Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Jelang Natal dan Tahun Baru, Kemenkes Amati Subvarian Omicron BN.1

Kamis 08 Dec 2022 17:30 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Andi Nur Aminah

Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Siti Nadia Tarmizi

Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Siti Nadia Tarmizi

Foto: Dok Kemenkes
Subvarian BN.1 telah menjadi pembicaraan dalam beberapa hari terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mutasi virus corona penyebab Covid-19 terus berlangsung. Belum selesai subvarian XBB yang disebut menular cepat, kini muncul lagi subvarian Omicron BN.1. Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2023, Kementerian Kesehatan RI sedang mengamati pola subvarian omicron terbaru bernama BN.1. 

Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi di Jakarta, Kamis (8/12/2022). "Menteri Kesehatan selalu bilang, bahwa yang menyebabkan terjadinya peningkatan kasus adalah varian baru. Kita ketahui, kita sudah melewati gelombang XBB dan BQ.1, tapi kami (Kemenkes RI) perhatikan, ada subvarian baru BN.1," kata Nadia.

Baca Juga

Subvarian BN.1 telah menjadi pembicaraan dalam beberapa hari terakhir. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) juga terus mengantisipasi kemunculan subvarian baru dari Covid-19 Omicron tersebut karena menyumbang empat persen kasus infeksi di negara tersebut. Selain Amerika Serikat, Omicron BN.1 juga terdeteksi di lebih 30 negara lainnya, termasuk Australia, Inggris, India, hingga Austria.

"Kami sedang monitor varian baru yang sekarang ini, termasuk BN.1, sebab di beberapa negara juga sudah dilaporkan, tapi dia belum mengalami tren peningkatan kasus," ujar Nadia.

Pada umumnya varian baru akan bertahan rata-rata selama tiga bulan. Ketika sudah melalui masa puncak, maka kasus akan melandai.

Adapun upaya yang dilakukan untuk pencegahan adalah meningkatkan upaya survailens untuk melacak kasus BN.1 melalui pemeriksaan genomik dari pasien yang terpapar SARS-CoV-2 untuk melihat pola spesifik dari varian baru tersebut. Namun, Nadia belum mengetahui secara rinci berapa jumlah kasus subvarian BN.1 yang sudah masuk di Indonesia.

"Untuk jumlah kasus BN.1 saya masih belum tahun persisnya berapa kasus di Indonesia. Tapi yang pasti, kasus itu sudah ditemukan di Indonesia," katanya.

Sekedar informasi, untuk gejala Covid-19 subvarian BN.1 sebenarnya tak berbeda dengan yang disebabkan oleh subvarian omicron lainnya. Artinya, subvarian ini umumnya memicu gejala ringan-sedang.

Beberapa gejala yang bisa dialami pasien saat terpapar subvarian ini adalah sakit tenggorokan, batuk, kelelahan, pilek, akit kepala kemudian nyeri otot. Adapun gejala yang biasa dialami adalah seperti flu demam, mulai dari hidung tersumbat hingga pilek.

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA