Jumat 06 Jan 2023 07:48 WIB

Inflasi Belum Tenang, Fed: Suku Bunga Tinggi Tetap Ada

Suku bunga yang lebih tinggi diperkirakan akan tetap berlaku.

Petugas menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Suku bunga yang lebih tinggi diperkirakan akan tetap berlaku sampai bank sentral AS Federal Reserve (Fed) yakin bahwa lonjakan inflasi berada di jalur menuju stabilitas.
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Petugas menunjukan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing VIP, Jakarta, Selasa (4/10/2022). Suku bunga yang lebih tinggi diperkirakan akan tetap berlaku sampai bank sentral AS Federal Reserve (Fed) yakin bahwa lonjakan inflasi berada di jalur menuju stabilitas.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Suku bunga yang lebih tinggi diperkirakan akan tetap berlaku sampai bank sentral AS Federal Reserve (Fed) yakin bahwa lonjakan inflasi berada di jalur menuju stabilitas. Hal itu disampaikan dalam ringkasan pertemuan Fed yang dirilis pekan ini.

Rangkumannya adalah dari pertemuan Fed pada Desember memperlihatkan kenaikan suku bunga sebesar setengah poin persentase yang mengikuti beberapa kenaikan suku bunga lainnya dari bulan-bulan sebelumnya.

Baca Juga

"Umumnya mengamati bahwa sikap kebijakan restriktif perlu dipertahankan sampai data yang masuk memberikan keyakinan bahwa inflasi berada pada jalur penurunan yang berkelanjutan hingga 2 persen," menurut ringkasan yang dirilis di situs web Fed, Kamis (5/1/2023).

Ringkasan hasil rapat Fed itu menyebutkan, upaya tersebut diperkirakan masih akan memakan waktu. Amerika Serikat mengalami inflasi terburuk dalam 40 tahun. Bank sentral menaikkan suku bunga beberapa kali tahun lalu dalam upaya memenuhi mandat Fed untuk menjaga inflasi ke level sebesar 2 persen.

Sepanjang tahun hingga November, harga grosir AS melonjak menjadi sekitar 12 persen, peningkatan yang tidak terlihat dalam beberapa dekade.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement