Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Respons Ancaman China, AS Tingkatkan Kehadiran Militer di Australia

Rabu 07 Dec 2022 17:15 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani

Menteri Pertahanan A.S. Lloyd J. Austin III mengatakan Amerika Serikat (AS) akan meningkatkan kehadiran rotasi pasukan darat, laut, dan udara di Australia

Menteri Pertahanan A.S. Lloyd J. Austin III mengatakan Amerika Serikat (AS) akan meningkatkan kehadiran rotasi pasukan darat, laut, dan udara di Australia

Foto: Andrew Vaughan/The Canadian Press via AP
AS akan meningkatkan kehadiran rotasi pasukan darat, laut, dan udara di Australia

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) akan meningkatkan kehadiran rotasi pasukan darat, laut, dan udara di Australia. Washington pun bakal mengerahkan pesawat pengebom dan jet tempur ke Negeri Kanguru. Langkah itu diambil di tengah kekhawatiran AS tentang potensi ancaman China di kawasan.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengungkapkan, negaranya dan Australia setuju untuk mengundang Jepang bergabung dalam inisiatif postur kekuatan di Negeri Kanguru. “AS dan Australia berbagi visi tentang kawasan di mana negara-negara dapat menentukan masa depan mereka sendiri,” kata Austin dalam konferensi pers seusai menghadiri The Australia-United States Ministerial Consultation, Selasa (6/12/2022).

Baca Juga

Namun Austin menilai, visi yang disinggungnya kini mendapat tantangan dari China. “Tindakan berbahaya dan koersif China di seluruh Indo-Pasifik, termasuk di sekitar Taiwan, dan terhadap negara-negara Kepulauan Pasifik serta di Laut China Timur dan Selatan, mengancam perdamaian serta stabilitas kawasan,” ujarnya.

Dia tak mengungkap kapan akan ada peningkatan rotasi pasukan di Australia. Austin pun belum menyinggung berapa banyak pasukan, kapal perang, dan pesawat tempur yang bakal dilibatkan dalam inisiatif postur keamanan tersebut.

Sementara itu Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengatakan, perjanjian yang dijalin negaranya dengan AS akan menghasilkan peningkatan aktivitas antara kedua negara di semua domain, termasuk dalam hal kerja sama postur keamanan.

“Sangat penting kami melakukan ini dari sudut pandang memberikan keseimbangan di kawasan kami dan melibatkan negara lain di kawasan kami,” ucapnya.

Dia pun menyampaikan, AS dan Australia telah mengambil langkah-langkah untuk menciptakan basis industri pertahanan yang lebih mulus. Menurut Marles, Australia dan AS mereka juga perlu bekerja sama lebih erat guna meningkatkan kemampuan militer mereka dan mengembangkan teknologi baru.

Marles mengungkapkan, dia dan Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong berencana bertolak ke Tokyo, Jepang, pekan ini. Mereka akan mengadakan pertemuan 2+2 dengan menteri pertahanan dan menteri luar negeri Negeri Sakura. “Dengan undangan bagi Jepang untuk berpartisipasi dalam lebih banyak latihan dengan Australia dan AS,” ujarnya.

China adalah mitra dagang terbesar Australia. Negeri Tirai Bambu merupakan pasar teratas untuk ekspor bijih besi Canberra. Namun Australia memiliki kekhawatiran yang terus beranjak terkait ambisi militer China di kawasan Indo-Pasifik, terutama setelah Beijing mencapai pakta keamanan dengan Kepulauan Solomon.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Presiden China Xi Jinping sempat melakukan pertemuan bilateral di sela-sela KTT G20 di Bali, 15 November lalu. Pertemuan mereka dipandang sebagai langkah menuju normalisasi hubungan. Namun diplomat-diplomat Australia mengatakan hal itu tidak akan membawa perubahan dalam kebijakan pertahanan Canberra.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA