Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

China Laporkan Dua Kematian Akibat Covid-19 Karena Pelonggaran

Senin 05 Dec 2022 00:10 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha

 Warga mengantre di tengah suhu dingin yang membekukan untuk tes usap tenggorokan rutin COVID-19 mereka di tempat pengujian virus corona di Beijing, Ahad, 4 Desember 2022. China pada Minggu melaporkan dua kematian tambahan akibat COVID-19 karena beberapa kota bergerak dengan hati-hati untuk melonggarkan anti virus. -pembatasan pandemi di tengah frustrasi publik yang semakin vokal atas tindakan tersebut.

Warga mengantre di tengah suhu dingin yang membekukan untuk tes usap tenggorokan rutin COVID-19 mereka di tempat pengujian virus corona di Beijing, Ahad, 4 Desember 2022. China pada Minggu melaporkan dua kematian tambahan akibat COVID-19 karena beberapa kota bergerak dengan hati-hati untuk melonggarkan anti virus. -pembatasan pandemi di tengah frustrasi publik yang semakin vokal atas tindakan tersebut.

Foto: AP/Andy Wong
Satu kematian dilaporkan masing-masing di Provinsi Shandong dan Sichuan.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- China pada Ahad (4/12/2022) melaporkan dua kematian tambahan akibat Covid-19, karena beberapa kota bergerak dengan hati-hati untuk melonggarkan pembatasan anti-pandemi. Pelonggaran dilakukan menyusul aksi protes akibat kebijakan strategi 'zero-Covid' yang ketat.

Komisi Kesehatan Nasional mengatakan, satu kematian dilaporkan masing-masing di Provinsi Shandong dan Sichuan. Sejauh ini tidak ada informasi yang diberikan tentang usia para korban atau apakah mereka telah divaksinasi secara lengkap.

Baca Juga

China adalah negara besar terakhir yang mencoba menghentikan penularan Covid-19 melalui karantina, penguncian, dan pengujian massal. Sejauh ini sembilan dari 10 orang China telah divaksinasi, dan hanya 66 persen orang di atas 80 tahun yang mendapatkan satu suntikan, sedangkan 40 persen telah menerima booster. Komisi Kesehatan Nasional mengatakan, 86 persen orang di atas 60 tahun divaksinasi.

Luapan kemarahan publik telah mendorong pihak berwenang untuk mencabut beberapa pembatasan yang lebih berat, ketika strategi Zero-Covid  masih berlaku. Aksi protes secara meluas meletus pada 25 November setelah kebakaran di sebuah gedung apartemen di Kota Urumqi menewaskan sedikitnya 10 orang. Peristiwa ini memicu pertanyaan apakah petugas pemadam kebakaran atau korban yang mencoba melarikan diri dihalangi oleh kebijakan lockdown atau kontrol ketat lainnya. Pihak berwenang membantah tuduhan tersebut.

Aksi protes terjadi di  berbagai kota termasuk Shanghai dan Beijing. Pengunjuk rasa menuntut pelonggaran pembatasan Covid-19. Bahkan beberapa menuntut Presiden Cina Xi Jinping mundur. Ini adalah pertama kalinya terjadi perbedaan pendapat publik yang luar biasa dalam masyarakat di bawah Partai Komunis yang berkuasa dan menjalankan kendali penuh.

Beijing dan beberapa kota China lainnya mengumumkan bahwa, masyarakat dapat naik bus dan kereta bawah tanah tanpa harus menjalani tes Covid-19 untuk pertama kalinya. Namun sebagian besar tempat umum masih memerlukan tes Covid-19.

Pada Ahad, China mengumumkan 35.775 kasus dari 24 jam terakhir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 31.607 di antaranya tanpa gejala, sehingga totalnya menjadi 336.165 dengan 5.235 kematian.

Jumlah kasus Covid-19 di China tetap relatif rendah dibandingkan dengan AS dan negara lain yang sekarang melonggarkan penguncian dan mencoba hidup berdampingan dengan Covid-19.

China masih memberlakukan karantina wajib bagi pelancong yang datang meski jumlah pendatang yang terinfeksi rendah.

sumber : AP
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA