sebanyak 49 persen responden mengaku pernah belanja online dalam sebulan terakhir.

Apa saja produk yang dibeli? Mayoritas dari responden mengaku paling sering belanja pakaian atau fashion. Bahkan, persentasenya tercatat sebesar 65,7 persen. Selanjutnya, produk lain yang dibeli bervariasi mulai dari barang elektronik, makanan, minuman, mainan hingga peranti musik digital.

Hasil survei lain tidak kalah menarik. Menurut Digital 2022 Global Overview Report, Indonesia termasuk dalam deretan negara yang warganya paling sering belanja online.

Indonesia berada di peringkat kelima sebagai negara paling sering belanja online, dengan persentase pengguna internet pelanggan e-commerce sebanyak 36 persen. Posisi di atas Indonesia di antaranya adalah Thailand, Korea Selatan, Meksiko, dan Turki.

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan kegemaran berbelanja, terutama jika kita memang memiliki dana cukup untuk memenuhi hasrat berbelanja.

Namun, tahukah Anda bahwa ada bencana yang mengancam yang mungkin saja tidak disadari? Nama bencana itu adalah limbah pakaian.

Dari siklus perputaran fesyen dunia, kita mengenal istilah fast fashion. Istilah ini merujuk pada tren dan kebiasaan berbelanja yang tanpa disadari sudah menajdi bagian dalam kehidupan sehari-hari.

Fast fashion mengacu pada ketersediaan pakaian yang terus mengikuti perubahan tren dengan harga yang lebih terjangkau.

Istilah fast fashion tidak hanya mengacu pada cepatnya produksi pakaian untuk memenuhi permintaan pasar yang terus bertambah dengan gaya dan model yang berbeda, tetapi juga terkait dengan sifat dan perilaku konsumerisme masyakarat terutama generasi muda yang sering membeli pakaian baru dan hanya digunakan dalam waktu singkat.

Tak mengejutkan, seperti dikutip dari buku Gen Z: Menghidupi Tantangan Transformasi (Kumpulan Tulisan Kandidat SOTY 2022 SCU), bila akibat perilaku tersebut banyak pakaian yang tak terpakai lagi pun berakhir nasibnya menjadi sampah alias limbah pakaian dan angkanya mengejutkan.

Sejak tahun 1975-2018, produksi tekstil per kapita meningkat dari 5,9 kilogram menjadi 13 kilogram secara global dengan estimasi peningkatan konsumsi global terhadap pakaian sebanyak 62 juta ton. Alhasil, industri pakaian sekarang sudah memproduksi dua kali lebih banyak dibandingkan sebelum tahun 2000.

Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2021, Indonesia menghasilkan 2,3 juta ton limbah pakaian atau setara dengan 12 persen dari limbah rumah tangga. Kontribusi limbah rumah tangga terhadap komposisi sampah keseluruhan mencapai 42,12 persen. Namun dari keseluruhan limbah pakaian tersebut, hanya 0,3 juta ton limbah pakaian yang didaur ulang.

Lantas ke mana sisa jutaan ton limbah pakaian lain yang tidak dapat didaur ulang? Pertanyaan itu tentu menggelisahkan untuk mereka yang peduli terhadap lingkungan.

Salah satu figur publik yang peduli tentang keberadaan limbah pakaian itu adalah penyanyi Andien Aisyah. Dengan kesadaran tinggi, dia bahkan sudah mendirikan organisasi yang berusaha untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan, yaitu Setali Indonesia. Inilah organisasi yang gerakan sustainable fashion, yaitu gerakan untuk menjaga lingkungan dari bahaya sampah industri fesyen.

Ide lain datang dari kalangan perguruan tinggi yang menawarkan perputaran bisnis hijau dengan cara melakukan daur ulang terhadap pakaian bekas yang diperoleh. Jika pakaian bekas tersebut masih layak pakai, mereka akan memilih untuk menjual lagi. Namun, jika sudah tidak layak dan ketinggalan tren, mereka akan memilih untuk menyumbangkan dan melakukan daur ulang.

Langkah daur ualng tersebut adalah menggabungkan dua pakaian, mengubah model, menambah hiasan hingga dapat menarik pembeli. Bila benar-benar tidak bisa diolah lagi, pakaian bekas itu akan dibuat menjadi produk bernilai ekonomis lain seperti menjadi lap atau keset.

Cara tersebut boleh jadi cukup efektif untuk mengurangi limbah pakaian yang tak kalah ngeri dampaknya terhadap lingkunan. Terlebih limbah pakaian pun butuh waktu sangat lama untuk dapat terurai.

Bagi kita semua yang peduli terhadap keberlangsungan lingkungan, cobalah untuk melakukan sederhana setiap kali tergiur untuk membeli baju baru: jadilah pembeli yang cerdas. Ketika melihat sebuah baju atau item fashion apa pun yang melintas di telepon cerdas Anda, pikirkan dulu dengan baik. Apakah saya memang membutuhkan baju baru atau sekadar keinginan semata?

Lakukan itu sambil mengendapkan keinginan untuk beberapa hari. Biasanya keinginan itu perlahan sirna, terutama jika memang Anda tidak benar-benar membutuhkan baju baru untuk membuat penampilan lebih keren. Akan tetapi, tentu lain halnya jika Anda benar-benar membutuhkan baju baru dan memang ada dana memadai yang dapat digunakan untuk membelinya. Silakan saja.

Terpenting adalah jangan menjadi orang yang membeli secara impulsif, membeli hanya karena ingin membeli. Atau membeli karena terpicu situasi emosional tertentu seperti sedang stres, marah, atau butuh healing. Kita sama-sama bisa belajar untuk lebih ramah lingkungan dengan menjadi pembeli cerdas. Bak sebuah lingkaran, pada akhirnya semua yang kita lakukan akan kembali kita rasakan dampaknya, bukan?

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA