Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Mengenal Industri Jalan Tol

Sabtu 12 Apr 2014 02:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Proyek pembangunan jalan tol JORR W2 di Pesanggrahan, Jakarta Selatan. (foto : Raisan Al Farisi)

Proyek pembangunan jalan tol JORR W2 di Pesanggrahan, Jakarta Selatan. (foto : Raisan Al Farisi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Indonesia adalah negara dengan perekonomian yang tengah berkembang. Karena itu, pembangunan infrastruktur khususnya pembangunan jalan tol sangat diperlukan. Pepatah Cina mengatakan, “jika suatu negara ingin maju, maka bangunlah jalan tol. Dan jika ingin lebih maju lagi, maka bangunlah jalan tol llebih banyak dan seterusnya”.

Jika menganut pepatah ini, tak heran jika Cina sekarang memiliki jalan tol sepanjang 60 ribu kilometer, sedangkan Indonesia hanya memiliki jalan tol sepanjang 700 kilometer.

Jalan tol merupakan jalan umum yang pembangunanya ditanggung oleh pemerintah. Berbeda dengan jalan umum non tol, pengguna jalan tol wajib membayar biaya tol atas kompensasi bebas hambatan. Biaya tol pun bervariasi, tergantung tujuan perjalanan.

Ada dua hal penting dalam pembangunan jalan tol, yakni investor dan tanah atau lahan kosong. Menurut Direktur Jasa Marga, Ir. Hasanudin, besarnya biaya pembangunan jalan tol berbanding terbalik dengan keuntungan yang didapat. Hal inilah yang menyebabkan kurang tertariknya investor terjun ke bisnis ini.

Sebagai contoh jalan tol yang menghubungkan Pelabuhan Belawan ke Medan dan Tanjung Morawa atau disingkat Belmera. Jalan tol yang mulai beroperasi pada tahun 1986 ini baru mencapai break event point (BEP) setelah 30 tahun beroperasi.

Hingga akhirnya investor bisa bernapas lega setelah adanya undang-undang Nomor 38 Tahun 2004 dalam pasal 48 ayat 3. Didalamnya menyebutkan tentang adanya kenaikan tarif tol yang dilakukan setiap dua tahun sekali. Beruntung volume lalu lintas di jalan tol juga terus meningkat sehingga pendapatan atas jalan tol juga terus meningkat.

Jalan tol Cawang-Tomang-Cengkareng (Sedyatmo) misalnya, menurut data Jasa Marga, volume kendaraan dari tahun 2008-2012 di jalan ini selalu meningkat, yakni sebanyak 477.977 menjadi 561.215 di tahun 2012.

Tapi bukan hanya peningkatan pendapatan, meningkatnya volume lalu lintas juga tak jarang menimbulkan masalah, seperti meningkatnya antrian di gerbang tol hingga mempercepat rusaknya jalan akibat kelebihan beban yang dilewati. Sebagai contoh satu truk gandeng ekuivalen dengan 1.000 mobil yang lewat. Sehingga bisa dibayangkan bagaimana kondisi jalan yang sering dilewati oleh truk gandeng, pasti akan lebih cepat rusak.

Adapun permasalahan-permasalahan lain yang sering terjadi di jalan tol, yaitu kecelakaan, jalan berlubang dan banjir. Ketiga hal tersebut merupakan permasalahan-permasalahan yang kompleks karena dapat disebabkan oleh para pengguna dan penyedia.

Karena itu, industri jalan tol adalah industri yang menjanjikan, disamping masalah-masalah yang terjadi di jalan tol. Industri jalan tol menjanjikan karena tarif tol yang selalu naik setiap dua tahun sekali, ditambah lagi perkembangan ekonomi Indonesia yang terus tumbuh sehingga jalan tol sangat dibutuhkan sebagai akses jalan bebas hambatan.

Penulis: Mohamad Reza Prakasa – Mahasiswa Universitas Indonesia (UI)
   

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA