Saturday, 16 Jumadil Awwal 1444 / 10 December 2022

Penderita Asma Berisiko Tinggi Kena Serangan Jantung dan Strok, Mengapa Begitu?

Kamis 24 Nov 2022 19:41 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda

Bronkodilator, obat untuk mengatasi penyakit asma. Menderita asma menggandakan risiko mengalami serangan jantung dan strok.

Bronkodilator, obat untuk mengatasi penyakit asma. Menderita asma menggandakan risiko mengalami serangan jantung dan strok.

Foto: ABC
Risiko pengidap asma kena serangan jantung-strok lebih tinggi dari yang diperkirakan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKATA -- Seseorang dengan asma ternyata memiliki peningkatan risiko mengembangkan dua kondisi yang sering kali fatal daripada yang diperingatkan para ahli sebelumnya. Sekitar delapan juta orang di Inggris atau 12 persen dari populasi menderita asma.

Di Indonesia, asma merupakan salah satu jenis penyakit yang paling banyak diidap. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2020, hingga akhir tahun 2020, jumlah penderita asma di Indonesia sebanyak 4,5 persen dari total penduduk atau 12 juta lebih.

Baca Juga

Penelitian baru menemukan bahwa menderita asma menggandakan risiko mengalami serangan jantung dan strok. Hal itu karena sebagian besar dari mereka yang memiliki kondisi tersebut memiliki lebih banyak penumpukan plak di arteri karotis dibandingkan yang tidak memiliki asma, menurut temuan para peneliti AS.

Arteri karotis adalah pembuluh darah utama yang menyediakan suplai darah ke otak. Penumpukan plak biasanya dikaitkan dengan kondisi seperti tekanan darah tinggi, diabetes, bahkan obesitas dan merokok.

Namun, peradangan kronis pada saluran udara, efek samping asma, seiring waktu juga dapat menyebabkan penumpukan plak. Ketika plak pecah dapat memicu serangan jantung atau strok.

Para ahli menemukan bahwa mereka yang menderita asma persisten, suatu bentuk penyakit yang kambuh setiap pekan atau bahkan setiap hari, memiliki risiko tertinggi terkena penyakit jantung. Hal itu jika dibandingkan dengan mereka yang memiliki asma intermiten yang muncul setiap beberapa bulan sekali.

Penulis studi utama, Profesor Matthew C Tattersall dari University of Wisconsin di Madison, AS mengatakan banyak dokter dan pasien tidak menyadari bahwa peradangan saluran napas asma dapat memengaruhi arteri. Jadi, bagi penderita asma persisten, mengatasi faktor risiko penyakit kardiovaskular akan sangat membantu.

Studi yang telah ditinjau sejawat dan diterbitkan dalam Journal of American Heart Association menganalisis data kesehatan lebih dari 5.000 orang dewasa yang berisiko terkena penyakit jantung. Peserta memiliki berbagai tingkat asma, sementara beberapa lainnya tidak memiliki tanda-tanda penyakit.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA