Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

Beijing Laporkan Lebih dari 2.000 Kasus Covid-19 Baru di Tengah Protes

Senin 28 Nov 2022 17:57 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha

 Petugas polisi China memblokir akses ke lokasi tempat para pengunjuk rasa berkumpul di Shanghai pada Ahad, 27 November 2022. Ibu kota China, Beijing, melaporkan 2.086 kasus Covid-19 baru lokal selama 15 jam, Senin (28/11/2022).

Petugas polisi China memblokir akses ke lokasi tempat para pengunjuk rasa berkumpul di Shanghai pada Ahad, 27 November 2022. Ibu kota China, Beijing, melaporkan 2.086 kasus Covid-19 baru lokal selama 15 jam, Senin (28/11/2022).

Foto: AP
Pada Senin, jumlah kasus harian baru naik menjadi 40.347 di seluruh China.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Ibu kota China, Beijing, melaporkan 2.086 kasus Covid-19 baru lokal selama 15 jam, Senin (28/11/2022). Hal ini dikonfirmasi oleh wakil direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit kota, Liu Xiaofeng dalam sebuah pengarahan.

Angka baru tercatat di tengah protes meluas tentang kebijakan penguncian yang terjadi di beberapa kota di China. Pengunjuk rasa turut menuntut Presiden Xi Jinping mengundurkan diri selama protes terhadap kendali yang membatasi jutaan orang di rumah mereka.

Baca Juga

Pihak berwenang kemudian melonggarkan aturan antivirus di daerah-daerah yang tersebar. Pemerintah kota Beijing mengumumkan tidak akan lagi memasang gerbang untuk memblokir akses ke kompleks apartemen tempat infeksi ditemukan.

"Jalan-jalan harus tetap bersih untuk transportasi medis, pelarian darurat dan penyelamatan,” kata seorang pejabat kota yang bertanggung jawab atas pengendalian epidemi, Wang Daguang, menurut Kantor Berita resmi China.

Zero COVID bertujuan untuk mengisolasi setiap orang yang terinfeksi dan memang telah membantu menjaga jumlah kasus China lebih rendah daripada Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya. Namun demikian, warga di beberapa daerah muak telah dikunci di rumah hingga empat bulan dan mengatakan mereka kekurangan persediaan makanan.

Bulan lalu, partai yang berkuasa berjanji mengurangi gangguan "nol COVID" dengan mengubah karantina dan aturan lainnya. Namun, penerimaan publik menipis setelah lonjakan infeksi mendorong kota-kota untuk kembali memperketat kendali penguncian. Hal inilah yang memicu protes warga.

Pada Senin, jumlah kasus harian baru naik menjadi 40.347 di seluruh China, termasuk 36.525 tanpa gejala. Surat kabar partai yang berkuasa People's Daily menyerukan agar strategi anti-virusnya dilakukan secara efektif. Pihaknya menunjukkan bahwa pemerintah Xi tidak memiliki rencana untuk mengubah arah.

"Fakta telah sepenuhnya membuktikan bahwa setiap versi rencana pencegahan dan pengendalian telah bertahan dalam ujian praktek," tulis seorang komentator People's Daily.

Protes menyebar ke setidaknya delapan kota besar setelah setidaknya 10 orang tewas Kamis dalam kebakaran di sebuah gedung apartemen di Urumqi, Xinjiang. Sebagian besar pengunjuk rasa mengeluh tentang pembatasan yang berlebihan, tetapi beberapa meneriakkan slogan-slogan menentang Xi, pemimpin paling kuat China setidaknya sejak 1980-an. Dalam sebuah video yang diverifikasi oleh The Associated Press, kerumunan di Shanghai pada Sabtu meneriakkan, “Xi Jinping! Mengundurkan diri! PKT! Mengundurkan diri!"

Polisi menggunakan semprotan merica membubarkan demonstrasi itu, tetapi orang-orang kembali ke tempat yang sama pada Ahad waktu setempat untuk protes lain. Seorang reporter dilaporkan dibawa pergi dengan bus polisi setelah ditahan.

sumber : AP/Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA