Wednesday, 17 Rajab 1444 / 08 February 2023

Waspada Demam tak Beralasan Diikuti Diare Sebagai Tanda Tertular HIV

Kamis 01 Dec 2022 15:10 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Petugas tenaga kesehatan melakukan screening dengan tes cepat  HIV AIDS kepada warga di Gasibu, Bandung, Jawa Barat, Ahad (20/11/2022).

Petugas tenaga kesehatan melakukan screening dengan tes cepat HIV AIDS kepada warga di Gasibu, Bandung, Jawa Barat, Ahad (20/11/2022).

Foto: ANTARA /Novrian Arbi
Segera periksakan diri jika mengalami demam tak beralasan diikuti diare.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Dokter spesialis kulit dan kelamin Hanny Nilasari mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami demam tanpa penyebab yang pasti serta diikuti diare sebagai antisipasi penularan HIV (Human Immunodeficiency Virus).

"Demam yang tidak diikuti batuk, pilek, bukan seperti demam infeksi paru-paru. Kemudian diikuti diare dan ada penurunan berat badan, nah itu harus kita perhatikan dan memeriksakan diri ke tenaga kesehatan," ujarnya dalam diskusi daring yang disiarkan RSCM Kencana melalui Instagram, Kamis (1/12/2022).

Baca Juga

Gejala lain yang menyerang penderita HIV adalah timbulnya gejala berat secara mendadak pada pasien. Hanny mencontohkan penyakit Dermatitis Seboroik, gangguan kulit yang menyerang wajah atau kulit kepala yang menyebabkan kulit menjadi bersisik. Ketika pasien melakukan pemeriksaan, barulah kemudian dokter mencurigai terjadinya penularan pada pasien.

"Biasanya gejalanya sudah berat baru ketahuan karena pada saat awal, sel-sel imunitas masih cukup mengatasi berbagai macam infeksi. Namun pada suatu saat dimana daya tahan sudah turun, sehingga manifestasi infeksinya bisa sangat berat," jelasnya.

Guna menghindari penularan HIV, dokter Divisi Infeksi Menular Seksial RSCM Kencana ini menyarankan masyarakat untuk lebih paham terhadap faktor risiko yang bisa menyebabkan terjadinya penularan HIV. Penyebab utama dari penularan HIV adalah kontak seksual yang berisiko yakni kontak seksual dengan berganti pasangan dan tidak mengetahui status pasangan dengan jelas.

"Kalau tahu bahwa kita berisiko, tentu akan makin baik kalau kita tahu cepat apakah kita mengalami infeksi ini karena infeksi ini bisa diobati. Makin cepat pengobatan dilakukan, makin baik perjalanan penyakitnya dan tidak akan masuk ke AIDS," katanya.

Lebih lanjut Hanny mengimbau masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri jika memang merasa memiliki gejala HIV. Semakin cepat pengobatan dilakukan maka semakin baik kualitas hidup dari penderita HIV selama pasien teratur meminum obat dan berkomitmen untuk sembuh.

"Sel imunitasnya bisa terjaga dengan baik dan tidak menimbulkan infeksi apa-apa. Banyak pasien yang sudah diobati dan sampai 10-20 tahun itu masih sehat," sebutnya.

Hanny berharap Hari AIDS Sedunia yang diperingati pada 1 Desember dapat menjadi langkah kecil sebagai pengingat untuk mencegah penularan HIV. Ini mengingat HIV membutuhkan pengobatan yang teratur dalam jangka panjang serta juga berdampak pada kematian.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA