Monday, 15 Rajab 1444 / 06 February 2023

NATO Kembali Berkomitmen untuk Keanggotaan Ukraina

Selasa 29 Nov 2022 18:36 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyampaikan pidatonya saat tiba di hari pertama pertemuan para Menteri Luar Negeri NATO di Bukares, Rumania, Selasa, 29 November 2022.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyampaikan pidatonya saat tiba di hari pertama pertemuan para Menteri Luar Negeri NATO di Bukares, Rumania, Selasa, 29 November 2022.

Foto: AP Photo/Andreea Alexandru
Meski begitu, Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO dalam waktu dekat.

REPUBLIKA.CO.ID, KIEV -- Sekretaris Jenderal Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jens Stoltenberg menegaskan kembali komitmen aliansi militer untuk Ukraina pada Selasa (29/11/2022). Ia mengatakan bahwa negara yang dilanda perang itu suatu hari akan menjadi anggota organisasi keamanan terbesar di dunia.

Pernyataan Stoltenberg disampaikan saat pertemuan menteri luar negeri negara anggota NATO di Rumania. Pertemuan tersebut digelar untuk menggalang dukungan yang sangat dibutuhkan untuk Ukraina yang bertujuan  memastikan bahwa Moskow gagal mengalahkan Ukraina karena membombardir infrastruktur energi.

Baca Juga

"Pintu NATO terbuka. Rusia tidak memiliki hak veto terhadap negara-negara yang bergabung," kata Stoltenberg, mengacu pada masuknya Makedonia Utara dan Montenegro baru-baru ini ke dalam aliansi keamanan.

Dia mengatakan, Presiden Rusia Vladimir Putin akan segera menerima Finlandia dan Swedia sebagai anggota NATO. Tetangga Nordik mengajukan keanggotaan pada April di tengah kekhawatiran Rusia akan menargetkan mereka selanjutnya.

"Kami mendukung itu juga, tentang keanggotaan untuk Ukraina," kata mantan perdana menteri Norwegia itu. "Pada saat yang sama, fokus utama sekarang adalah mendukung Ukraina, memastikan bahwa Presiden Putin tidak menang, tetapi Ukraina menang sebagai negara berdaulat di Eropa," imbuhnya.

Stoltenberg mengulangi sumpah yang dibuat oleh NATO di Bucharest pada 2008—di Istana Parlemen ketika para menteri luar negeri bertemu minggu ini—bahwa Ukraina, dan juga Georgia, akan bergabung dengan aliansi itu suatu hari nanti. Beberapa pejabat dan analis meyakini bahwa langkah yang ditekankan pada sekutu NATO oleh mantan Presiden AS George W. Bush ikut bertanggung jawab atas perang yang diluncurkan Rusia di Ukraina pada Februari. Stoltenberg tidak setuju.

"Presiden Putin tidak dapat menyangkal negara berdaulat untuk membuat keputusan berdaulat mereka sendiri yang bukan merupakan ancaman bagi Rusia," katanya. “Saya pikir yang dia takuti adalah demokrasi dan kebebasan, dan itulah tantangan utama baginya," ujarnya menambahkan.

Meski begitu, Ukraina tidak akan bergabung dengan NATO dalam waktu dekat. Dengan dianeksasinya Semenanjung Krimea, dan pasukan Rusia serta separatis pro-Moskow menguasai bagian selatan dan timur, tidak jelas seperti apa perbatasan Ukraina nantinya. Banyak dari 30 sekutu NATO meyakini bahwa fokus sekarang harus mengalahkan Rusia.

Selama pertemuan dua hari di Rumania, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken akan mengumumkan bantuan substansial AS untuk jaringan energi Ukraina. Jaringan Ukraina telah dihancurkan di seluruh negeri sejak awal Oktober oleh serangan Rusia yang ditargetkan.

"Kita semua membayar harga untuk perang Rusia melawan Ukraina. Tapi harga yang kami bayar adalah uang, sedangkan harga yang dibayar orang Ukraina adalah harga yang dibayar dengan darah," kata Stoltenberg.

Pertemuan di Rumania kemungkinan akan membawa NATO membuat janji baru tentang dukungan ke Ukraina, seperti bahan bakar, generator, pasokan medis, peralatan musim dingin, dan perangkat pengacau drone. Sekutu individu juga kemungkinan akan mengumumkan pasokan baru peralatan militer untuk Ukraina, terutama sistem pertahanan udara yang sangat dicari Kiev untuk melindungi udaranya.

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA