Wednesday, 10 Rajab 1444 / 01 February 2023

Inggris Setuju Pembukaan Tambang Batu Bara Pertama

Kamis 08 Dec 2022 12:58 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha

Tumpukan batu bara digambarkan di pembangkit listrik tenaga batu bara Selasa, 29 November 2022 di Saint-Avold, Prancis timur. Inggris menyetujui tambang batu bara baru pertama dalam beberapa dekade pada Rabu (7/12/2022).

Tumpukan batu bara digambarkan di pembangkit listrik tenaga batu bara Selasa, 29 November 2022 di Saint-Avold, Prancis timur. Inggris menyetujui tambang batu bara baru pertama dalam beberapa dekade pada Rabu (7/12/2022).

Foto: AP Photo/Jean-Francois Badias
Tambang ini diusulkan untuk dioperasikan selama 50 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Inggris menyetujui tambang batu bara baru pertama dalam beberapa dekade pada Rabu (7/12/2022). Pembukaan ini untuk menghasilkan bahan bakar untuk digunakan dalam pembuatan baja dan langsung menuai kritik dari lawan.

"Batu bara ini akan digunakan untuk produksi baja dan jika tidak perlu diimpor. Itu tidak akan digunakan untuk pembangkit listrik," kata juru bicara Departemen Peningkatan, Perumahan, dan Masyarakat setelah menteri Michael Gove memberikan izin.

Baca Juga

The Woodhouse Colliery yang akan dikembangkan oleh West Cumbria Mining di barat laut Inggris berupaya mengekstrak batu bara yang digunakan dalam industri baja daripada untuk pembangkit listrik. Diperkirakan pembukaan ini akan menciptakan sekitar 500 pekerjaan.

"Tambang berusaha untuk menjadi nol bersih dalam operasinya dan diharapkan dapat berkontribusi pada lapangan kerja lokal dan ekonomi yang lebih luas," ujar juru bicara tersebut.

 

Tambang batu bara berukuran sekitar 60 lapangan sepak bola itu akan memakan waktu dua tahun untuk dibangun dengan biaya yang diperkirakan pada 2019 sebesar 165 juta poundsterling. Tambang ini diusulkan untuk dioperasikan selama 50 tahun.

Fasilitas ini akan memasok pembuat baja di Inggris dan Eropa Barat dan mencapai produksi puncak setelah lima tahun. Lebih dari 80 persen pekerjaannya diharapkan bekerja di bawah tanah dalam produksi batubara.

Proyek yang diresmikan pada 2014 ini telah mendapat kecaman dari panel penasihat iklim independen pemerintah Inggris serta partai oposisi, aktivis dan organisasi iklim, termasuk Greta Thunberg dan Greenpeace. 

Sebagian besar batu bara yang dihasilkan diharapkan akan diekspor ke Eropa. Dokumen perencanaan menunjukkan, bahwa lebih dari 80 persen batu bara yang akan dihasilkan tambang setiap tahunnya diperkirakan, setelah lima tahun, dikirim ke terminal ekspor di pantai timur Inggris.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA