Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Kehidupan yang Sederhana

Sabtu 03 Dec 2022 18:22 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Agung Sasongko

Umat Islam (ilustrasi)

Umat Islam (ilustrasi)

Foto: Antara/Rosa Panggabean
Islam mengajarkan untuk senantiasa menghindari perilaku berlebihan (israf)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Sholahuddin Al Aiyub memaparkan, Islam mengajarkan untuk senantiasa menghindari perilaku berlebihan (israf). Dalam Islam, seorang Muslim diajarkan untuk menjalani kehidupan yang sederhana dan menjauhi sikap israf tersebut.

"Kehidupan sederhana adalah yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Hidup sederhana lebih banyak terkait dengan pemenuhan kebutuhan yang bersifat dharuriyah dan hajiyat, ujar Kiai Aiyub.

Baca Juga

Dalam Islam, ada kebutuhan yang masuk kategori dharuriyah, yaitu kebutuhan pokok atau biasa disebut kebutuhan primer. Di bawah dharuriyah, ada kebutuhan hajiyat atau kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tahsiniyatatau kebutuhan tersier.

Kebutuhan primer antara satu orang dan yang lainnya, tentu sama.Sedangkan, kebutuhan sekunder adalah penunjang bagi seseorang dalam menjalani aktivitas profesi dan sosialnya. Jika seseorang memiliki mobilitas yang tinggi, mungkin membutuhkan mobil.Namun, ada orang yang dengan mobilitasnya itu cukup dengan motor.

Perbedaan mencolok antara satu orang dan yang lain, ada dalam kategori kebutuhan tahsiniyat atau tersier. Standar seseorang terhadap pemenuhan kebutuhan tersier ini berbeda-beda. Karena itu, di sinilah pentingnya kesadaran bahwa barang tersier ini dibutuhkan atau tidak.

Kiai Aiyub mencontohkan, tas sebetulnya masuk kebutuhan sekunder untuk menampung berbagai barang. Namun, bagi sebagian orang tertentu, tidak cukup hanya dengan tas dan fungsinya. Mereka merasa harus menggunakan tas dengan merek- merek tertentu sehingga ini sudah masuk kategori tersier.

Pada masa awal Islam, orang- orang dengan strata sosial tinggi menggunakan pakaian yang kainnya sampai terseret-seret menyapu tanah. Lalu, Nabi Muhammad SAW memasukkan mereka dalam golongan `minal khuyala' yaitu orang-orang yang menyombongkan diri. Padahal, bahan pakaian yang digunakan semestinya cukup disesuaikan dengan kebutuhan.

Padahal, secara fungsinya sudah mencukupi, tetapi karena untuk gengsi atau prestise, seseorang mengikuti model tertentu yang dalam dunia modern menjadi sesuatu yang meningkatkan prestise. Nah, yang seperti ini tidak diajarkan dalam Islam, tuturnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA