Monday, 15 Rajab 1444 / 06 February 2023

Bangun Optimisme, Jokowi tak Mau Lagi Sampaikan Hal Pesimistis

Jumat 02 Dec 2022 23:31 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Gita Amanda

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku tak mau lagi menyampaikan hal yang membuat masyarakat pesimistis. (ilustrasi).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku tak mau lagi menyampaikan hal yang membuat masyarakat pesimistis. (ilustrasi).

Foto: Republika/Prayogi
Angka inflasi Indonesia masih rendah dibandingkan banyak negara lainnya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku tak mau lagi menyampaikan hal yang membuat masyarakat pesimistis, seperti kondisi ekonomi global yang akan semakin suram pada tahun depan. Meskipun faktanya memang situasi dunia masih tidak pasti, namun ia ingin membangun optimisme masyarakat.

“Artinya saya tidak ingin cerita lagi dunia ini baru kena ini, baru kena ini. Memang betul faktanya seperti itu. Saya nggak ingin cerita lagi. Saya ingin cerita yang optimistis-optimistis,” kata Jokowi saat membuka rapat pimpinan nasional Kamar Dagang dan Industri (KADIN) 2022 di Jakarta, Jumat (2/12/2022).

Baca Juga

Ia melanjutkan, menurut Managing Director IMF, Indonesia menjadi titik terang di tengah kesuraman ekonomi global. Hal ini terlihat dari kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik dibandingkan negara-negara lainnya.

Jokowi mencontohkan, angka inflasi Indonesia yang masih rendah dibandingkan banyak negara lainnya, yakni sebesar 5,7 persen. Sementara negara-negara lainnya di dunia bahkan sudah di atas 10-12 persen, bahkan ada yang lebih dari 80 persen.

Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga 2022 yang mencapai sebesar 5,72 persen. Sedangkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di 2022 sebesar 3,2 persen. “Kenapa kita harus pesimis kalau angkanya terjaga seperti itu. Kita harus optimistis,” kata dia.

Selain itu, angka Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia juga berada di level yang ekspansif yakni 51,8. Menurut Jokowi, angka PMI di semua negara sudah terkontraksi, rata-rata di bawah 50.

“Mengapa kita tidak optimis dengan angka-angka level ekspansif seperti itu? Harus optimistis. Kita baca angka-angka,” tambahnya.

Tak hanya itu, Jokowi juga memaparkan bahwa neraca dagang Indonesia sudah surplus selama 30 bulan berturut-turut. Artinya, kata dia, ekspor Indonesia sudah lebih besar dibandingkan angka impor.

Selain kondisi ekonomi yang lebih baik, Indonesia juga memiliki potensi dan kekuatan besar yang tidak dimiliki negara lain. Potensi-potensi ini bisa digunakan untuk melakukan lompatan-lompatan maju. Ia mengatakan, dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memiliki pasar yang sangat besar.

“Ini kekuatan, kekuatan kita ini sering tidak kita lihat, sering kita lupakan sehingga pasar kita dimasuki pasar, dimasuki oleh negara lain. Ndak. Pasar kita harus kita lindungi agar bisa kita pakai untuk melompat maju,” kata dia.

Selain itu, posisi geografis Indonesia berada di jalur perdagangan dunia. Kondisi geografis ini dinilai sangat menguntungkan bagi produk-produk Indonesia. Jokowi juga mengatakan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki pun sangat besar, begitu juga dengan sumber daya manusia (SDM) di mana akan mengalami bonus demografi pada 2030 nanti. Sehingga kekuatan tenaga kerja produktif Indonesia diperkirakan akan mencapai 201 juta.

“Sangat besar sekali dan kelas menengah yang sangat besar sekali. Inilah harus kita manfaatkan. Jangan dibiarkan kekuatan besar kita, potensi besar dan sekarang ditambah satu lagi yang ini sulit diperoleh. Trust dari internasional,” ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA