Thursday, 18 Rajab 1444 / 09 February 2023

Ibu Hamil Dianjurkan Jalani Pemeriksaan HIV, Ini Alasannya

Jumat 02 Dec 2022 18:56 WIB

Red: Nora Azizah

Deteksi HIV ibu hamil guna menekan risiko transmisi virus ke bayi.

Deteksi HIV ibu hamil guna menekan risiko transmisi virus ke bayi.

Foto: www.freepik.com
Deteksi HIV ibu hamil guna menekan risiko transmisi virus ke bayi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita dr. Dwinanda Aidina, Sp.A(K), menganjurkan ibu hamil menjalani pemeriksaan untuk mendeteksi penularan HIV. Hal ini guna menekan risiko transmisi virus kepada bayi semasa kehamilan hingga pasca-persalinan.

"Ibunya harus diskrining. Lebih baik lagi kalau dia sebelum menikah sudah diskrining. Atau pada saat trimester dua atau tiga dites penyakit HIV dan penyakit-penyakit lainnya," kata Dwinanda dalam acara bincang-bincang virtual Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan yang diikuti dari Jakarta, Jumat (3/12/2022).

Baca Juga

Apabila penularan HIVpada ibu bisa dideteksi lebih dini, ia mengatakan, maka dokter bisa menyiapkan terapipengobatan antiretroviral (ARV) guna menekan perkembangan virus serta mencegah ibu menularkan virus kepada bayinya. Ia menambahkan, dokter juga bisa rutin memantau kondisi ibu untuk mengecek kemungkinan muncul efek samping penggunaan obatARVmeskipun secara umum ARV aman diberikan kepada ibu hamil.

Dia mengatakan bahwa ibu hamil dengan infeksiHIV biasanya disarankan menjalani kontrol rutin sekitar dua minggu hingga satu bulan sekali jika mengalami efek samping penggunaan obat atau masalah yang lain.

"Kami juga harus melihat evaluasi obat apakah si antivirus ini sudah efektif terhadap HIV itu dan kami juga akan mengevaluasi kepatuhan berobat si ibu hamil," katanya, menambahkan, kepatuhan mengonsumsi ARVpenting untuk menghindari risiko resistensi virus terhadap obat.

Dwinanda menjelaskan, pengobatan ARV ditujukan untuk menekan replikasi HIV sampai virus tidak terdeteksi atau terdeteksi pada tingkat sangat rendah di dalam darah. "Kalau kadarnya sangat rendah, sebetulnya sangat sangat rendah kemungkinan dia akan menularkan ke pasangannya dan sangat sangat rendah kemungkinan dia akan menularkan ke bayinya," kata dia.

Dia mengemukakan bahwa ibu dengan HIVbisa merencanakan punya anak selama syarat kepatuhan minum ARV terpenuhi dan virus HIV sudah tidak terdeteksi di dalam darahnya. "Tetapi, nanti begitu dia melahirkan anaknya, anaknya pun juga akan mendapatkan obat pencegahan agar tidak tertular virus itu," kata Dwinanda.

Ia menjelaskan pula bahwa dokter kandungan serta dokter penyakit dalam akan bekerja sama dan memberikan berbagai saran mengenai persiapan persalinan hingga pasca-persalinan kepada ibu dengan HIV, termasuk perencanaan persalinan dan perencanaan pemberian ASI atau pendamping ASI serta pemeriksaan darah rutin.

Dwinanda mengingatkan bahwa pemerintah telah menjalankan program pencegahan HIVyang mencakup penyediaan pelayanan pemeriksaan HIVpada ibu hamil di fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA