Tuesday, 5 Jumadil Awwal 1444 / 29 November 2022

Sang Juru Runding Perang

Rabu 23 Nov 2022 05:55 WIB

Red: Joko Sadewo

Turki menjadi mediator antara Rusia dan Ukraina. Foto ilustrasi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Turki menjadi mediator antara Rusia dan Ukraina. Foto ilustrasi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Foto: AP Photo/Firdia Lisnawati
Turki menjadi mediator antara Rusia dan Ukraina.

Oleh : Esthi Maharani, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Perang antara Rusia dan Ukraina sudah berjalan sembilan bulan. Selama itu pula, salah satu negara yang memiliki peran vital sebagai juru runding atau mediator adalah Turki. Di bawah kuasa Recep Tayyip Erdogan, Turki bergerak gesit untuk berupaya meredam konflik.

Peran Turki pun berkembang seiring perang yang tak kunjung usai. Turki tak lagi hanya menjadi penengah untuk mencari perdamaian, tetapi juga membukakan jalan tengah untuk ekses yang terjadi selama perang.

Misalnya, dalam konteks Black Sea Grain Initiative (BSGI) atau Inisiatif Gandum di Laut Hitam antara Rusia dan Ukraina. Kesepakatan biji-bijian tahap pertama terjadi pada 22 Juli lalu. Kala itu, Turki, PBB, Rusia dan Ukraina menandatangani perjanjian di Istanbul untuk melanjutkan ekspor biji-bijian dari tiga pelabuhan Ukraina di Laut Hitam, yang telah dihentikan pada Februari karena perang Rusia di Ukraina.

Jelang masa berakhir kesepakatan, Rusia menunjukkan gelagat ogah memperpanjang dengan alasan Ukraina memanfaatkan koridor gandum untuk tujuan militer. Rusia menduga armada angkatan laut dan infrastruktur militernya di Sevastopol diserang pesawat nirawak (drone) Ukraina. Tak hanya itu, Rusia juga menuding Barat berbohong karena tidak benar-benar mengirimkan gandum ke negara yang membutuhkan tetapi hanya untuk memenuhi kebutuhan negaranya sendiri.

Kekhawatiran Rusia yang enggan memperpanjang kesepakatan koridor gandum tentunya akan berdampak lebih parah pada krisis pangan global yang semakin terasa di berbagai belahan dunia. Padahal sudah hampir 500 kapal membawa lebih dari 11 juta ton biji-bijian dan bahan makanan dalam empat bulan terakhir atau sejak 1 Agustus 2022. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya perjanjian tersebut untuk pasokan dan keamanan pangan dunia.

Turki lagi-lagi menambil inisiatif untuk menengahi. Hingga akhirnya dicapai kesepakatan untuk memperpanjang selama 120 hari terhitung sejak 19 November 2022.

“Sebagai hasil dari pembicaraan empat arah yang diselenggarakan oleh Turki, Perjanjian Koridor Gandum di Laut Hitam diperpanjang selama 120 hari mulai 19 November 2022, sejalan dengan keputusan yang diambil antara Turki, Perserikatan Bangsa-Bangsa, Federasi Rusia, dan Ukraina,” ungkap Erdogan di Twitter.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa partisipasi Turki dalam penerapan kembali inisiatif gandum adalah alasan utama mengapa Rusia mempercayai perjanjian tersebut. “Pentingnya kesepakatan tersebut ditekankan, dan tentu saja, pekerjaan yang dilakukan oleh Ankara dan secara khusus oleh militer Turki, diplomat Turki, dan Presiden (Recep Tayyip) Erdogan layak mendapat pujian yang tinggi,” kata Peskov.

Dalam sebuah posting-an di Twitter, Zelenskyy mengatakan: “Dalam percakapan via telepon dengan Presiden Erdogan kami memuji perpanjangan kesepakatan biji-bijian. Saya berterima kasih karena telah mendukung inisiatif kami dan meyakinkan bahwa Ukraina akan tetap menjadi penjamin stabilitas pangan. Kerja sama keamanan dan energi juga dibahas.”

Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain dan negara-negara lain memuji upaya Turki dan PBB dalam mengamankan perpanjangan Inisiatif Gandum di Laut Hitam. Negara-negara tersebut berharap pengiriman biji-bijian akan meringankan krisis pangan di dunia.

Upaya yang intens dari Turki ini berdampak sangat besar. Inisiatif gandum yang diperpanjang akan membantu menghilangkan defisit pangan di dunia. Tak hanya itu, perpanjangan itu juga akan berkontribusi meringankan beban negara-negara yang bermasalah dengan bahan makanan. Lebih dari itu, hal yang perlu digarisbawahi adalah tercapainya kesepakatan tersebut menunjukkan pentingnya diplomasi rahasia dalam menemukan solusi multilateral.

Tak hanya soal kesepakatan koridor gandum, Turki pun lihai dalam meredam potensi ketegangan perang antara Rusia dan Ukraina. Hal ini dapat dilihat ketika adanya serangan rudal diduga terjadi di desa Przewodow, timur Polandia, yang terletak beberapa kilometer dari perbatasan dengan Ukraina telah menewaskan dua orang.

Tak langsung menyimpulkan atau menuduh rudal tersebut dari Rusia, Turki meminta negara-negara lain terutama NATO untuk menahan diri dan melakukan penyelidikan sebelum memberikan respons atas serangan rudal. Pasalnya, Polandia adalah anggota NATO sehingga serangan ke negara tersebut sama dengan memberikan legitimasi pada negara anggota yang lain untuk menyerang negara yang diduga memicu konflik. Dalam hal ini tuduhan diarahkan ke Rusia.

Ketika peristiwa itu terjadi, Erdogan langsung memberikan pernyataan bahwa dia akan berbicara kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin. Erdogan mengatakan menuding Rusia (melancarkan serangan rudal ke Polandia) malah akan semakin meningkatkan ketegangan di kawasan.

"Saya perlu menghormati pernyataan dari Rusia. Dalam hal ini, penting bagi kami (untuk menghargai) Rusia yang mengatakan, 'Ini tidak ada hubungannya dengan kita'. Sementara, kami berusaha menyatukan Rusia dan Ukraina di meja yang sama, tidak perlu menemukan mitra ketiga dalam perang ini,” kata Erdogan di sela-sela KTT G20 di Bali.

Kini, peran Turki akan semakin dinanti untuk benar-benar bisa menyudahi perang antara Rusia dan Ukraina. Tentu saja, perang bukanlah hal yang mudah dicarikan solusi. Perlu kesabaran, ketelatenan, dan kelapangan hati dari berbagai pihak untuk duduk bersama dan bernegosiasi. Dan seharusnya, ini bukan cuma pekerjaan Turki.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA