Friday, 5 Rajab 1444 / 27 January 2023

Krisis Air Bersih Melanda Kamp Pengungsi Palestina di Suriah

Senin 05 Dec 2022 23:42 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Nashih Nashrullah

Warga Palestina (ilustrasi). Kirisis air bersih di Kamp Pengungsi Palestina di Suriah picu sejumlah penyakit

Warga Palestina (ilustrasi). Kirisis air bersih di Kamp Pengungsi Palestina di Suriah picu sejumlah penyakit

Foto: AP/Khalil Hamra
Kirisis air bersih di Kamp Pengungsi Palestina di Suriah picu sejumlah penyakit

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS –Sebuah kamp pengungsi Palestina di Suriah mengalami kekurangan air parah yang menambah beban bagi pengungsi. Kamp Sbeineh, di daerah yang dikuasai rezim di pedesaan Damaskus Selatan, telah melaporkan kurangnya akses ke air yang mengkhawatirkan dan diperburuk oleh pemadaman listrik.

Organisasi kemanusiaan mengatakan bahwa pemadaman listrik di wilayah tersebut seringkali terjadi selama 22 jam per hari. Kondiai ini menyebabkan pompa air berhenti bekerja yang berkontribusi terhadap krisis.

Baca Juga

“Kamp tersebut memiliki jaringan air yang disediakan oleh negara, tetapi masalahnya terletak pada pemadaman listrik selama 22 jam sehari di kamp tersebut, dan jumlah jam bertambah pada beberapa hari,” kata Fayez Abu Eid, Direktur media Kelompok Aksi untuk orang Palestina di Suriah dilansir dari The New Arab, Senin (5/11/2022).

"Ini mempengaruhi pompa air dan pasokan dasar waduk utama di kamp Sbeineh," tambahnya.

 
fnMw8rlitF0

Menurutnya, setiap air yang diakses oleh penduduk, seringkali melibatkan perjalanan yang sulit dan mahal. Ditambah air di wilayah itu dikatakan memiliki kualitas yang sangat buruk.

Abu Eid menambahkan bahwa penghuni kamp telah mengajukan keluhan kepada Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) tentang masalah tersebut tetapi tidak membuahkan respons yang baik.

“Kadang-kadang, pemadaman air di dalam kamp berlangsung selama dua minggu, dan listrik, paling-paling, mencapai kami selama dua atau dua setengah jam sehari sesekali. Tidak ada tempat lain yang lebih baik bagi kami untuk pergi,” warga kamp Ahmed Abu Yamen memberi tahu Al-Araby Al-Jadeed.

Sebelum pecahnya perang di Suriah pada 2011, sekitar 22 ribuorang tinggal di kamp tersebut dengan perkiraan tidak resmi hanya 10 ribu orang yang saat ini tinggal di kamp tersebut. Lebih dari 40 kota di Suriah Barat Laut juga dilanda krisis air, yang memengaruhi ratusan kamp pengungsi, kata pekerja LSM pada November.

Kekurangan air dan kekurangan air sanitasi di kamp-kamp pengungsian telah menyebabkan wabah kolera di bagian autara negara itu.

Kekurangan seperti itu juga membahayakan proyek pertanian kamp-kamp Suriah seperti kebun bagi penduduk untuk menanam makanan mereka sendiri di tengah kekurangan uang. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA