Thursday, 11 Rajab 1444 / 02 February 2023

Dosen UMM Ajari Penjual Jamu Manfaatkan Digitalisasi

Ahad 04 Dec 2022 13:34 WIB

Rep: wilda fizriyani/ Red: Hiru Muhammad

Tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan pengajaran kepada kelompok usaha jamu berskala kecil di wilayah Sidodadi, Lawang, Kabupaten Malang terkait pemanfaatan digitalisasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.

Tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan pengajaran kepada kelompok usaha jamu berskala kecil di wilayah Sidodadi, Lawang, Kabupaten Malang terkait pemanfaatan digitalisasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.

Foto: humas umm
Para anggota kelompok usaha jamu bersukur kegiatan tersebut sangat membantu

REPUBLIKA.CO.ID,MALANG -- Tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan pengajaran kepada kelompok usaha jamu berskala kecil di wilayah Sidodadi, Lawang, Kabupaten Malang terkait pemanfaatan digitalisasi. Kegiatan ini merupakan bagian Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI.

Ketua kelompok, Wildan Suharso mengatakan, aktivitas tersebut berupa pengabdian digitalisasi penjualan jamu instan berbasis media sosial dan situs. Para dosen memberikan pelatihan dan pengarahan agar penjualan jamu bisa meluas melalui media sosial, situs maupun alat digital lain. 

Baca Juga

Pada awalnya, dia bersama tim mengunjungi dan melakukan observasi awal. Setelah mendapatkan data yang cukup, pihaknya melaksanakan pelatihan produksi dan pengemasan, branding bahkan juga pembangunan situs bagi kelompok jamu. "Kami juga mengajari para penjual bagaimana memaksimalkan website dan media sosial untuk bisnis mereka,” kata Wildan dalam pesan resmi yang diterima Republika.

Di sisi lain, Ketua Kelompok Usaha Jamu D’lima, Titik Wahyuno menilai kegiatan tersebut sangat membantu anggotanya. Mereka bersyukur bisa mendapatkan keahlian baru untuk meningkatkan pendapatan. Kualitas produksi dan jumlah penjual juga dirasa meningkat berkat pelatihan yang dilakukan UMM.

Dia berpendapat program seperti ini dibutuhkan oleh banyak pihak. Bukan hanya oleh produsen dan penjual jamu, tetapi juga bisa menyasar sektor-sektor lain agar pendapatan dan ekonominya juga makin meningkat. "Terima kasih kami sampaikan kepada tim UMM yang sudah bersusah payah dan membagi ilmunya kepada kami,” jelasnya.

Ada pun kelompok usaha jamu instan tersebut diberi nama D’lima. Hal ini karena awalnya hanya lima orang yang bergabung saat pertama kali berdiri. Meskipun beberapa kali mengalami perubahan nama, Titik tetap dipercaya untuk menjadi ketua kelompok. Hal itu tidak lepas dari semangatnya untuk memproduksi jamu dan tetap mengurus kelompok usaha jamu. 

 

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA