Rabu 11 Jan 2023 14:41 WIB

RS Internasional di Bali Incar Masyarakat yang Berobat ke Luar Negeri

Proyek KEK Sanur yang dirancang rampung pada penghujung 2023.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan dan Pariwisata pertama di Indonesia, berlokasi di Sanur, Bali. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Nyoman Gede Anom menyampaikan bahwa rumah sakit internasional yang akan dibuka di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Denpasar, Bali, akan menyasar masyarakat lokal yang sering berobat ke luar negeri.
Foto: Pertamina
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan dan Pariwisata pertama di Indonesia, berlokasi di Sanur, Bali. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Nyoman Gede Anom menyampaikan bahwa rumah sakit internasional yang akan dibuka di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Denpasar, Bali, akan menyasar masyarakat lokal yang sering berobat ke luar negeri.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Nyoman Gede Anom menyampaikan bahwa rumah sakit internasional yang akan dibuka di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Denpasar, Bali, akan menyasar masyarakat lokal yang sering berobat ke luar negeri.

"Rumah sakit itu inti sasarannya adalah masyarakat Bali atau masyarakat Indonesia yang sering berobat ke luar negeri. Kurang lebih ada Rp 82 triliun uang masyarakat Indonesia yang keluar untuk berobat ke luar negeri seperti ke Penang (Malaysia), Singapura, Amerika," kata dia di Denpasar, Rabu (11/1/2023).

Baca Juga

Anom menjelaskan, atas tujuan tersebut maka proyek rumah sakit internasional milik pemerintah pusat melalui BUMN, akan dikelola Mayo Clinic sebagai standar acuannya. Proyek KEK Sanur yang dirancang rampung pada penghujung 2023 itu juga diharapkan menjadi pilihan bagi masyarakat luar negeri, sehingga efek medical tourism akan terasa yaitu mereka tak hanya berobat namun juga berwisata.

"Harapan kami dari luar negeri pun bisa berobat ke sini. Dan juga orang-orang dari Singapura dan Malaysia bisa berobat ke sini daripada ke Amerika karena jauhnya jarak, dari Australia pun bisa berobat ke sini," ujarnya.

Anom menyampaikan, rumah sakit internasional yang akan didukung fasilitas pusat pertemuan dengan kapasitas besar di Sanur itu dirancang bagi masyarakat ekonomi kelas atas dengan kemungkinan tidak melayani BPJS Kesehatan dan menjadi tipe B. Di sana, akan terdapat program unggulan, yaitu untuk penyakit kanker dan ginjal, juga tenaga medis unggulan.

Anom mengatakan, belum ada informasi soal tenaga medis, tapi jika pemerintah pusat menggandeng dokter lokal maka dokter RSUP Prof Ngoerah berpotensi. Pemprov Bali sendiri di 2023 hanya bertugas memfasilitasi proyek rumah sakit internasional di KEK Sanur, dan tidak sedang membangun rumah sakit baru, kecuali milik Pemerintah Daerah Badung yaitu di Petang dan Abiasemal.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement