Wednesday, 17 Rajab 1444 / 08 February 2023

Ribuan Orang yang Sudah Tiga Kali Divaksinasi Laporkan Gejala Covid-19 yang Mengganggu

Senin 05 Dec 2022 00:20 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Sakit tenggorokan (ilustrasi). Sakit tenggorokan termasuk salah satu gejala yang dikeluhkan orang yang sudah mendapatkan dosis booster ketika kena Covid-19.

Sakit tenggorokan (ilustrasi). Sakit tenggorokan termasuk salah satu gejala yang dikeluhkan orang yang sudah mendapatkan dosis booster ketika kena Covid-19.

Foto: www.freepik.com.
Gejala Covid-19 telah berubah selama dua tahu pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ribuan orang yang telah tiga kali divaksinasi dan terinfeksi Covid-19 melaporkan gejala yang sama dan memengaruhi aktivitas sehari-hari. Berdasarkan studi dari Imperial College London di Inggris, mereka melaporkan empat gejala spesifik mirip selesma, meliputi hidung berair, sakit tenggorokan, bersin, dan suara serak.

Para peneliti telah mengumpulkan pengalaman 17 ribu orang, baik yang divaksinasi dan tidak divaksinasi--yang dikonfirmasi positif Covid-19 antara Mei 2020 hingga Maret 2022. Data dikumpulkan sebagai bagian dari studi Real-time Assessment of  Community Transmission (React), dan ditemukan bahwa pada setiap varian, proporsi orang yang melaporkan gejala telah meningkat.

Baca Juga

Secara khusus, mereka menemukan bahwa lebih dari 5.000 orang yang divaksinasi kemudian positif Covid-19 menderita gejala yang memengaruhi aktivitas sehari-hari mereka.

"Dalam sub-kelompok 5.598 individu yang menerima dua sampai tiga suntikan vaksin dan dites positif Covid-19 subvarian omicron BA.1 dan BA.2, mereka yang terinfeksi BA.2 54 persen lebih mungkin untuk melaporkan gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari," kata peneliti, seperti dilansir laman Express, Ahad (4/12/2022).

BA.1 adalah varian omicron pertama yang muncul sekitar November 2021 di Afrika Selatan. Saat ini, varian baru yang disebut BQ1 menjadi varian yang dominan. Tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa gejala mungkin tidak tenang dengan perubahan varian.

Selain itu, ditemukan bahwa varian BA.2 menyebabkan 75,9 persen orang yang terinfeksi memiliki gejala. Ini dibandingkan dengan 70 persen untuk BA.1, 63,8 persen untuk varian delta, dan 54,7 persen untuk varian alpha. Penelitian lain menunjukkan bahwa ribuan orang yang divaksinasi masih mengalami banyak gejala yang dilaporkan dalam studi React.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA