Jumat 25 Nov 2022 06:54 WIB

Presiden dianugerahi 'Global Leadership Award' atas peran di G20

Dalam 8 tahun terakhir, ini prestasi terbaik dari politik luar negeri Presiden Jokowi

Presiden Jokowi bertemu Presiden AS Joe Biden di lokasi KTT G20 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali. (Ilustrasi)
Foto: Dok Setkab
Presiden Jokowi bertemu Presiden AS Joe Biden di lokasi KTT G20 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali. (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komunitas hubungan internasional Indonesia, yang terdiri dari Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) dan sejumlah asosiasi lainnya, menganugerahkan penghargaan Global Leadership Award kepada Presiden Joko Widodo atas perannya selama masa presidensi Indonesia di forum G20 pada tahun 2022.

Pendiri dan pimpinan FPCI Dino Patti Djalal mengatakan, bahwa penghargaan tersebut akan secara resmi dianugerahkan kepada Presiden Jokowi dalam gelaran Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) pada Sabtu, 26 November mendatang.

"Dalam delapan tahun terakhir, ini prestasi terbaik dari politik luar negeri Presiden Jokowi. Dalam delapan tahun terakhir ini banyak kegiatan politik luar negeri yang berkaitan dengan berbagai hal, tapi menurut saya ini yang paling signifikan," kata Dino dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (24/11/2022),

Menurutnya, keberhasilan presidensi Indonesia di G20, di tengah situasi dunia yang berada dalam sebuah krisis, merupakan sesuatu yang patut diapresiasi, karena itu bukanlah sebuah capaian kecil.

"Saya rasa sejarah Indonesia juga akan mencatat presidensi G20 ini sebagai suatu momen emas dalam politik luar negeri RI, jadi kita ingin publik tahu bahwa ini bukan satu hal sepele, tetapi benar-benar suatu hal yang patut diapresiasi dan bahkan membanggakan," ujarnya.

Tak hanya soal presidensi Indonesia di G20 di tengah situasi global yang tak menentu, Dino juga menyoroti kekhawatiran yang datang dari berbagai pihak terkait G20 sendiri sebagai forum yang mewadahi 20 ekonomi terbesar dunia.

Terutama dengan adanya peperangan di Ukraina, banyak pihak memandang bahwa G20 sudah sangat terpecah belah, tambah Dino, serta terjerumus dalam suasana perseteruan yang sulit untuk dijembatani.

Bahkan, sepanjang tahun ini berbagai pertemuan G20 di tingkat menteri tidak dapat menghasilkan dokumen bersama. Sehingga, menimbulkan spekulasi bahwa deklarasi bersama juga tidak dapat dicapai di tingkat kepala negara pada konferensi tingkat tinggi di Bali.

"Banyak yang mengkhawatirkan KTT G20 sudah rusak permanen dan tidak bisa menghasilkan kesepakatan yang berarti, semua kekhawatiran ini adalah hal yang nyata namun dapat dijawab dengan cemerlang oleh Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi," papar Dino.

Dia menambahkan, bahwa Indonesia telah berhasil menyelamatkan G20 dan bahkan membuat G20 tetap sebagai motor solusi ekonomi dunia.

Penghargaan tersebut diberikan oleh FPCI bersama sejumlah organisasi lainnya yakni Pemuda Muhammadiyah, Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII), Purna Paskibraka Indonesia DKI Jakarta, dan Indonesia Diaspora Network Global (IDNG).

Penghargaan itu juga diharapkan untuk dapat menjembatani komunikasi yang lebih strategis dan lebih dalam antara para pengambil kebijakan, khususnya dalam bidang politik luar negeri dan diplomasi, dengan berbagai konstituen dan pemangku kepentingan yang populasinya sangat besar di Indonesia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement