Sabtu 24 Dec 2022 23:50 WIB

Ciri dan Model Khas Arsitektur Islam

Arsitektur Islam berkembang seiring dengan penyebaran agama Islam

Masjid Al Qubaib di pusat Doha dengan arsitektur Islamnya yang unik menjadi saksi era berdirinya negara itu. Masjid Al Qubaib didirikan oleh Sheikh Jassim bin Mohamed bin Thani, pendiri Qatar.
Foto: Gulf Times
Masjid Al Qubaib di pusat Doha dengan arsitektur Islamnya yang unik menjadi saksi era berdirinya negara itu. Masjid Al Qubaib didirikan oleh Sheikh Jassim bin Mohamed bin Thani, pendiri Qatar.

IHRAM.CO.ID,Setelah Rasulullah SAW wafat, arsitektur Islam berkembang seiring dengan penyebaran agama Islam ke Asia barat, seluruh pantai utara Afrika sampai Spanyol, seluruh Asia tengah, ke sebagian India dan termasuk ke Indonesia.

Arsitektur Islam, menurut banyak pihak, sangat identik dengan arsitektur masjid. Sitilah, jika ingin menyaksikan dan melihat arsitektur Islam, perhatikanlah bentuk masjid. Pernyataan ini cukup beralasan, jika melihat asal-muasal arsitektur Islam yang dilakukan Rasulullah SAW saat membangun Masjid di Madinah.

Baca Juga

Namun demikian, sebenarnya, seiring dengan penyebaran dan perkembangan Islam ke berbagai belahan dunia, arsitektur Islam mulai berasimilasi dengan arsitektur dan kebudayaan lain.

Hingga saat ini, seni dan arsitektur Islam masih bisa dijumpai di berbagai tempat, bangunan dan negara. Dari sekian banyak model arsitektur Islam yang berkembang dari Timur Tengah (Arab Saudi), hingga Eropa, Asia dan Amerika, terdapat beberapa ciri khusus yang memiliki kemiripan atau kesamaan bentuk. Diantaranya :

Mihrab Masjid

Mihrab adalah bagian penting yang selalu hadir dalam arsitektur sebuah masjid. Sebab, mihrab merupakan tempat tempat imam memimpin shalat. Merriam Webster mendefinisikan mihrab sebagai sebuah tempat yang menjorok ke dalam atau ruangan di dalam masjid yang menjadi penanda arab kiblat. Tak hanya sebagai penanda arah kiblat, mihrab juga berfungsi sebagai tempat imam memimpin shalat. Secara harfiah, menurut Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve (IBVH), kata mihrab berarti gedung yang tinggi. Sebagian ulama berpendapat mihrab sebagai tempat memerangi setan dan hawa nafsu. Menurut mereka, mihrab berakar dari kata al-hurba yang berarti peperangan.

Mihrab pertama kali mewarnai khazanah arsitektur masjid mulai tahun 88 Hijriyah atau 708 Masehi. Kali pertama, mihrab dibuat di dalam Masjid Nabawi oleh Umar bin Abdul Aziz, saat menjabat Gubernur Madinah Munawarrah, pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik.

Kubah

Hal terpenting lainnya dari sebuah arsitektur Islam adalah kubah. Umumnya, kubah menjadi ciri khas sebuah tempat ibadah seperti masjid dan mushola. Kubah umumnya berbentuk bundar dengan sedikit menjorok keatas. Dan pada bagian atasnya dibuat sedikit meruncing.

Dan kini, bentuk kubah tidak lagi hanya dipakai sebagai tempat memperindah tempat ibadah. Di beberapa negara, banyak bangunan yang mengadopsi bentuk kubah untuk sebuah bangunan. Di Malaysia, kantor lembaga peradilannya (palace of justice) juga memanfaatkan bentuk kubah untuk ornamen bangunannya. Begitu juga dengan kantor Mahkamah Konstitusi (MK) RI.

Mimbar

Selain mihrab, hal pokok lain yang tak kalah pentingnya dari sebuah arsitektur Islam adalah mimbar. Mimbar adalah tempat seorang khatib untuk menyampaikan khutbah. Mimbar ini sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW ketika pertama kali beliau membangun masjid di Madinah. Bentuknya, ketika itu sangat sederhana. Hanya terbuat dari tumpukan batu bata dan kayu dari pelepah kurma. Posisinya dibuat lebih tinggi dari jamaah. Dengan posisi ini, maka Rasulullah bisa memandang seluruh jamaah.

Dalam perkembangannya, kini mimbar dibuat beraneka ragam bentuk sesuai dengan seni dan arsitektur daerah. Ada yang dibuat bertingkat tiga, empat dan lima. Namun ada pula yang hanya bertingkat satu, dan pada bagian depannya dibuat tertutup. Sekarang ini, model ini dikenal dengan istilah podium.

Gapura

Gapura juga menjadi bagi penting dalam perjalanan arsitektur Islam. Ketika Rasulullah membangun Masjid, beliau membuat sebuah pintu masuk. Model ini kemudian dikenal dengan gapura. Belakang, gapura banyak dikembangkan dan digunakan dihampir semua bangunan. Sesuai fungsinya, gapura dipergunakan untuk pintu masuk. Kini, gapura dibuat dengan ornamen yang makin menarik dan cantik.

Dinding

Seperti sudah memperhitungkan akan kenyamanan orang yang berada didalam sebuah bangunan, saat membangun Masjid Quba, Rasulullah SAW sudah membangun dinding dengan menyediakan sedikit ruang bagi sirkulasi udara dan cahaya. Dinding-dinding masjid, dibangun dengan memakai batu bata. Namun beliau masih menyisakan sebagiannya untuk cahaya dan udara. Di antara dinding tersebut, dibuat ruang sirkulasi udara, dan cahaya, seperti kaca dan jendela.

 

sumber : Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement