Wednesday, 17 Rajab 1444 / 08 February 2023

Ambisi RI Jadi Produsen Besar Baterai Kendaraan Listrik tak Bisa Cuma Bermodal Nikel

Jumat 09 Dec 2022 16:02 WIB

Red: Andri Saubani

Seorang karyawan berjalan di areal pabrik salah satu perusahaan smelter nikel di Kecamatan Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara, Sabtu (26/11/2022). Indonesia berambisi menjadi produsen besar baterai kendaraan listrik pada masa depan dengan modal utama cadangan nikel yang melimpah di Tanah Air. (ilustrasi)

Seorang karyawan berjalan di areal pabrik salah satu perusahaan smelter nikel di Kecamatan Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara, Sabtu (26/11/2022). Indonesia berambisi menjadi produsen besar baterai kendaraan listrik pada masa depan dengan modal utama cadangan nikel yang melimpah di Tanah Air. (ilustrasi)

Foto: ANTARA FOTO/Jojon
Dalam memproduksi baterai kendaraan listrik dibutuhkan juga logam seperti lithium.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Wahyu Suryana, Intan Pratiwi, Dessy Suciati Saputri, Retno Wulandari

Pemerintah berambisi membangun pabrik baterai lithium dan menjadi produsen besar untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Hal ini didasari posisi Indonesia sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia.

Baca Juga

Namun, anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKB, Syaikhul Islam mengaku pesimistis akan ambisi Indonesia di sektor industri baterai. Salah satu alasan utamanya adalah Indonesia tidak memiliki lithium yang merupakan komponen utama selain nikel dalam memproduksi baterai.

"Toh kalau kita mau jadi produsen besar itu tetap saja lithiumnya impor. Semakin besar produksinya, semakin besar impornya. Kita tidak mengendorkan semangat kita untuk jadi pionir, cuma realitanya begitu," kata Syaikhul, Jumat (9/12/2022).

Selama ini, Indonesia memang belum tampak menarik perusahaan besar dunia. Misalnya, perusahaan Hyundai dan SK On, baru-baru ini berencana mendirikan pabrik di Georgia. Lalu, Volkswagen lebih memilih Kanada untuk mendirikan pabrik baterai mobil listrik.

Sebelumnya, pemerintah telah mengakui Indonesia harus mengimpor jenis logam lain dalam upaya memproduksi bateri kendaraan listrik. Meski pembangunan pabrik baterai telah dimulai oleh Indonesian Battery Coorporation (IBC), saat ini Indonesia diketahui hanya memiliki sumber daya nikel.

 

 

 

Direktur Hubungan Kelembagaan Mind ID Dany Amrul Ichdan menjelaskan dalam membuat baterai kendaraan listrik, komposisi utamannya adalah nikel. Komposisi nikel dalam pembentukan baterai untuk kendaraan listrik ini mendominasi 80 persen.

"Tapi sisanya 20 persen, seperti logam logam lain ini kami memang tidak ada dan masih harus impor," ujar Dany dalam dapat di Komisi VII DPR RI, belum lama ini.

Dany menjelaskan logam lain yang dibutuhkan Lithium Hydroxide. Jenis bahan baku ini hanya diproduksi China, Chile dan Australia. Sedangkan, nantinya IBC membutuhkan 70 ributon per tahun untuk bahan baku lithium.

Sedangkan bahan baku lainnya, mangan, sulfat dan cobalt setahun IBC akan membutuhkan 12 ributon. Indonesia maish tak punya bahan baku ini dan hanya diproduksi oleh negara lain.

Selain itu, Indonesia membutuhkan grafit dengan total kebutuhan 44 ributon per tahun. Sayangnya, Indonesia juga masih harus bergantung bahan baku ini dari China dan Brazil.

Menurut Dany, IBC memitigasi hal ini dengan melakukan rencana jangka panjang agar tak melulu impor. Dany membuka opsi Indonesia bisa mengambil tambang lithium dari luar negeri.

"Indonesia Battery Corporation (IBC) sedang menyusun roadmap, paling tidak ketergantungan impor bisa kita kurangi dan juga kita bisa melihat masa depan IBC sebagai investment company," ujar Dany.

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA