Senin 02 Jan 2023 15:00 WIB

Sambut 2023, Apa Upaya Membangun Indonesia Jadi Bangsa Terbaik?

Membangun Indonesia dimulai dari lingkungan yang kecil

Pendakwah Dr KH Shobahussurur Syamsi
Foto: Dokpri
Pendakwah Dr KH Shobahussurur Syamsi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semua orang kini berada di tahun baru 2023. Waktu yang mengurangi usia setiap orang. Juga waktu untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan setahun terakhir. Menghadapi tahun baru ini, apa yang harus dilakukan untuk membangun Indonesia menjadi bangsa terbaik?

Pengkaji Alquran Dr KH Shobahussurur Syamsi menjelaskan, yang harus dilakukan pertama kali adalah muhasabah alias introspeksi diri. “Setiap orang harus mengetahui apa kekurangan dan kelemahan yang ada pada masa lalu. Kemudian melengkapi kekurangan itu dan mengganti kelemahan yang ada dengan kekuatan pada masa yang akan dating,” kata pengurus Yayasan Al-Azhar tersebut, dalam keterangan tertulisnya pada Senin (2/1).

Dia menjelaskan, bangsa terbaik dimulai dari keluarga harmonis. Pasangan suami-istri dan anak keturunan selalu menjadi qurrata a'yun (enak dipandang dan menenteramkan hati). Keluarga yang enak dipandang adalah yang anggotanya memegang teguh rukun iman di dalam hati, mengamalkannya dalam rutinitas, dan menghayatinya setiap saat.

Hati orang beriman selalu mengingat Allah. Amalan orang beriman berupa akhlak mulia. Tutur katanya menyejukkan hati orang lain. Perbuatannya berupa ibadah. Keberadaannya menunjukkan kepribadian luhur. 

Keluarga yang enak dipandang itu mewujudkan tetangga, masyarakat, bangsa, dan negara, yang sejuk menenteramkan hati. “Dari sana kemudian terwujud sebuah ummah (bangsa) yang memiliki ciri-ciri sebagai; ummah wahidah (bangsa yang satu), ummah muslimah (bangsa yang berserah diri), ummah muqtashidah (wasathan/bangsa adil), ummah qaimah (bangsa yang lurus tegak berdiri), dan kemudian menjadi khair ummah (bangsa terbaik),” ujar jebolan Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut.

Ummah wahidah adalah bangsa kuat, tidak terpecah-pecah dan tidak pula bercerai berai, sebagaimana dijelaskan dalam Surah al-Maidah ayat 48, Yunus: 19, Hud: 118, al-Anbiya: 92, dan az-Zukhruf: 33). 

Keragaman, baik dalam internal keluarga maupun lingkungan sekitar, harus diikat dalam kesatuan visi, misi, tujuan, dan cita-cita dalam bingkai kebahagiaan bersama dan kemajuan bersama. “Pemimpin bangsa tidak hanya memajukan satu kelompok, lalu menelantarkan kelompok lain, tapi semuanya dimajukan,” kata dia.

Ummah muslimah (bangsa yang berserah diri) adalah bangsa yang loyal, setia, dan taat kepada Allah, Rasulullah SAW dan para pemimpin (ulul amri), serta aturan-aturan yang disepakati. Sesuai dengan doa Nabi Ibrahim, sesudah membangun Ka'bah, 

رَبَّنَا وَٱجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". (Q.S. al-Baqarah/2: 124).

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement