Senin 05 Dec 2022 16:15 WIB

Ikhtiar Panjang 26 Tahun, Masjid Indonesia Pertama Berdiri di Inggris

Mimpi 26 tahun akhirnya masjid Indonesia menjadi kenyataan di Inggris

Rep: rilis dsari London/ Red: Muhammad Subarkah
Warga Indonesia di London berdiri di masjid yang mereka beli dari bangunan bekas gereja.
Foto: istimewa
Warga Indonesia di London berdiri di masjid yang mereka beli dari bangunan bekas gereja.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Wajah cerah dan senyum lebar terlihat di wajah ratusan warga Indonesia di Inggris yang berkumpul di bangunan dua lantai bercat putih di kawasan Neasden, tak jauh dari Stadion Wembley. Pada Ahad pagi, 4 Desember 2022, di awal musim dingin, warga Indonesia berkumpul untuk menghadiri syukuran setelah panitia dari yayasan Indonesian Islamic Centre (IIC) akhirnya berhasil membeli bangunan bekas gereja yang dialihfungsikan menjadi masjid, masjid pertama Indonesia di tanah Inggris Raya. 

Mimpi dan ikhtiar yang dirintis sejak 1990-an akhirnya terwujud. “Saya masih ingat, ikhtiar untuk mendirikan masjid warga Indonesia di Inggris dicetuskan secara formal pada Januari 1996,” ungkap Memet Purnama Hasan, kepala wali amanat IIC.

Berawal dari masa itulah, sejumlah warga kemudian berinisiatif mendirikan yayasan dan kepanitiaan. Dari berbagai penggalangan dana, terkumpul uang untuk membeli rumah yang difungsikan sebagai pusat kegiatan keagamaan. Namun seiring dengan bertambahnya jumlah warga Indonesia dan makin semaraknya berbagai kegiatan, rumah tersebut tidak lagi memadai untuk menjadi pusat kegiatan keagamaan.

Di sisi lain, Memet dan beberapa warga lain juga merasa ada kebutuhan yang makin mendesak untuk memiliki masjid yang benar-benar dijalankan oleh warga Indonesia di Inggris. “Kami melihat di Inggris ini, ada masjid yang didirikan oleh komunitas Bangladesh, Pakistan, Turki, dan dari beberapa negara lain. Sementara, warga Indonesia, yang diketahui sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, tidak memiliki masjid di Inggris,” kata Memet yang sudah menetap di London selama puluhan tahun ini.

Momentum untuk mempergencar pembangunan masjid Indonesia di Inggris datang ketika IIC memutuskan untuk menyegarkan kepanitiaan. Eko Kurniawan diminta untuk menjadi panitia pendirian masjid dan bersama sejumlah warga dan mahasiswa Indonesia mengusulkan cara-cara baru untuk menggalang dana. Intinya, memanfaatkan semua saluran, baik tradisional maupun digital untuk menambah kas.

“Penambahan terbesar berasal dari kanal-kanal digital. Kami menggelar beberapa acara online dan dari situ dana yang kami kumpulkan bertambah secara signifikan,“ kata Eko. Panitia di antaranya menggelar acara online seperti tablig akbar bersama Ustaz Abdullah Gymnastiar, Ustaz Adi Hidayat, lelang sepeda Brompton edisi Merah Putih yang disumbangkan langsung oleh CEO Brompton Will Butler-Adams, Wakaf Mozaik, dan Wakaf Gotong Royong.  Di luar itu ada acara off-line seperti bersepeda untuk masjid Indonesia dan penggalangan dana melalui platform Kita Bisa. 

“Yang membuat kami terharu adalah banyak sekali donatur yang menyumbang mulai dari ribuan hingga jutaan rupiah. Dari yang nilainya kecil sampai besar. Tetapi selalu ada tambahan doa. Misalnya, ‘Kami menyumbang Rp10.000. Semoga segera terwujud, semoga suatu saat nanti bisa mampir di masjid ini.’ Sumbangan dan doa tersebut berasal dari Aceh hingga ke Papua, juga dari sejumlah negara. Jumlahnya sangat banyak. Ini membuat kami terharu dan juga membuat kami makin termotivasi untuk menyegerakan pendirian masjid,” kata Memet.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement