Friday, 8 Jumadil Awwal 1444 / 02 December 2022

Kisah Dakwah Khas Abu Dzar

Kamis 24 Nov 2022 20:02 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Sahabat Nabi

Ilustrasi Sahabat Nabi

Foto: MgIt03
Ia berdakwah menemui pusat-pusat kekuasaan.

REPUBLIKA.CO.ID, Abu Dzar datang tergopoh-gopoh ke Makkah. Ia mencari Rasulullah. Abu Dzar sudah berjalan dari negeri bernama Ghifar menuju Makkah. Ghifar adalah suatu tempat yang sangat jauh dari Makkah. Tak ada yang bisa menandingi jauhnya Ghifar.

“Kamu dari mana?” tanya Rasul ketika Abu Dzar menemuinya.

Baca Juga

Abu Dzar ingin menemui Rasul hanya ingin menyatakan keislamannya. “Saya dari Ghifar,” kata Abu Dzar.

Rasulullah takjub sekali dengan Abu Dzar. Agama Islam yang dibawanya sampai hingga negeri Ghifar yang sangat jauh. Abu Dzar menyatakan memeluk Islam. Ia merupakan orang-orang yang memeluk Islam pertama kali. Ketika itu, Nabi berdakwah dengan sembunyi-sembunyi. Tapi, tak ada kata sembunyi dalam kamusnya.

Ia langsung menyatakan keislamannya. Ia pergi ke Masjidil Haram dan berteriak menyatakan keislamannya. “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah,” teriak Abu Dzar.

Teriakan itu menentang kesombongan kaum kafir Quraisy. Akibatnya, Abu Dzar disiksa. Orang-orang memukulinya. Berita dipukulinya Abu Dzar akhirnya sampai ke telinga paman nabi.

“Anda semua pedagang. Ia Bani Ghifar. Apakah kamu tidak takut orang-orang Ghifar akan merampok kamu nanti?”

Orang-orang berhenti memukuli Abu Dzar. Abu Dzar lalu kembali ke Ghifar. Kepada penduduk Ghifar ia menceritakan tentang Nabi Muhammad. Penduduk Ghifar banyak yang memeluk Islam.

Abu Dzar memeluk Islam dengan taat. Ia berdakwah menemui pusat-pusat kekuasaan. Ia berdakwah agar para pembesar bersikap dermawan dan tidak menumpuk kekayaan.

Ia mengajarkan hidup sederhana dan tidak boros. Ia menyerukan agar tidak berlaku curang dalam mengumpulkan harta.

Nama Abu Dzar terkenal. “Beritakan kepada penumpuk harta, mereka akan disetrika dengan setrika api neraka,” kata Abu Dzar. Kalimat itu menjadi dakwah khas Abu Dzar.

Abu Dzar tetap hidup dengan kesederhanaannya. Ia masih memakai baju usang. Abu Dzar selalu bersyukur dengan semua pemberian Allah. Ia sangat sederhana dan tidak cinta dunia. ¦ ,

disarikan dari karya Khalid Muh Khalid dalam buku karakteristik Peri Hidup Sahabat Rasulullah

sumber : Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA