Monday, 8 Rajab 1444 / 30 January 2023

Uganda Perpanjang Karantina Ebola Selama 21 Hari

Ahad 27 Nov 2022 22:54 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/Reuters/ Red: Muhammad Fakhruddin

Seorang pekerja medis mensterilkan tenda yang digunakan untuk orang yang dicurigai sebagai korban Ebola di dalam pusat isolasi Ebola Pusat Kesehatan Madudu III, di desa Madudu, di distrik Mubende, Uganda, Selasa, 1 November 2022. Kepala Kesehatan Dunia Organization mengatakan pada hari Rabu, 16 November 2022, bahwa ia mengharapkan dosis pertama vaksin Ebola yang menargetkan jenis penyebab wabah saat ini di Uganda akan tiba di negara tersebut minggu depan.

Seorang pekerja medis mensterilkan tenda yang digunakan untuk orang yang dicurigai sebagai korban Ebola di dalam pusat isolasi Ebola Pusat Kesehatan Madudu III, di desa Madudu, di distrik Mubende, Uganda, Selasa, 1 November 2022. Kepala Kesehatan Dunia Organization mengatakan pada hari Rabu, 16 November 2022, bahwa ia mengharapkan dosis pertama vaksin Ebola yang menargetkan jenis penyebab wabah saat ini di Uganda akan tiba di negara tersebut minggu depan.

Foto: AP/Hajarah Nalwadda
Sejauh ini, Uganda mencatat 141 infeksi.

REPUBLIKA.CO.ID,KAMPALA -- Presiden Uganda Yoweri Museveni memperpanjang karantina di dua distrik yang menjadi pusat wabah Ebola di negara itu selama 21 hari. Langkah ini diambil sebagai tanggapan pemerintah terhadap wabah penyakit tersebut.

Pergerakan masuk dan keluar dari distrik Mubende dan Kassanda di Uganda tengah akan dibatasi hingga 17 Desember. Sebelumnya karantina diberlakukan selama 21 hari hingga 15 Oktober. Kemudian diperpanjang untuk periode yang sama pada 5 November.

Baca Juga

"Perpanjangan itu bertujuan untuk lebih mempertahankan pergerakan dalam mengendalikan Ebola yang telah kami tetapkan sebelumnya, dan melindungi seluruh negara dari paparan yang berkelanjutan," kata Museveni.

Museveni mengklaim upaya pemerintah mengatasi wabah Ebola dengan menerapkan karantina telah berhasil menekan penyebaran kasus. Dia mengatakan, distrik Mubende dan Kassanda telah mencatat nol kasus selama dua pekan terakhir.

"Mungkin terlalu dini untuk merayakan keberhasilan apa pun, tetapi secara keseluruhan, saya telah menerima laporan bahwa progresnya bagus," kata Museveni dalam sebuah pernyataan.

Sejauh ini, Uganda mencatat 141 infeksi.  Lima puluh lima orang telah meninggal sejak wabah Ebola yang mematikan diumumkan pada 20 September. Museveni mengatakan, meskipun wabah secara bertahap dapat dikendalikan, situasinya masih rapuh. Dia menambahkan, sistem kesehatan negara yang lemah dan penyebaran informasi yang salah tentang penyakit tersebut masih menjadi tantangan.

 Virus Ebola yang beredar di Uganda adalah jenis Sudan, dan belum ada vaksin yang terbukti. Jenis virus Ebola Sudab ini berbeda dengan jenis Zaire yang lebih umum, dan belum lama ini menyebar di Republik Demokratik Kongo (DRC). 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA