Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

Tugas Utama Istri Bukan Nyuci, Ngepel, dan Masak? Ini Kata Mamah Dedeh

Rabu 07 Dec 2022 10:47 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi suami istri. (ilustrasi).Suami istri mempunyai hak dan kewajiban masing-masing dalam rumah tangga

Ilustrasi suami istri. (ilustrasi).Suami istri mempunyai hak dan kewajiban masing-masing dalam rumah tangga

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Suami istri mempunyai hak dan kewajiban masing-masing dalam rumah tangga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sejak diturunkannya agama Islam, banyak tradisi jahiliyah yang dihapuskan secara berangsur-angsur. Salah satu tradisi tersebut adalah mendidik kaum laki-laki saja dan menjadikan kaum perempuan kelas kedua.

 

Baca Juga

Pada masa jahiliyah, perempuan dianggap separuh manusia dan bahkan apabila seseorang memiliki anak perempuan dalam keluarganya, hal demikian dianggap sebagai aib. 

 

Sudah tentu dengan tradisi yang mengakar seperti itu, peran laki-laki atau ayah dalam rumah tangga cenderung enggan untuk menampakkan kehangatan dan juga pengasuhan yang baik bagi anak-anaknya.

 

Ustadzah Annisa Nurul Hasanah dari El-Bukhari Institute mengatakan, pada masa Rasulullah SAW tradisi demikian masih cukup terasa yang kemudian dihapuskan beliau melalui teladan yang dicontohkan.

Pengasuhan dan juga pendidikan terhadap anak-anak di rumah tak biasa digawangi oleh kalangan kaum laki-laki. Sehingga ketika Rasulullah SAW menciumi cucu-cucunya yakni Hasan dan Husain, seorang sahabat kaget melihatnya dan bertanya mengapa Rasulullah melakukan hal itu.

 

“Lalu Rasulullah bilang, barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak disayangi,” kata Ustadzah Nisa, sebagaimana dikutip dari Harian Republika, Rabu(7/12/2022).  

 

Perilaku Rasulullah SAW yang penuh dengan kelembutan itu bukan hanya sekali ditunjuķkan. Dalam banyak riwayat, kata dia, para sahabat Nabi kerap kali melihat perilaku Rasulullah SAW yang hangat dan dekat dengan istri serta anak-anaknya serta tak segan ikut serta dalam urusan pekerjaan rumah tangga.

 

Nabi Muhammad SAW bukanlah pribadi yang acuh terhadap pola pengasuhan. Di Indonesia jika ditarik satu dekade terakhir, peran ayah dalam rumah tangga boleh dibilang minim. 

 

Stigmatisasi bahwa pekerjaan rumah tangga adalah domain perempuan semata masih berkembang pada masa itu.

 

“Tapi sekarang geliat kaum ayah untuk ‘melek’ terhadap urusan rumah tangga mulai terlihat. Kalau dulu anak lihat ayahnya itu kayak ‘angker’, sekarang sudah mulai cair dan luwes,” kata dia.

Baca juga: Pernah Benci Islam hingga Pukul Seorang Muslim, Mualaf Eduardo Akhirnya Bersyahadat 

 

Rasa ingin tahu perihal agama serta masifnya gerakan hijrah belakangan ini bisa saja menjadi pemicu kembali kaum Muslim untuk bercermin kepada teladan Rasulullah SAW. 

 

Bahwa menjadi ayah yang teladan, kata dia, mau tidak mau haruslah berpatokan pada apa yang telah dicontohkan Nabi.

 

Namun demikian dia berpesan agar jarak yang telah mendekat antara anak dengan ayah, atau pun antara ayah dengan urusan rumah tangga, jangan dilakukan tanpa kontrol sama sekali. Seorang ayah harus tetap memiliki ketegasan dalam memimpin rumah tangga.

 

Pendakwah Ustadzah Dedeh Rosidah atau yang akrab disapa Mamah Dedeh mengatakan, dalam rumah tangga harus ada unsur kesalingan satu sama lain. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA