Tuesday, 16 Rajab 1444 / 07 February 2023

Menilik Smart Farming ala Komunitas Anak Muda di Bali

Selasa 29 Nov 2022 02:47 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Bayu Hermawan

Petani sedang menggarap lahan (ilustrasi).

Petani sedang menggarap lahan (ilustrasi).

Foto: kementan
Komunitas Petani Muda Keren dorong penggunaan sistem smart farming.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komunitas Petani Muda Keren menyadari dunia pertanian masih identik dengan kotor, melelahkan, dan tidak efisien. Sehingga komunitas itu merumuskan resep guna menggelorakan lagi sektor pertanian. 

Pendiri Komunitas Petani Muda Keren, Anak Agung Gede Agung Wedhatama mengajak para petani di Bali yang berusia tua maupun muda untuk mengembangkan pertanian organik. Metodenya bisa menggunakan sistem smart farming, irigasi sprinkle, hingga penggunaan artificial intelligent

Baca Juga

"Jadi, tidak ada lagi petani itu capek, panas dan kotor. Dengan smart farming, efisiensi jadi tinggi dan cost bisa ditekan sampai 70 persen," kata pria asal Singaraja, Bali itu dalam keterangannya, Senin (28/11). 

Gung Wedha tidak memungkiri ada citra kuat dunia pertanian itu tidak baik. Segala aktivitas yang berbau pertanian, lanjut dia, dinilai melelahkan, tidak nyaman, dan kotor.  "Mengapa pertanian kita ditinggalkan? Karena cost-nya tinggi, dan efisiensi rendah," ungkap Gung Wedha ini.

Menurut Gung Wedha, pertanian selama ini dinilai ekonomi biaya tinggi. Baik dari saat pra tanam, masa tanam, dan panen. Selain itu, sistem pemasaran masih tradisional, sehingga tak bisa menjangkau tempat jauh.

Lewat komunitas yang dia bangun, Gung Wedha mengubah citra buruk tersebut. Untuk pemasaran contohnya, Gung Wedha mengajak para petani di Komunitas Petani Muda Keren Bali untuk memasarkan produk hasil pertanian melalui aplikasi khusus, yaitu Bali Organik Subak (BOS). Melalui aplikasi ini, para petani yang tergabung dalam komunitas yang dia bangun bisa menjual produknya hingga ke luar negeri. 

"Kami ada ekspor buah-buahan seperti manggis dan mangga ke China, Rusia, dan Timur Tengah," ujar Gung Wedha. 

Tercatat, komunitas yang berdiri sejak 2018 ini menghimpun sekitar seribu petani di Pulau Dewata. Mereka tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Bali. Para petani menanam palawija dan produk hortikultura seperti padi, jagung, aneka umbi, sorgum,, manggis, mangga, jeruk. 

"Menanam macam-macam. Kalau ditotal kurang lebih kami mengelola sekitar 500 hektare lahan pertanian," ungkap Gung Wedha.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA