Senin 09 Jan 2023 14:31 WIB

China Deklarasikan Tahapan Baru Pandemi Covid-19

Peraturan ketat China terkait Covid-19 menimbulkan rasa frustasi pada masyarakat.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
 Pekerja yang memakai masker berjalan saat para pelancong menunggu di aula keberangkatan stasiun Lok Ma Chau setelah pembukaan kembali perbatasan penyeberangan dengan China daratan, di Hong Kong, Ahad, 8 Januari 2023. Para pelancong yang melintasi antara Hong Kong dan China daratan, namun, masih diharuskan menunjukkan tes COVID-19 negatif yang dilakukan dalam 48 jam terakhir, tindakan yang diprotes China saat diberlakukan oleh negara lain.
Foto: AP/Bertha Wang
Pekerja yang memakai masker berjalan saat para pelancong menunggu di aula keberangkatan stasiun Lok Ma Chau setelah pembukaan kembali perbatasan penyeberangan dengan China daratan, di Hong Kong, Ahad, 8 Januari 2023. Para pelancong yang melintasi antara Hong Kong dan China daratan, namun, masih diharuskan menunjukkan tes COVID-19 negatif yang dilakukan dalam 48 jam terakhir, tindakan yang diprotes China saat diberlakukan oleh negara lain.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- China bersiap memasuki "tahapan baru" dalam menghadapi pandemi Covid-19. Sementara pasar finansial menguat setelah Beijing mencabut peraturan Covid-19 di perbatasan Ahad (8/1/2023).

Kebijakan di perbatasan merupakan langkah terbaru China dalam meninggalkan kebijakan nol-toleransi Covid-19. Keputusan melonggarkan peraturan dimulai bulan lalu setelah protes terhadap peraturan ketat Covid-19 bergejolak di seluruh negeri.

Baca Juga

Peraturan ketat China menimbulkan rasa frustrasi pada masyarakat dan berdampak negatif pada perekonomian terbesar kedua di dunia itu. Beijing juga menghapus syarat wajib karantina bagi kedatangan dari luar negeri.

Langkah itu diharapkan dapat mendorong sektor pariwisata yang tertekan selama pandemi. Tapi beberapa negara meminta kedatangan dari China menunjukkan bukti negatif Covid-19 setelah wabah virus membuat rumah sakit dan krematorium kewalahan.  

"Hidup kembali bergerak maju!" tulis surat kabar resmi Partai Komunis China, People's Daily di tajuk rencananya, Senin (9/1/2023).

Harian itu memuji kebijakan pandemi pemerintah yang bergerak dari "mencegah penularan" menjadi "mencegah gejala berat". "Hari ini virus lemah, kami lebih kuat."

Kantor berita resmi China, Xinhua mengatakan negara itu memasukan "tahapan baru" dalam menghadapi Covid-19. Xinhua merujuk pada pengalaman pencegahan penularan, pengembangan epidemi dan peningkatan angka vaksinasi.

Media pemerintah dan pejabat kesehatan China berulang kali mengatakan Negeri Tirai Bambu sudah melewati puncak infeksi. Kini mereka mengecilkan ancaman yang dapat ditimbulkan Covid-19.

Sikap ini sangat bertolak belakang dengan peraturan ketat dan karantina wilayah yang diterapkan Pemerintah China sebelumnya. Beijing menganggap virus korona penyakit "Kategori A" seperti wabah pes dan kolera.

Pada Ahad kemarin badan Covid-19 China menurunkan kategori penyakit itu ke "Kategori B" meski banyak peraturan yang dilonggarkan selama beberapa pekan sebelumnya.

Hingga 8 Januari, Pemerintah China melaporkan 5.272 kasus kematian terkait Covid-19. Salah satu negara dengan angka kematian virus korona terendah di dunia.

Namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, China menurunkan skala wabah. Pakar kesehatan internasional juga memprediksi lebih dari satu juta orang di negara itu yang akan meninggal akibat Covid-19 pada tahun ini.

Investor tampaknya mengabaikan prediksi itu dengan bertaruh dibukanya kembali perbatasan China akan membantu membangkitkan perekonomian 17 triliun dolar dan mendongkrak outlook pertumbuhan ekonomi dunia.

Optimisme itu membantu saham Asia ke level tertingginya dalam lima bulan terakhir pada Senin ini. Sementara yuan China menguat ke level terkuatnya terhadap dolar AS sejak pertengahan Agustus.

Indeks blue-chip China naik 0,7 persen sementara Shanghai Composite Index naik 0,5 persen dan Indeks Hang Seng Hong Kong (HSI) naik 1,6 persen."Berakhirnya kebijakan nol-Covid-19 akan berdampak sangat positif pada pengeluaran domestik," kata Group Chief Executive Officer UBS Ralph Hamer.

"Kami yakin terdapat banyak peluang bagi yang berkomitmen untuk berinvestasi di China," tambahnya.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement