Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

Jalur Baru SNPMB PTN, Jangan Anggap Mata Pelajaran tak Penting

Kamis 01 Dec 2022 19:59 WIB

Rep: ronggo astungkoro/ Red: Hiru Muhammad

 Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dirancang dengan mengacu pada praktik internasional, di mana seleksi masuk perguruan tinggi tidak berdasarkan pada mata pelajaran, melainkan pada potensi calon mahasiswa  Tampak sejumlah peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di Kampus Universitas Siliwangi (Unsil), Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (18/5/2022).

Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dirancang dengan mengacu pada praktik internasional, di mana seleksi masuk perguruan tinggi tidak berdasarkan pada mata pelajaran, melainkan pada potensi calon mahasiswa Tampak sejumlah peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di Kampus Universitas Siliwangi (Unsil), Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (18/5/2022).

Foto: ANTARA/Adeng Bustomi
Mata pelajaran menjadi bekal calon mahasiswa untuk belajar di perguruan tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dirancang dengan mengacu pada praktik internasional, di mana seleksi masuk perguruan tinggi tidak berdasarkan pada mata pelajaran, melainkan pada potensi calon mahasiswa. Meski demikian, mata pelajaran tetap harus dianggap sebagai suatu hal yang penting untuk dipelajari sebagai bekal para calon mahasiswa untuk mengikuti pembelajaran di perguruan tinggi.

"Jadi kita mengacu pada praktik internasional yang banyak dilakukan di negara-negara maju. Di mana seleksi masuk ke perguruan tinggi tidak berdasarkan pada subject base, tidak berdasarkan pada mata pelajaran, tapi lebih pada potensi si calon mahasiswa," ujar Plt Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek, Nizam, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/12/2022).

Baca Juga

Dia menyampaikan, dalam SNBT ujian yang dilakukan mulai mengacu pada akses yang lebih fleksibel. Menurut Nizam, seleksi berdasarkan tes perlu dilakukan karena perguruan tinggi berkepentingan untuk memastikan mahasiswa yang masuk ke dalam suatu program studi dapat menjadi mahasiswa yang sukses. Ukuran sukses itu, kata Nizam, dilihat dari potensi yang dimiliki oleh calon mahasiswa.

"Di dalam seleksi berbasis tes kita melihat ukuran sukses itu dari potensi calon mahasiswa. Sehingga yang diujikan adalah potensinya. Yang selama ini memang sudah digunakan sebagai salah satu instrumen untuk seleksi masuk perguruan tinggi, yaitu tes skolastik atau kita kenal dengan tes bakat, tes kemampuan kognitif,\" terang Nizam.

Selain tes kemampuan kognitif, SNBT juga menguji kemampuan literasi dan numerasi para calon mahasiswa. Di mana kemampuan literasi yang diuji adalah bahasa Indonesia dan bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris. Untuk kemampuan numerasi, akan diukur kemampuan calon mahasiswa dalam bernalar kritis dan menyelesaikan masalah.

Nizam juga menyampaikan, meski tak ada lagi tes mata pelajaran, bukan berarti siswa sekolah menengah atas tidak perlu mempelajari mata pelajaran di sekolah. Menurut dia, pembelajaran mata pelajaran yang ada di sekolah akan berguna sebagai bekal untuk mengikuti pembelajaran di perguruan tinggi.

"Tidak berarti mata pelajaran tidak penting. Apa yang adik-adik sekalian tempuh di SMA, MA, SMK itu akan menjadi pondasi untuk kelancaran belajar di perguruan tinggi. Jadi memilih mata pelajaran juga sangat penting ketika masih di SMA, MA, SMK," terang Nizam.

Dia menjelaskan, sejumlah transformasi sudah dilakukan di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi. Di sekolah menengah atas, transformasi yang dilakukan terkait dengan kurikulum yang memberikan ruang kepada para siswa untuk meramu kompetensi yang mereka inginkan.

"Kurikulum yang lebih fleksibel, memberi ruang pada siswa untuk meramu kompetensi, meramu mata pelajaran yang dipilih sebagai penyaluran dari bakat dan passionnya. Serta sebagai bagian dari persiapan untuk nantinya masuk ke perguruan tinggi negeri," kata dia.

Kepala Badan Standarisasi Kurikulum Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo, pada kesempatan yang sama menerangkan latar belakang dibalik perubahan Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Menurut dia, transformasi PMB dicipatakan sebagai dorongan atas upaya transformasi pembelajaran yang selaras dengan pendidikan dasar dan menengah.

Langkah tersebut dimaknai sebagai jembatan antara pendidikan tinggi dan pendidikan menengah. Dia menyampaikan, transformasi tersebut ingin menekankan agar pembelajaran di pendidikan tengah berorientasi pada perkembangan kecakapan dasar yang berpusat pada literasi, numerasi, dan daya nalar."Ini relevan dengan kesiapan belajar di semua program studi di pendidikan tinggi," ujar Anindito.

Dia kemudian menekankan, pembelajaran di tingkat pendidikan menengah haruslah holistik. Karena itu, dalam skema seleksi penerimaan mahasiwa baru teranyar, di jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), semua nilai mata pelajaran akan diberi porsi penilaian. Lewat langkah itu, ada satu pesan yang ingin disampaikan kepada siswa, yakni tidak ada mata pelajaran yang tidak penting."Sekaligus juga memberi pesan bahwa ada mata pelajaran yang harus didalami secara khusus oleh tiap calon mahasiswa," ujar dia.

Mata pelajaran yang dia maksud terkait dengan mata pelajaran yang menjadi minat dan aspirasi bagi calon mahasiswa. Melalui hal itu, transformasi penerimaan mahasiswa kali ini sekaligus juga menyampaikan pesan agar para calon mahasiswa terus berupaya mengidentifikasi minat bakat mereka."Sehingga calon mahasiswa bisa merancang studi yang seswuai dengan aspirasi, karir, dan minat bakat calon mahasiswa," jelas dia.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA