Saturday, 13 Rajab 1444 / 04 February 2023

Lalu Lintas Luar Angkasa Kini Semakin Padat, Siapa yang Harus Mengatur?

Kamis 08 Dec 2022 23:59 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Dwi Murdaningsih

Roket SpaceX Falcon 9 lepas landas dari Pad 39A di Kennedy Space Center, di Port Canaveral, Florida, Selasa malam, 9 Agustus 2022. Roket itu membawa 52 satelit Starlink.

Roket SpaceX Falcon 9 lepas landas dari Pad 39A di Kennedy Space Center, di Port Canaveral, Florida, Selasa malam, 9 Agustus 2022. Roket itu membawa 52 satelit Starlink.

Foto: Craig Bailey/Florida Today via AP
Ruang angkasa kini penuh sesak oleh satelit di orbit rendah Bumi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Serangkaian aturan internasional diperlukan untuk mengatasi masalah lalu lintas luar angkasa yang semakin padat. Menurut Wakil Asisten sekretaris di Departemen Pertahanan AS, John Hill, lalu lintas antariksa adalah masalah internasional yang memerlukan perhatian.

“Ini adalah isu internasional dan global yang penting,” kata John Hill dilansir dari The National News, Rabu (7/12/2022).

Baca Juga

Perusahaan dirgantara seperti SpaceX meluncurkan mega konstelasi satelit Starlink. Hal inimenyebabkan kekhawatiran para ahli atas orbit Bumi yang padat. Kekhawatiran ini disampaikan Hill saat berbicara pada hari terakhir konferensi yang membahas tren yang muncul dalam geopolitik ruang angkasa.

“Salah satu panel di sini di Space Debate membahas pertanyaan tentang keberlanjutan ruang angkasa, dan bagaimana Anda mengoordinasikan lalu lintas ruang angkasa secara global? Tidak ada aturan global di sana. Jadi, ini benar-benar pertanyaan tentang operator ruang angkasa,” ungkap Hill.

 

Kesepakatan seperti Perjanjian Luar Angkasa PBB dan Kesepakatan Artemis yang dipimpin AS saat ini mempromosikan penggunaan ruang angkasa dan sumber dayanya secara damai dan bertanggung jawab. Namun, tidak ada yang membahas masalah lalu lintas ruang angkasa secara khusus.

Ruang angkasa penuh sesak

Perusahaan SpaceX milik Elon Musk telah meluncurkan lebih dari 2.300 satelit Starlink ke luar angkasa. Ini belum selesai. SpaceX masih akan meluncurkan banyak satelit di masa yang akan datang. Perusahaan berencana untuk mengoperasikan sekitar 30 ribu satelit, yang bertujuan untuk menyediakan konektivitas internet global.

Regulator AS pada Senin (5/12/2022) memberi SpaceX lampu hijau untuk meluncurkan 7.500 Starlink lagi.

Perusahaan Inggris OneWeb juga berencana untuk meluncurkan konstelasi besar yang akan membuat internet tersedia di belahan dunia yang terpencil. China juga mengumumkan proposal untuk konstelasi internet satelit orbit rendah Bumi.

Orbit Bumi rendah yang padat dapat meningkatkan bahaya tabrakan, terutama untuk pesawat ruang angkasa yang mungkin menemukan puing-puing di ketinggian yang lebih tinggi.

Pada 25 Oktober 2022, pendorong Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) ditembakkan untuk menghindari puing-puing yang ditinggalkan oleh satelit yang dihancurkan oleh uji anti-satelit Rusia. Tes yang menggunakan teknologi tingkat militer untuk menghancurkan pesawat luar angkasa itu menciptakan ribuan pecahan puing.

Konferensi di Abu Dhabi juga membahas perlunya peraturan karena perusahaan semakin ingin mengkomersialkan ruang angkasa. Hill mengatakan kebijakan luar angkasa AS, sebuah dokumen yang tersedia online, berfokus pada kemitraan industri swasta.

“Dulu pemerintah adalah pemain utama di ruang angkasa, dan apakah itu eksplorasi atau keamanan nasional, itulah yang mendorong inovasi dan sebagian besar pasar,” katanya.

Sedangkan saat ini kata dia, lebih didorong oleh komersial. Keberlanjutan ruang angkasa penting bagi semua operator ruang angkasa, operator sipil, komersial, dan militer.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA