Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

ICMI Bekerja Atas Nafas Keislaman-Keindonesiaan

Ahad 04 Dec 2022 16:26 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil

Ketua Umum ICMI Prof Arif Satria menyampaikan sambutan usai pelantikan Majelis Pengurus Wilayah Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Organisasi Wilayah Jawa Barat Masa Bakti 2022-2027 di Aula Barat, Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (17/10). Sesuai dengan visinya menjadi organisasi cendekiawan yang mendorong terwujudnya kekuatan imtaq dan iptek umat bagi terwujudnya masyarakat yang maju, adil dan sejahtera, ICMI Jawa Barat mendukung visi Pemprov Jawa Barat yaitu Jabar Juara Lahir Batin.

Ketua Umum ICMI Prof Arif Satria menyampaikan sambutan usai pelantikan Majelis Pengurus Wilayah Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Organisasi Wilayah Jawa Barat Masa Bakti 2022-2027 di Aula Barat, Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (17/10). Sesuai dengan visinya menjadi organisasi cendekiawan yang mendorong terwujudnya kekuatan imtaq dan iptek umat bagi terwujudnya masyarakat yang maju, adil dan sejahtera, ICMI Jawa Barat mendukung visi Pemprov Jawa Barat yaitu Jabar Juara Lahir Batin.

Foto: Edi Yusuf/Republika
ICMI menggelar silaturahmi kerja nasional.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketua Umum Majelis Pengurus Pusat Cendikiawan Muslim Indonesia ICMI, Prof Arif Satria menegaskan bahwa organisasi ICMI bekerja atas nafas keislaman, keindonesiaan, dan kecendiakawanan. Hal ini sampaikan Prof Arif dalam acara pembukaan Silaturrahmi Kerja Nasional (Silaknas) dan Milad ke-32 ICMI  yang akan berlangsung pada 3-4 Desember 2022.

“ICMi bekerja atas nafas keislaman, keindonesiaan, dan kecendikiawanan. Demensi keislaman menuntut ICMi untuk menerjemahkan nilai-nilai universal Islam dalam konteks ruang Indonesia, khususnya dalam konteks zaman sekarang,” ujanya saat sambutan di Auditorium BJ Habibie Gedung BRIN Jakarta Pusat Jakarta, Sabtu (3/11/2022).

Baca Juga

Dalam dimensi keindonesiaan, menurut dia, ICMI bertekad untuk berperan dalam membina suatu negara kesatuan berbentuk Republik Indonesia berdasarkan pancasila. “Dimensi ketiga adalah dimensi kecendikiawanan yang menuntut ICMI menjadikan anggotanya menjadi sosok ulul albab yang terus meynyeimbangan zikir dan pikir untuk transformasi dan kemaslahatan umat,” ucap Prof Arif.

Rektor IPB University menjelaskan, ICMI sebagaimana mestinya juga memiliki orientasi untuk terus meningkatakan kualitas SDM dengan mengacu kepada lima K, yaitu Kualitas Iman, Kualitas Pikir, Kualitas Kerja, Kualitas Karya dan Kualitas Hidup.

“Jadi, lima K ini dapat menjadi modal penting bagi proses transformasi bangsa di tengah distrupsi ini,” kata Prof Arif.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa transformasi sosial adalah sebuah keniscayaan. Karena, menurut dia, dunia sekarang ini terus bergerak dan ICMI harus mampu merespons perubahaan dan bahkan menjadi penentu kecenderungan perubahan.

Geraknya dunia saat ini, menurut dia, dipengaruhi oleh empat distrupsi besar yang telah terjadi dan mengubah tatanan dunia. Pertama, yaitu perubahan iklim yang memerlukan kemampuan beradaptasi dan melakukan mitigasi. Kedua, revolusi  4.0 yang membuat dunia semakin terkoneksi  dengan cepat dan presisi melalui digitalisasi, sehingga kehidupan sosial pun beurbah nyata.

Ketiga, lanjut pandemi Covid-19 yang membuat dunia semakin berada di dalam ketidakpastian. Kemudian yang keempat adalah konflik geopolitik antara Ukraina-Rusia yang membawa ancaman sejumlah krisis khususnya pangan dan energi.

“Keempat distrupsi ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sehingga belum ada bangsa mana pun yang punya pengalaman dan resep untuk menghadapinya,” jelas dia.

Dalam posisi seperti itu, menurut Prof Arif, kuncinya terletak pada siapa yang lebih cepat berlari. Menurut dia, kecepatan berlari sangat ditentukan oleh kecepatan belajar atau learning agility, serta ditentukan oleh mindset baru dan juga kekuatan future practice.

Karena menghadapi hal yang sama sekali baru, tambah dia, maka perlu cara pandanga baru, perlu cara kerja baru, perlu cara belajar baru, serta punya kemampuan dan keberanian untuk memulai langkah baru.

“Karena itu ICMI harus terus menjadi sentrum dalam distrupsi ini dengan mengambil empat peran penting, yaitu ICMI sebagai sumber inspirasi dan solusi bangsa, ICMI menjadi rumah besar umat Islam, ICMI menjadi pengawal kehidupan berbangsa dna bernegara, dan ICMI menjadi pelopor agenda aksi transformasi,” jelas Prof Arif.

Acara Silaknas yang mengangkat tema “ICMI Menginspirasi dan Memberi Solusi untuk Indonesia” ini dibuka secara resmi oleh Menko PMK, Muhadjir Effendy. Selain itu, hadir pula Menteri Parekraf Sandiaga Salahuddin Uno, Ketua Dewan Penasihat ICMi, Prof Jimly Asshiddiqie, Ketua Dewan Pakar ICMI, Prof Ilham Habibi, dan Prof Emil Salim.

Kegiatan Siknas ini diikuti jajaran pengurus ICMI pusat dan 21 organisasi wilayah (Orwil) serta seluruh organisasi daerah (Orda) ICMI. Berdasarkan laporan Ketua Pelaksana Silaknas Doni Yusri, ada 700 peserta yang hadir dalam acara puncak Silaknas dan Milad ICMI ini.

Silaknas dan Milad ICMI ini juga meliputi beberapa rangkaian kegiatan, seperti Expo Inovasi Nasional, National Leadership Camp, Konvensi Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah, Penganugrahan ICMI Lifetime Achievement Award, Rapat Pleno Pemapa ran Laporan Program dan Rencana Kerja, serta City Tour.

“Semoga acara ini Silaknas ini membawa berkah bagi kita semua sekaligus menjadi tonggak dan mementum untuk meningkatkan kualitas kontribusi ICMI untuk kemajuan umat dan kemajuan bangsa Indonesia,” ujar Prof Arif.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA