Wednesday, 10 Rajab 1444 / 01 February 2023

KLB Dinilai Tentukan Revolusi Sepak Bola Indonesia

Rabu 07 Dec 2022 13:29 WIB

Red: Muhammad Hafil

Logo PSSI

Logo PSSI

Foto: duniaku.net
Harus ada pembenahan di tubuh PSSI.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari menilai sudah saatnya Indonesia melakukan revolusi sepak bola nasional agar mampu menorehkan prestasi di kancah global.

Menurut Qodari, jika sepak bola tanah air ingin tampil di Piala Dunia dan bersaing dengan negara-negara maju lainnya, maka paling tidak harus memenuhi dua aspek penting. Pertama, pemain Indonesia harus bermain di liga utama Eropa, seperti Liga Inggris, Spanyol, dan lainnya.

Baca Juga

"Untuk mendukung aspek pertama ini, PSSI bisa mengikuti 'jejak' Jepang atau negara Asia lainnya yang berlaga di Piala Dunia. Jepang berhasil mengalahkan Jerman pada babak kualifikasi Piala Dunia kali ini. Hal itu karena banyak pemain Timnas Jepang yang bermain di liga utama Eropa," kata Qodari melalui video singkat yang viral di media sosial, dikutip Rabu (7/12/2022). 

“Kalau Indonesia mau tampil di Piala Dunia, bukan saja sekedar jadi penggembira, bisa menang dan bisa mendominasi tim-tim yang sudah mapan di kancah internasional, syaratnya pemain dalam negeri, tapi klubnya yang top sehingga bisa menjadi juara di level Asia (Champions Asia),” tambahnya. 

Qodari yang juga bagian dari masyarakat pecinta sepak bola nasional merasa prihatin dengan nasib sepak bola Indonesia yang seolah tidak sebaik di negara-negara Asia lainnya.

“Pemain Indonesia harus merumput di liga top Eropa dan liga top Asia. Profesionalitas dan kualitas permainan liga terbaik dapat meningkatkan kemampuan pemain, mental dan juga pengalaman seperti dilakukan Jepang, Korsel, Iran dan Australia,” ujar Qodari.

Aspek kedua, lanjut Qodari, harus melakukan pembenahan liga di Indonesia. Selain bermain di klub top Eropa, liga-liga top Asia juga bisa menjadi jembatan yang bagus buat pemain Timnas Indonesia untuk meningkatkan kualitas main mereka. 

“Jika tidak berkarir di Eropa, minimal memiliki liga lokal yang berkualitas, hingga bisa jadi juara di Asia,” ucapnya.

Lanjut Qodari, prestasi Saudi Arabia, Jepang, Korsel, Iran hingga Australia di Piala Dunia Qatar bisa menjadi pelecut semangat buat PSSI dalam membenahi sepak bola Indonesia.  

“Jadi kalau belajar dari wakil Asia di Piala Dunia Qatar. Kita harus perbaiki turnamen liga dan klub sepak bola yang berkualitas, mengirimkan pemain lokal untuk berkarir di liga top Eropa,” pungkasnya. 

Merespon gagasan Qodari soal pentingnya melakukan revolusi sepak bola Indonesia, mantan anggota Exco PSSI, Djamal Aziz sepakat untuk dilakukan pembenahan dalam tubuh manajemen federasi sepak bola Indonesia (PSSI).

Hal itu terutama usai terjadi kejadian nahas dalam sepak bola Indonesia, yakni tragedi Kanjuruhan Malang, Jawa Timur yang menewaskan ratusan nyawa.

Menurutnya, momentum pembenahan sepak bola di Indonesia dimulai pada Kongres Luar Biasa PSSI pada 16 Februari 2023 mendatangkan 

“Nah kalau pembenahan sudah jelas bahwa Februari itu sudah ada KLB, sekarang PSSI itu kalau mau membuat KLB panitianya itu sudah diminta untuk menyusun sekarang, sudah ada komite pemilihan, dan itu siapa-siapa orang yang diusulkan oleh klub untuk masuk menjadi kandidat ketua, wakil ketua kah atau eksekutif komite,” kata Djamal saat dihubungi, Rabu (7/12).

Dikatakan Djamal, PSSI yang akan menjalankan KLB harus selektif terhadap orang-orang yang diusulkan menjadi kandidat ketua umum PSSI. Terkhusus mengetahui terlebih dulu rekam jejaknya, apakah bersangkutan pernah terlibat dalam masalah seperti pengaturan skor atau masalah lain. 

“Jadi yang harus dibuat PSSI itu nanti dalam rangka akan melaksanakan KLB betul-betul selektif terhadap setiap kandidat, harus diminta rekam jejaknya, ada fakta integritas dan itu formulirnya sudah disiapkan oleh komite pemilihan,” ujarnya.

Langkah ini, kata Djamal, untuk meminimalisir para calon Ketum PSSI yang pernah bermasalah. Pasalnya, jika orang-orang yang pernah bermasalah di sepak bola Indonesia kembali memimpin PSSI, maka dipastikan sepak bola Indonesia akan terpuruk terus.

“Nanti di komite pemilihan itu selektif, oh ini yang anu dan klub-klub semua tahu mana yang minta duit, mana yang memainkan skor dan sebagainya. Kalau fungsionalis-fungsionalis itu masih maju lagi kasih tahu,” jelasnya.

Diakui Djamal, kebangkitan sepak bola Indonesia ditentukan pada KLB nanti. Untuk itu, pada pemilihan nanti sosok ketua umum itu benar-benar paham soal sepak bola, dan pastinya seluruh staf manajemen tersusun dengan baik.

“Tolak ukur pertama itu di KLB, kalau KLB itu nanti pemilihannya eksekutifnya benar, ketua PSSI-nya benar, wakil ketuanya benar dan seluruh pengurusnya tersusun dengan baik dan benar, Insya Allah sepak bola Kita maju,” ucapnya.

“Kalau tetap yang masuk sindikat-sindikat itu, ya sampai mati masih tetap begini Indonesia,” sambungnya.

Terkait dengan tiga tim negara Asia membuat kejutan di Piala Dunia 2022 di Qatar, Djamal memastikan hampir seluruh masyarakat Indonesia pecinta sepak bola, apalagi yang bermain Timnas Indonesia, pasti mendapat dukungan penuh. 

Oleh sebab itu, lanjut Djamal, pemerintah harus jadikan prestasi tiga tim Asia yakni Saudi Arabia, Jepang dan Korea Selatan sebagai pelecut semangat buat sepak bola Indonesia.

“Sepak bola ini adalah permainan rakyat, harusnya pemerintah paling tidak ikut mengerti, ini loh Asia ada masuk tiga tim, masa kita gak bisa? Memang itu tidak dengan serta merta,” ungkapnya.

“Ada U-16 kita, mereka kita godok, kita training sampai nanti U-20 siapa yang menurun prestasinya keluar, diganti orang baru yang pada saat itu prestasinya bagus nanti di U-23. Itu baru nanti kelihatan gitu loh,” pungkasnya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA