Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

Jaga Kesehatan Tulang Sejak Dini Dinilai Cegah Penyakit Kronis Jangka Panjang

Kamis 08 Dec 2022 18:48 WIB

Red: Agung Sasongko

acara Health Talk Sayangi Tulang dan Sendimu, Kamis (8/12/2022).

acara Health Talk Sayangi Tulang dan Sendimu, Kamis (8/12/2022).

Foto: iatimewa
Penting untuk sering berolahraga dan menjaga nutrisi yang baik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjaga kesehatan tulang sejak dini dinilai dapat mencegah penyakit kronis jangka panjang, bahkan sampai masa penuaan terjadi. Hal itu diungkap Dr Lim Sze Wei, Konsultan Bedah Ortopedi, Tulang Belakang dan Trauma dan Dato Badrul Shah Badaruddin, Konsultan Bedah Ortopedi, Artroplasti & Olahraga dalam acara Health Talk "Sayangi Tulang dan Sendimu," Kamis (8/12/2022).

Kedua Konsultan Ortopedi tersebut juga mendorong lebih banyak orang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan tulang yang memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal kondisi seperti radang sendi dan osteoporosis. Mereka lebih lanjut menganjurkan agar penderita nyeri baik di tulang belakang maupun persendian segera menemui dokter spesialis ortopedi untuk mencegah nyeri lebih lanjut dan efek jangka panjang yang mungkin menimpa mereka di usia tua. 

Baca Juga

“Untuk memastikan kesehatan tulang yang baik, penting untuk sering berolahraga dan menjaga nutrisi yang baik. Tanpa ini, sendi dan tulang belakang kita yang merupakan struktur penting dari tubuh kita, bisa terpengaruh," kata Dato Badrul Shah Badaruddin, Konsultan Bedah Ortopedi, Artroplasti & Olahraga.

Sepanjang tahun 2022, ALTY Orthopaedic Hospital terus berusaha meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan tulang melalui serangkaian kegiatan di Malaysia dan Indonesia, termasuk pemeriksaan postur tubuh di berbagai negara, bincang kesehatan, dan inisiatif keterlibatan publik.

Terletak di sepanjang Jalan Ampang di jantung Kuala Lumpur, ALTY yang merupakan singkatan dari 'Adding Life to Years', memiliki tim medis yang kuat, terdiri dari hampir 150 personil yang menyediakan perawatan ortopedi dan terfokus pada tulang dan sendi, termasuk delapan ahli bedah (founding doctor) yang berdedikasi untuk memberikan perhatian dan perawatan yang tepat kepada setiap pasien.

ALTY Orthopaedic Hospital akan memiliki kapasitas penuh 44 tempat tidur, termasuk 5 HDU (High Dependency Unit) dan 1 ICU (Intensive Care Unit). Perawatan dan terapi khusus yang ditawarkan oleh tim yang sangat berpengalaman di ALTY antara lain Endoscopic Spine Surgery, Robotic-Assisted Orthopaedic Surgeries, Sports Surgery, operasi penggantian lutut total, serta penggantian panggul total.

Menjadi rumah sakit spesialistik ortopedi yang pertama, ALTY disebut menekankan pentingnya diagnosis dalam memastikan bahwa pasien menerima perawatan dan terapi paling efektif yang sesuai dengan kondisi mereka. Rumah sakit secara resmi dibuka pada bulan Juli dan sudah mampu melayani pasien dari luar negeri dengan sangat baik.

ALTY mengklaim menjadi pionir dan pertama kali yang memiliki sistem pencitraan canggih (imaging system), yaitu ESAOTE tilting MRI, dimana pasien diposisikan terlentang (berbaring) atau menahan beban (berdiri), dan dapat berputar dari 0 hingga hampir 90 derajat. Alat ini disebut membantu dokter untuk menganalisis keluhan/gejala dengan akurat, dan menghasilkan penanganan yang tepat dan maksimal. 

Alat mutakhir lainnya yang tersedia di ALTY adalah EOS Imaging System (2D dan 3D X-Ray), yang memiliki paparan radiasi 50% hingga 85% lebih rendah dibandingkan dengan sistem sinar-X yang biasa digunakan. EOS diklaim dapat menangkap gambaran seluruh tubuh untuk menghasilkan diagnosis yang lebih akurat, dan membantu dokter untuk memantau setiap perbaikan kondisi pasien. Selain itu radiasi yang rendah juga diyakini lebih aman untuk anak-anak yang mengalami gangguan tulang belakang seperti skoliosis yang membutuhkan serangkaian pemeriksaan diagnostik x-ray. 

ALTY juga menggunakan CIOS Spin dari Siemens yang disebut menawarkan kontrol kualitas intraoperatif yang tepat berdasarkan teknologi 3D khusus, menawarkan metode radiasi dosis rendah, non-invasif yang cepat. Selain teknologi pencitraan canggih, tim medis di ALTY yang berpengalaman dan terampil, diklaim menerapkan protokol Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) yang memperhatikan detail proses dari sebelum, selama, hingga setelah operasi.

Prosedur ini diyakini dapat secara efektif mempersingkat lama rawat inap, sehingga pemulihan pun lebih cepat, sekaligus meningkatkan hasil klinis dan pengalaman pasien secara keseluruhan. Pasien yang menjalani operasi pada persendian, lutut, atau pinggul disebut dapat pulang dari rumah sakit dalam waktu tiga sampai lima hari, dan rata-rata enam hari setelah operasi skoliosis. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA