Monday, 8 Rajab 1444 / 30 January 2023

Akhirnya, Uji Vaksin HIV Tunjukkan Hasil Menjanjikan

Rabu 07 Dec 2022 00:40 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Vaksin HIV sudah mulai dibuat sejak 40 tahun lalu.

Vaksin HIV sudah mulai dibuat sejak 40 tahun lalu.

Foto: Pixabay.
Vaksin HIV sudah mulai dibuat sejak 40 tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belum ditemukan obat untuk penyakit HIV yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus. Para peneliti telah mencoba membuat vaksin HIV selama hampir 40 tahun. Upaya itu pun sulit karena kecenderungan HIV untuk bermutasi, berevolusi, dan berubah dengan cepat.

Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Hampir tidak ada orang yang sembuh dari infeksi HIV. Tidak diketahui jenis sel kekebalan dalam tubuh yang benar-benar dapat melindungi dari infeksi.

Baca Juga

Kini, sebuah uji vaksin HIV eksperimental terbaru mengungkap hasil yang menjanjikan. Kandidat vaksin HIV yang terlibat uji coba menunjukkan hasil awal yang baik, memicu komponen penting dari tanggapan kekebalan manusia pada 97 persen penerima vaksin.

Itu adalah uji coba fase satu berskala kecil dengan vaksin yang dibuat dari versi rekayasa protein pada virus HIV. Partikel dirancang agar tubuh siap menghasilkan antibodi penawar secara luas, yang dianggap penting untuk menciptakan kekebalan terhadap HIV.

Antibodi penetral secara luas akan mengenali sebagian besar subtipe HIV, yang diperlukan untuk memberikan kekebalan karena virus HIV sering bermutasi. Sebanyak 48 peserta secara acak mendapat "kandidat vaksin" atau plasebo. Hasilnya, 35 dari 36 dari peserta yang diberi "kandidat vaksin" menunjukkan aktivasi sel B prekursor antibodi penawar luas yang dapat menghasilkan langkah awal menuju kekebalan.

Uji coba dijalankan bersama oleh International AIDS Vaccine Initiative dan Scripps Research. Hasil studi telah diterbitkan dalam jurnal akademik Science pada 1 Desember 2022, yang diperingati sebagai hari AIDS sedunia.

Salah satu penulis studi, William Schief, menjelaskan bahwa pada dasarnya, teknik itu bertujuan melatih sistem kekebalan untuk mengenali beragam subtipe HIV yang terjadi secara alami. Schief adalah profesor di departemen imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research.

Dalam studi fase satu, tidak ada peserta yang melaporkan efek samping yang serius, selain efek samping seperti nyeri di tempat suntikan atau sakit kepala ringan hingga sedang. Beberapa efek yang dirasakan itu pun hilang dalam satu hingga dua hari.

Secara teoritis, vaksin ini akan menjadi yang pertama dari rangkaian suntikan ganda. Masing-masing menggunakan partikel HIV yang berbeda untuk melatih sistem kekebalan. Saat suntikan berlangsung, molekul semakin dekat dengan virus HIV yang sebenarnya.

Selanjutnya, antibodi yang dihasilkan diharapkan dapat mengikat berbagai jenis HIV. "Ini semacam cara berpikir yang benar-benar baru tentang cara membuat vaksin," kata Schief, dikutip dari laman Science Alert, Selasa (6/12/2022).

Schief menginformasikan, timnya saat ini juga bekerja dengan Moderna untuk mengembangkan dan menguji vaksin dengan cara lain. Metode itu yakni mengirimkan partikel HIV yang melatih kekebalan melalui mRNA, alih-alih model berbasis protein yang digunakan pada penelitian terbaru.  

Sementara, studi lain sedang menguji partikel yang sama dalam uji klinis di Afrika. Menurut Schief, akan cukup memakan waktu sebelum uji coba fase dua dapat dimulai. Dia pun mengakui bahwa tidak ada jaminan bahwa vaksin tersebut pada akhirnya akan berhasil.

Namun, jika berhasil, teknik demikian bisa digunakan untuk membuat vaksin lain, seperti vaksin universal virus corona atau flu. "Kami optimistis ada kemungkinan pendekatan ini dapat membantu lebih dari sekadar HIV. Walaupun jika hanya membantu HIV, dampaknya akan sangat besar," tutur Schief.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA