Monday, 8 Rajab 1444 / 30 January 2023

Mengapa Allah SWT Jadikan Cahaya Hakikat Berada dalam Otoritas-Nya?

Senin 28 Nov 2022 20:04 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi hakikat. Allah SWT memberikan cahaya hakikat kepada siapa pun yang Dia kehendaki

Ilustrasi hakikat. Allah SWT memberikan cahaya hakikat kepada siapa pun yang Dia kehendaki

Foto: ANTARA
Allah SWT memberikan cahaya hakikat kepada siapa pun yang Dia kehendaki

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Orang yang mendapat cahaya hakikat bisa mengetahui hakikat dari sesuatu. Cahaya hakikat bisa meredup jika Allah SWT belum mengizinkan seseorang untuk menunjukkannya kepada orang lain. 

ربما برزت الحقائق مكسوفة الأنوار، إذا لم يؤذن لك فيها بالإظهار 

Baca Juga

 

"Bisa jadi cahaya hakikat meredup jika kamu belum diizinkan menampakkannya." (Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam)

 

Penyusun syarah dan penerjemah Al-Hikam, D A Pakih Sati Lc dalam buku Kitab Al-Hikam dan Penjelasannya yang diterbitkan penerbit Noktah tahun 2017 menjelaskan maksud Syekh Athaillah mengenai cahaya hakikat dalam diri bisa meredup. 

 

Cahaya hakikat bermanfaat untuk melihat hakikat sesuatu. Jika kamu melihat suatu musibah yang menimpa keluarga kamu, maka dengan cahaya hakikat kamu bisa mengetahui hikmahnya dan rahasia yang ada di baliknya. 

 

Hanya saja, perlu diingat bahwa cahaya ini bisa meredup, yaitu jika kamu memperlihatkannya bukan pada tempatnya sehingga yang terjadi adalah fitnah. Sebab tidak semua rahasia dan hakikat harus kamu beritahukan kepada orang lain. 

 

Tingkat akal dan pemikiran manusia itu berbeda-beda. Seseorang yang termasuk golongan intelektual, tentu dia bisa memahami sesuatu yang kamu katakan. 

 

Sedangkan bagi orang awam, pembicaraan kamu akan sulit dipahami, bahkan bisa jadi kamu mendapat cemoohan darinya. 

 

Perhatikanlah sejarah masa lalu. Berapa banyak orang-orang yang tidak berhati-hati dan bijaksana dalam mengungkap rahasia dan hakikat, sehingga mereka meninggal dalam keadaan tragis dan mengenaskan. 

 

Terjemah kitab Al-Hikam oleh Ustadz Bahreisy menambah penjelasan perkataan Syekh Athaillah mengenai cahaya hakikat yang bisa meredup. 

 

Ustadz Bahreisy menerangkan, siapa yang belum sempurna sifat-sifatnya, belum diizinkan untuk menerangkan hakikat. 

 

Jika dia menerangkannya akan terlihat suram cahayanya, karena dia sendiri masih diliputi oleh sesuatu yang berlawanan dengan hakikat itu. Karena itu juga perkataannya ditolak pendengarnya. 

 

Abul Abbas Almarsy mengatakan, seorang wali itu lebih dahulu telah dipenuhi ilmu dan pengertian makrifat sehingga hakikat itu menjadi keyakinan dan terlihat terang baginya. 

 

Karena itu jika melepaskan kalimat seolah-olah mendapat izin dari Allah SWT, dan kalimat yang dikeluarkan itu indah, maka langsung diterima oleh pendengarnya.         

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA