Saturday, 13 Rajab 1444 / 04 February 2023

Masa Depan Ekonomi Indonesia dan ASEAN Diprediksi Cerah

Rabu 30 Nov 2022 23:39 WIB

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Orang Indonesia berjalan melintasi jalan utama di Jakarta. Indonesia dinilai masih menjadi primadona investasi asing. Laporan Winning in ASEAN hasil kolaborasi Standard Chartered dan PwC Singapura menunjukkan, total penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI) di Indonesia mencapai 20,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada 2021.

Orang Indonesia berjalan melintasi jalan utama di Jakarta. Indonesia dinilai masih menjadi primadona investasi asing. Laporan Winning in ASEAN hasil kolaborasi Standard Chartered dan PwC Singapura menunjukkan, total penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI) di Indonesia mencapai 20,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada 2021.

Foto: EPA-EFE/ADI WEDA
Laporan Winning in ASEAN menyebut Indonesia masih jadi primadona investasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia dinilai masih menjadi primadona investasi asing. Laporan Winning in ASEAN hasil kolaborasi Standard Chartered dan PwC Singapura menunjukkan, total penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI) di Indonesia mencapai 20,1 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada 2021.

Selain itu di skala regional ASEAN merupakan penerima FDI tertinggi ketiga secara global, dengan arus masuk sebesar 174 miliar dolar AS, dan kembali ke tingkat pra-pandemi. Sebanyak 50 persen arus masuk FDI ASEAN berasal dari AS, UE-27, dan China. Sedangkan FDI intra-ASEAN berkontribusi sekitar 12 persen dari arus FDI yang masuk pada kawasan tersebut pada 2021.

“Indonesia adalah negara kuat yang terus tumbuh di Asia, dengan PDB melebihi 1 triliun dolar AS, dan didukung oleh tenaga kerja berjumlah besar dan muda, serta sumber daya alam yang kaya," ujar Cluster CEO Indonesia and ASEAN Markets Standard Chartered, Andrew Chia, Rabu (30/11/2022).

Andrew mengatakan, melihat langkah berani dari pemerintah Indonesia untuk mengembangkan infrastruktur negara, mendorong transformasi digital, dan mempromosikan praktik berkelanjutan, Indonesia merupakan tujuan yang menarik bagi arus masuk FDI, yang mencapai 20,1 miliar dolar AS pada 2021.

 

"Dengan memanfaatkan jaringan global Standard Chartered, kami berada di posisi yang tepat untuk membantu perusahaan memanfaatkan peluang luar biasa yang ditawarkan Indonesia,” tutur Andrew.

Laporan tersebut juga menunjukkan adanya potensi pertumbuhan tidak terbantahkan. Perjanjian perdagangan, seperti Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan. Dengan diberlakukannya RCEP, 81 persen pemimpin bisnis yang disurvei berencana untuk meningkatkan investasi di ASEAN selama tiga hingga lima tahun ke depan.

Secara keseluruhan, 93 persen dari mereka mengharapkan pertumbuhan pendapatan yang positif pada bisnis mereka di ASEAN. Banyak pemimpin bisnis yang optimis tentang potensi pertumbuhan Indonesia secara keseluruhan, di mana 62 persen responden saat ini memiliki atau berencana untuk memiliki kehadiran bisnis di Indonesia selama tiga tahun ke depan.

“ASEAN adalah oase pertumbuhan dan siap untuk merevitalisasi ekonomi global, dengan PDB yang diperkirakan tumbuh sekitar 4 persen menjadi USD 4,5 triliun pada tahun 2030," ujar CEO Standard Chartered Asia, Benjamin Hung.

Di tengah kompleksitas global, kata dia, pihaknya melihat tren struktural yang menghadirkan peluang signifikan di ASEAN. Di mana ada pertumbuhan antarkonektivitas dalam perdagangan dan arus modal, adopsi digital yang kuat, dan percepatan transisi hijau.

"Perusahaan perlu bertindak tegas untuk menangkap apa yang ditawarkan ASEAN saat ini. Bekerja dengan mitra perbankan tepercaya untuk berkembang di ASEAN sangatlah penting,” tutur Benjamin.

Winning in ASEAN adalah laporan tahun 2022 rilisan Standard Chartered dan PwC Singapura yang memberikan gambaran tentang perubahan dan gangguan besar yang berdampak pada bisnis serta strategi kemenangan utama yang dilakukan oleh perusahaan untuk mendorong pertumbuhan di kawasan ASEAN.

Laporan itu dibuat berdasarkan masukan dari 500 pemimpin industri senior secara global di empat sektor dengan pertumbuhan tertinggi Konstruksi dan Infrastruktur, Produk Konsumen, Farmasi dan Kesehatan dan Digital dan e-Commerce dengan Compound Annual Growth Rates (CAGRs) diproyeksikan melebihi rata-rata industri secara keseluruhan selama beberapa tahun ke depan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA