Wednesday, 17 Rajab 1444 / 08 February 2023

Diundang Pemerintah Australia, AHY Kunjungi Sydney, Canberra, dan Melbourne

Rabu 30 Nov 2022 18:53 WIB

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra

Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Foto: Republika/Thoudy Badai
AHY bertemu Gubernur Jenderal Australia David J Hurley dan Menlu Penny Wong.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu sejumlah pemimpin politik dan pemerintah Australia dalam rangkaian kunjungan ke Sydney, Canberra, dan Melbourne. AHY mengaku, kunjungan ke tiga kota tersebut atas undangan resmi pemerintah Australia.

"Dulu, terakhir saya ke Australia menjalankan misi kerja sama militer. Kali ini, saya kembali memperkuat relasi bilateral Indonesia-Australia untuk mengokohkan fondasi perdamaian dan stabilitas kawasan di Indo-Pasifik," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (30/11/2022).

Selain itu, AHY juga berdiskusi dengan para akademisi terkemuka di kampus besar di Australia, serta bertemu juga dengan masyarakat Indonesia di sana. Di Canberra, AHY melakukan kunjungan kehormatan pada Gubernur Jenderal Australia Jend (Purn) David J Hurley, selaku Kepala Negara Australia, sekaligus simbol perwakilan Raja Inggris.

AHY juga berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia Penny Wong, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Richard Marles, Menteri Industri dan Science Ed Husic, warga Muslim pertama yang menjadi menteri dalam kabinet pemerintahan PM Anthony Albanese dan juga politisi dari Partai Liberal, yang sekarang menjadi oposisi.

"Ada banyak isu-isu fundamental yang kami diskusikan, untuk pembangunan ekonomi, demokrasi dan juga meningkatkan hubungan bilateral AusIndo, seperti yang dulu dilakukan oleh Presiden SBY," jelas peraih Adhi Makayasa Akmil 2000 tersebut.

Pada tataran global, AHY menyoroti multilateralisme yang bermasalah, juga rivalitas Amerika Serikat (AS) dan China di kawasan Indo-Pasifik. Sebagai negara middle power, ia berharap Indonesia dan Australia bisa bersama-sama menjaga stabilitas kawasan di Indo-Pasifik.

Selain itu, AHY menyampaikan tiga tantangan dan peluang bagi hubungan bilateral Indonesia dan Australia. Pertama, hubungan politik terjalin sangat baik, namun harus meningkatkan kerja sama ekonomi kedua negara, khususnya dalam bidang perdagangan dan investasi.

Kedua, trust atau rasa saling percaya adalah kunci penting bagi hubungan kedua negara sahabat. Ketiga, hubungan antara warga Indonesia dan Australia atau people-to-people contact menjadi key driver dan elemen penting bagi kedua negara.

AHY juga berkesempatan berdiskusi dengan Shadow Minister di bidang Luar Negeri Senator Simon Birmingham, dari Partai Liberal yang menjadi partai oposisi pemerintah saat ini. "Sebagai pihak oposisi di pemerintahan masing-masing, kami berdiskusi dengan hangat bagaimana bisa terus memajukan hubungan bilateral Indonesia dan Australia ke depan. Begitu juga di kawasan, peran ASEAN perlu ditingkatkan untuk menjaga stabilitas," jelas AHY.

Dia menambahkan, kedua belah pihak sepakat bahwa hubungan yang baik itu harus terus dilanjutkan, tanpa memandang partai mana yang berada di pemerintahan. "Komunikasi aktif di antara oposisi inilah yang menurut saya sangat baik dan perlu diapresiasi," ujar AHY.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA