Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Ensiklopedia Mushaf Alquran Terlengkap di Dunia Diluncurkan di Turki

Rabu 30 Nov 2022 05:03 WIB

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko

Direktur Majelis Hukama Muslimin (MHM) Indonesia, Muchlis M Hanafi.

Direktur Majelis Hukama Muslimin (MHM) Indonesia, Muchlis M Hanafi.

Foto: dok. istimewa
Mushaf Al-Ummah akan menjadi karya monumental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pertama kali dalam sejarah, Alquran dengan berbagai varian (qiraat) dan riwayat bacaannya akan dikodifikasi dalam sebuah produk cetak dan elektronik yang disebut mushaf Al-Ummah. Mushaf Al-Ummah adalah projek yang disupervisi oleh Syeikh Ahmad Isa al-Ma’sharawi, mantan Syeikh ‘Umum Al-Maqari Al-Mishriyyah (Ketua Majelis Halaqah Alquran Mesir), diluncurkan penyusunannya di kota Istanbul, Turki, pada Sabtu 26 November 2022.

Hadir dalam peluncuran tersebut Syeikh Muhammad Didu, ulama dan dai kondang asal Mauritania dan Syeikh Omar Abdul Kafi dari Mesir. Sebelumnya, selama tiga hari berturut-turut, 20 orang ulama Alquran dari 12 negara dipimpin al-Ma’sharawi mendiskusikan format mushaf al-Ummah dan pedoman penyusunannya. Hadir sebagai anggota tim dari Indonesia, Direktur Pusat Studi Alquran (PSQ), KH Muchlis M Hanafi yang pernah menjabat sebagai Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kementerian Agama (Kemenag) dari tahun 2015-2022.

Baca Juga

Menurut Kiai Muchlis, mushaf Al-Ummah akan menjadi karya monumental. "Seperti diketahui, Alquran diturunkan dengan berbagai varian bacaan, yang sampai kepada kita secara mutawatir, tidak diragukan kesahihannya, berjumlah 10 bacaan (qiraat), melalui 20 jalur periwayatan," kata Kiai Muchlis melalui pesan tertulis kepada Republika, Selasa (29/11/2022).

Ia menjelaskan, yang paling populer dibaca masyarakat Muslim dunia termasuk di Indonesia adalah qiraat Imam Ashim (w 120 H) melalui riwayat Hafsh (w 180 H). Di Maroko dan Al-Jazair misalnya, qiraat Imam Nafi (w 169 H) dari jalur riwayat Imam Warsy (w 197 H).

Ia menambahkan, sedangkan di Tunisia Imam Nafi melalui riwayat Qalun (w 220 H). Di Sudan yang populer bacaan riwayat Imam Al-Duri (w 246 H) dari Al-Kisa’i (w 189 H). Hanya empat bacaan yang populer saat ini.

Kiai Muchlis menyampaikan, percetakan Alquran di Madinah pernah mencetak mushaf dengan enam varian bacaan. Empat yang populer ditambah bacaan riwayat Imam Al-Susi (w 261 H) dari Abu Amr (w 154 H) dan Syu’bah (w 193 H) dari Imam Ashim. Lainnya tidak dikenal luas, hanya para ahli qiraat yang mengetahuinya.

"Selain itu, di masa Rasulullah, Alquran ditulis dalam berbagai media seadanya seperti kulit, pelepah kurma dan sebagainya. Dikumpulkan dalam satu mushaf pertama kali di masa pemerintahan Abu Bakar, dan ditulis ulang dalam beberapa naskah di masa Usman bin Affan," ujar Kiai Muchlis.

Ia menerangkan, dulu tulisan Alquran belum memiliki harakat dan tanda baca. Dalam perkembangannya ada bermacam gaya penulisan mushaf. Dikenal dengan istilah gaya masyariqah dan magharibah. Negara-negara seperti Turki, sub-kontinental (India) dan Indonesia juga punya kekhasan tersendiri.

Mengenai mushaf Al-Ummah, Kiai Muchlis menjelaskan, menghimpun Alquran dengan 10 varian bacaan (qiraat), melalui 20 jalur periwayatan, dengan tiga model penulisan (masyariqah, magharibah dan Turki). Akan terbit dalam 60 jilid edisi cetakan mushaf. Pada bagian pinggir setiap halaman dilengkapi dengan QR code yang dapat discan untuk mendengar bacaan setiap halaman dengan suara Syeikh Isa Al-Ma’sharawi.

"Prinsip dasar belajar Alquran melalui musyafahah (tradisi lisan), tidak hanya mengandalkan tulisan, sehingga keberadaan suara bacaan menjadi penting. Sesuai namanya, mushaf Al-Ummah, mushaf ini diharapkan dapat menghimpun seluruh wahyu Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah, dalam bentuk tulisan dan bacaan," jelas Kiai Muchlis.

Kiai Muchlis menambahkan, di antara keunggulan lain produk mushaf ini, anggota tim tashih adalah para ulama Alquran dari berbagai negara, antara lain Syeikh Samih Atsaminah dan Ahmad Syukri dari Yordania, Syeikh Hasan Boso dari Senegal, Syaikh M Zainal Abidin dari Mauritania, Syeikh A Miyan Tahanawi dari Pakistan, dan Syeikh Hafiz Usman Shahin dari Turki.

Kemudian ada Syeikh M Ali Athafay dari Maroko, Syeikh Ghanim Qadduri dari Irak, Syeikh Anas Al-Kandari dari Kuwait, Kiai Muchlis Hanafi dari Indonesia dan lainnya. Proyek ini direncanakan akan selesai dalam waktu satu tahun setengah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA