Rabu 23 Nov 2022 04:25 WIB

Beijing Kembali Tutup Taman dan Museum

Kasus Covid-19 di Beijing kembali melonjak.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Indira Rezkisari
 Seorang wanita melakukan swab tenggorokan COVID-19 secara rutin di tempat pengujian virus corona di sepanjang jalur pejalan kaki di Beijing, Kamis, 3 November 2022. Partai Komunis yang berkuasa memberlakukan kebijakan Nol COVID yang telah menutup area di seluruh China untuk minggu untuk mencoba mengisolasi setiap kasus.
Foto: AP/Andy Wong
Seorang wanita melakukan swab tenggorokan COVID-19 secara rutin di tempat pengujian virus corona di sepanjang jalur pejalan kaki di Beijing, Kamis, 3 November 2022. Partai Komunis yang berkuasa memberlakukan kebijakan Nol COVID yang telah menutup area di seluruh China untuk minggu untuk mencoba mengisolasi setiap kasus.

REPUBLIKA.CO.ID,  BEIJING -- Beijing menutup taman, mal dan museum pada Selasa (22/11/2022) sebagai bagian dari upaya meredam peningkatan kasus Covid-19. Sejumlah besar kota-kota di China juga melanjutkan pengujian massal Covid-19 yang tengah melonjak.

Sehari sebelumnya, pemerintah memperingatkan bahwa kota Beijing menghadapi ujian pandemi yang paling parah dan memperketat aturan untuk masuk. Pemerintah kota mengharuskan kedatangan dari tempat lain di China untuk menjalani tiga hari pengujian Covid-19 sebelum diizinkan meninggalkan akomodasi mereka.

Baca Juga

Banyak penduduk Beijing telah menghadapi kebijakan lockdown di tempat tinggal mereka. Meski pembatasan itu sering kali hanya berlangsung beberapa hari.

Beberapa penduduk mengatakan pengiriman bahan makanan lambat karena volume yang besar sementara banyak museum ditutup dan tempat-tempat seperti taman hiburan Happy Valley dan Taman Chaoyang, yang populer di kalangan pelari dan piknik juga tutup.

Beijing melaporkan 1.438 kasus domestik baru untuk data Senin (21/11/2022), naik dari 962 pada Ahad, ditambah 634 lagi untuk 15 jam pertama Selasa. Secara nasional, China melaporkan 28.127 kasus baru yang ditularkan di dalam negeri untuk Senin, mendekati puncak hariannya dari April, dengan infeksi di kota selatan Guangzhou dan kotamadya barat daya Chongqing menyumbang sekitar setengah dari total.

Gelombang infeksi sedang menguji penyesuaian oleh pemerintah Cina terhadap kebijakan Nol Covid, yang bertujuan untuk membuat pihak berwenang lebih bertarget dalam tindakan pencegahan. Pemerintah juga berupaya menjauhkan mereka dari penguncian total dan pengujian yang telah mencekik ekonomi dan membuat frustasi penduduk hampir tiga tahun setelah pandemi.

"Beberapa teman kami bangkrut, dan beberapa kehilangan pekerjaan," kata seorang pensiunan Beijing berusia 50 tahun bermarga Zhu.

"Kami tidak bisa melakukan banyak kegiatan yang ingin kami lakukan, dan tidak mungkin untuk bepergian. Jadi kami sangat berharap pandemi ini dapat berakhir secepat mungkin,” katanya.

Ekonomi China menghadapi salah satu tingkat pertumbuhan paling lambat dalam beberapa dekade. Hal ini dilihat dari gelembung properti raksasa telah meledak, pengangguran kaum muda baru-baru ini mencapai rekor tertinggi, dan sektor swasta telah lumpuh oleh kebijakan Nol Covid hingga serangkaian tindakan keras terhadap industri.

Investor berharap bahwa penegakan pembatasan Nol Covid China yang lebih bertarget dapat menandai pelonggaran yang lebih signifikan, tetapi banyak analis memperingatkan agar tidak terlalu menaikan harga, dilansir dari Reuters.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement