Tuesday, 9 Rajab 1444 / 31 January 2023

Provinsi Lampung Masuk Risiko Tinggi Bencana

Senin 05 Dec 2022 20:11 WIB

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Muhammad Hafil

 Provinsi Lampung beberapa kali mengalami peristiwa bencana. Foto:  Warga mendayung sampan dengan latar belakang erupsi Gunung Anak Krakatau di Pelabuhan Pulau Sebesi, Lampung Selatan, Lampung, Selasa (1/1/2019).

Provinsi Lampung beberapa kali mengalami peristiwa bencana. Foto: Warga mendayung sampan dengan latar belakang erupsi Gunung Anak Krakatau di Pelabuhan Pulau Sebesi, Lampung Selatan, Lampung, Selasa (1/1/2019).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Provinsi Lampung beberapa kali mengalami peristiwa bencana.

REPUBLIKA.CO.ID,BANDAR LAMPUNG – Wakil Rektor Bidang Perencanaan Kerja Sama dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Lampung Prof Suharso mengatakan, Lampung masuk salah satu Provinsi di Indonesia dengan tingkat risiko tertinggi bencana.

“Berdasarkan buku Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) tahun 2021, beberapa kabupaten/kota di Provinsi Lampung masuk dalam kategori indeks risiko bencana yang cukup tinggi,” kata Suharso dalam Seminar Nasional Kebencanaan LPPM Unila ke-2 tahun 2022 di Bandar Lampung, Kamis (1/12/2022).

Baca Juga

Ia mengatakan, baru-baru ini Provinsi Lampung beberapa kali mengalami peristiwa bencana, antara lain banjir di beberapa kawasan di Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Lampung Selatan. Dari peristiwa bencana tersebut, ia merekomendasikan agar di dalam pelaksanaannya seminar kebencanaan dapat mendiskusikan berbagai hal terkait deteksi dini sebelum bencana terjadi.

Menurut dia, Kemendikbudristek kepemimpinan Menteri Nadiem Makarim sangat mendorong upaya kolaborasi antara perguruan tinggi dan berbagai stake holder yang dinamai dengan kolaborasi pentahelix.

Kolaborasi penanganan bencana, dalam hal ini Suharso mengatkan hal tersebut sangat erat kaitannya antara kolaborasi perguruan tinggi dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Menurut dia, BNPB sangat membutuhkan peran perguruan tinggi sebagai pemilik sumber daya hasil riset yang kelak dapat diharapkan memberi dampak luas bagi kehidupan masyarakat, terutama dalam mengimplementasikan hasil riset mitigasi bencana.

“Sebagai salah satu bagian dari pentahelix, Universitas Lampung siap melakukan kolaborasi dengan beberapa pihak terkait, khususnya kegiatan di bidang kebencanaan,” kata Suharso.

Dia mengapresiasi BNPB yang telah mempercayai Unila dalam melaksanakan kegiatan pemulihan pascatsunami di Selat Sunda yang berdampak di tiga kabupaten di Lampung pada akhir tahun 2018. Pemulihan dampak bencana tsunami Selat Sunda tersebut dimulai sejak tahun 2020 dan juga peningkatan produktivitas di bidang ekonomi, sosial, sumber daya alam, dan lingkungan.

Pada diskusi mitigasi bencana di Kantor Bappeda Provinsi Lampung, belum lama ini, menyebutkan Provinsi Lampung merupakan daerah dengan potensi bencana sangat besar. Potensi bencana ini disebabkan oleh bencana alam dan nonalam serta bencana sosial akibat ulah manusia.

Kawasan rawan bencana alam geologi tersebar di seluruh wilayah Provinsi Lampung, yang terjadi akibat aktivitas tektonik, pengaruh sesar Mayorya itu sesar Semangko dan sesar Mentawai, serta sesar Minor, dan aktivitas vulkanik.

Saat itu, Kepala Bappeda Provinsi Lampung Herlina Warganegara mengatakan, memperhatikan kondisi geografis Provinsi Lampung, potensi bencana di Lampung sangat besar sekali, tidak hanya tsunami dan gempa. Tetapi juga puting beliung, banjir, kekeringan, longsor, dan kebakaran hutan.

Menurut dia, antisipasi masyarakat terkait pengetahuan mengenai bencana harus kita siapkan. Perlu Adanya sosialisasi dan keterlibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana.Terutama edukasi kepada masyarakat terkait daerahnya.

Kepala Bidang Perencanaan dan Pelaporan Dinas PUPR Provinsi Lampung M  Taufiqullah mengatakan, ke depan Provinsi Lampung harus membuat jalur-jalur evakuasi bencana dan melakukan simulasinya, serta menyusun formula unit reaksi cepat.

Perwakilan Bidang Pencegahan dan Bidang Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD) Indra Utama menyatakan, ada kelemahan ketika sedang melakukan mitigasi bencana seperti kurangnya koordinasi antar lembaga terkait. Ke depan harus memperbaiki koordinasi, karena ada kelemahan koordinasi.

BPBD juga telah memasang sembilan alat khusus deteksi dini gempa, yang dipasang di daerah-daerah pesisir Lampung,  khususnya di daerah sesar Semangko.  Harapannya, alat ini minimal untuk memberikan informasi deteksi awal gempa yang terjadi, minimal keakuratan  informasinya. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA