Saturday, 6 Rajab 1444 / 28 January 2023

Jerman Catat 120 Serangan Islamofobia dalam Tiga Bulan

Rabu 07 Dec 2022 15:55 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Ani Nursalikah

Muslim Jerman (ilustrasi). Jerman Catat 120 Serangan Islamofobia dalam Tiga Bulan

Muslim Jerman (ilustrasi). Jerman Catat 120 Serangan Islamofobia dalam Tiga Bulan

Foto: weaselzippers.us
Kasus ini bahkan menyebabkan sepuluh orang terluka dan beberapa masjid rusak.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Jerman telah melaporkan 120 kejahatan anti-Muslim pada kuartal ketiga tahun 2022. Kasus-kasus ini bahkan menyebabkan sepuluh orang terluka dan beberapa masjid rusak.

Dilansir dari TRT World, Selasa (6/12/2022), menurut tanggapan pemerintah atas pertanyaan dari partai sayap kiri di parlemen federal Jerman (Bundestag), jumlah pelanggaran pada kuartal pertama masing-masing adalah 83 dan 69 pada kuartal kedua.

Baca Juga

Menurut pemerintah federal, tidak ada tersangka yang ditangkap sehubungan dengan serangan Islamofobia pada kuartal ketiga. Jaksa Agung di Mahkamah Agung Federal juga memastikan belum memulai atau memulai proses pendahuluan untuk mengusutnya.

Tercatat, sebelas serangan seperti itu ditargetkan terhadap masjid. Hal ini termasuk melukai tubuh, menghina, menghasut kebencian, vandalisme atau penggunaan simbol terlarang adalah bentuk lain dari kejahatan terhadap umat Islam.

Menjadi norma

Dalam sekitar satu dekade terakhir, kekerasan anti-Muslim di Jerman menjadi kenyataan yang dinormalisasi karena apa yang dulu dilihat sebagai elemen sayap kanan. Mereka telah mencapai perwakilan politik dengan beberapa pemilihan neo-Nazi yang menang dan memasuki parlemen Jerman.

Misalnya, dalam pemilihan parlemen 2013, partai Alternatif untuk Jerman (AfD) hanya memperoleh lebih dari 800 ribu suara dan tidak masuk ke parlemen federal Jerman di Bundestag. Maju cepat empat tahun, partai membuat terobosan besar dan memperoleh lebih dari 5,3 juta suara karena akhirnya menjadi partai oposisi terbesar di parlemen.

Karena fitnah minoritas dimungkinkan oleh politikus sayap kanan, hal itu mengakibatkan meningkatnya kejahatan rasial terhadap Muslim. Serangan teror Hanau adalah salah satu manifestasi buruk dari sikap buruk tersebut.

Pada Februari 2020, seorang teroris sayap kanan mendatangkan malapetaka di dua lokasi di Hanau menewaskan sembilan orang, termasuk empat warga Jerman asal Turki. Penyerang berusia 43 tahun, Tobias Rathjen, kemudian bunuh diri, juga ibunya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA