Friday, 12 Rajab 1444 / 03 February 2023

Resesi Global, Para Investor Diminta Kelola Aset secara Konservatif

Senin 05 Dec 2022 22:20 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Nidia Zuraya

Investor memantau perdagangan saham melalui gawainya. Ilustrasi

Investor memantau perdagangan saham melalui gawainya. Ilustrasi

Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA
Para investor agar mewaspadai gejolak ekonomi global pada tahun depan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Kenaikan suku bunga acuan oleh bank-bank sentral dunia memicu ancaman resesi ekonomi global pada tahun depan. Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi per Oktober 2022 sebesar 3,31 persen atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,21 persen. 

PT Bank BTPN Tbk meminta para investor agar mewaspadai gejolak ekonomi global pada tahun depan. Sebab, perubahan geopolitik memiliki dampak yang sangat luas.

Head of Treasury BTPN Wiwig Santoso menambahkan salah satunya terhambatnya rantai pasok global, dampak dari perang dagang yang berkembang menjadi decoupled economic system, perubahan regulasi akibat dinamisnya kondisi ekonomi yang begitu cepat saat ini, serta perkembangan situasi politik dalam negeri.

“Perubahan geopolitik memiliki dampak yang sangat luas kami meminta para investor agar mewaspadai gejolak ekonomi global pada tahun depan,” ujarnya saat konferensi pers virtual, Senin (5/12/2022).

Meski begitu, lanjut Wiwig, BTPN selaku pelaku jasa keuangan berupaya mendampingi nasabah melalui produk-produk keuangan yang menjawab solusi keuangan. Hal ini sejalan dengan visi bank dan juga kebijakan pemerintah seperti liquidity management bagi nasabah korporasi, investasi reksadana obligasi pemerintah bagi nasabah ritel dan program daya atau pemberdayaan bagi nasabah UMKM.

“Kami berharap guncangan ekonomi pada tahun depan bisa terserap melalui pencadangan yang konservatif. Tentunya tahun depan, kami akan terus bertumbuh dengan lebih hati-hati dan dengan tetap selalu mengutamakan prudency,” ucapnya.

Sementara itu Direktur Utama Bank BTPN Henoch Munandar menambahkan perusahaan berkomitmen untuk melayani segmen nasabah yang lebih luas dengan produk dan layanan yang lengkap sesuai kebutuhan keuangan nasabah.

“Kami mengimbau untuk mengelola eksposur aset dan liabilitas secara terus-menerus dan konservatif serta memperhatikan peluang yang muncul demi mengoptimalkan aset di tengah kondisi yang dinamis pada saat ini,” ucapnya. 

Ekonom Senior dan Co-Founder Creco Research Institute Chatib Basri mengatakan beberapa waktu lalu sejumlah lembaga internasional memperingatkan risiko terjadinya resesi global pada 2023 akibat kenaikan suku bunga acuan bank-bank sentral yang tinggi secara bersamaan untuk memerangi inflasi. 

“Sejumlah lembaga internasional memperingatkan risiko terjadinya resesi global pada 2023,” ucapnya. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA