Tuesday, 9 Rajab 1444 / 31 January 2023

Stres Selama Pandemi Covid-19 Percepat Penuaan Otak pada Remaja

Rabu 07 Dec 2022 20:35 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Nora Azizah

Pandemi Covid-19 sangat berdampak buruk terhadap kesehatan mental anak muda.

Pandemi Covid-19 sangat berdampak buruk terhadap kesehatan mental anak muda.

Foto: Freepik
Pandemi Covid-19 sangat berdampak buruk terhadap kesehatan mental anak muda.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Merasakan stres saat masa lockdown pandemi Covid-19, ditemukan telah mempercepat penuaan pada otak remaja. Efeknya mirip dengan yang diamati sebelumnya sebagai akibat dari kekerasan, penelantaran, dan disfungsi keluarga.

Sebuah studi baru-baru ini oleh para peneliti dari Stanford University dan University of California, San Francisco, menyimpulkan bahwa pandemi mempercepat penipisan korteks dan peningkatan ukuran hippocampus pada bagian amigdala otak.

Baca Juga

"Kami sudah tahu dari penelitian global bahwa pandemi berdampak buruk pada kesehatan mental di masa muda, tetapi kami tidak tahu apa, jika ada, pengaruhnya secara fisik pada otak mereka," kata psikolog Ian Gotlib, Direktur Stanford Neurodevelopment, Affect, dan Laboratorium Psikopatologi (SNAP) di California, seperti dikutip dari Science Alert, Rabu (7/12/2022).

Tim mengamati pemindaian otak magnetic resonance imaging (MRI) dari 81 anak yang diambil sebelum pandemi (antara November 2016 dan November 2019), dan 82 anak yang diambil selama pandemi (antara Oktober 2020 dan Maret 2022). Lalu setelah pembatasan lockdown mereda (musim semi 2020, di California).

Selanjutnya, para peneliti mencocokkan anak-anak dari kedua kelompok dengan menggunakan faktor termasuk jenis kelamin, usia, status pubertas, etnis, stres kehidupan awal. Kemudian soal latar belakang sosial ekonomi, untuk memberi mereka banyak poin perbandingan.

Hasil pemindaian menunjukkan bahwa proses penuaan otak tampaknya dipercepat pada kelompok pasca-pandemi. Periode lockdown kurang dari setahun telah menghasilkan penuaan otak yang setara dengan tiga tahun pada seleksi kedua anak muda.

Kesehatan mental yang lebih buruk juga terlihat pada kelompok pasca-pandemi, meski tidak jelas itu terkait langsung dengan usia otak. Hal yang tidak dapat diungkap oleh penelitian ini adalah apakah perubahan ini akan permanen, atau ada masalah kesehatan mental lebih lanjut yang muncul dari perubahan yang dipercepat pada struktur otak utama ini.

"Akankah usia kronologis pada akhirnya mengejar 'usia otak' mereka?," tanya Gotlib. 

Jika otak mereka secara permanen lebih tua dari usia kronologisnya, belum jelas apa dampaknya di masa depan. Untuk yang berusia 70 atau 80 tahun, kemungkinan ada beberapa masalah kognitif dan ingatan berdasarkan perubahan di otak. Namun bagi anak berusia 16 tahun, belum jelas dampak dari otak mereka yang menua sebelum waktunya.

Maka diperlukan penelitian lebih lanjut. Tim berencana terus melacak kelompok orang yang sama seiring bertambahnya usia. Selain itu, mencari perubahan lebih lanjut dalam struktur otak dan komplikasi kesehatan mental yang mungkin berkembang.

Semua anak muda telah direkrut untuk studi tentang depresi selama masa pubertas. Namun, munculnya wabah Covid-19 dan jeda yang diperlukan dalam studi selama lockdown, mengarahkan penelitian ke arah yang berbeda.

Temuan ini dapat menunjukkan kebutuhan untuk mengoreksi studi otak lain yang harus mempertimbangkan percepatan penuaan neurologis ini. Anak-anak yang telah hidup melalui pandemi tidak harus berada dalam kondisi neurologis yang sama dengan anak-anak yang sebelum mereka. Meskipun hal itu tentu saja bukan pilihan.

“Pandemi adalah fenomena global, tidak ada orang yang tidak mengalaminya. Tidak ada kelompok kontrol nyata,” kata Gotlib.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA