Friday, 15 Jumadil Awwal 1444 / 09 December 2022

Ahli Ingatkan Potensi Gempa Signifikan di Masa Depan Akibat Pergerakan Sesar Cimandiri

Selasa 22 Nov 2022 20:34 WIB

Red: Andri Saubani

Warga melewati jalan yang rusak akibat gempa di Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (22/11/2022). Gempa di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengakibatkan sejumlah rumah dan jalan rusak parah di Desa Sarampad. Akibatnya, kendaraan tidak bisa melintas untuk membawa bantuan bagi warga terdampak.

Warga melewati jalan yang rusak akibat gempa di Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (22/11/2022). Gempa di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengakibatkan sejumlah rumah dan jalan rusak parah di Desa Sarampad. Akibatnya, kendaraan tidak bisa melintas untuk membawa bantuan bagi warga terdampak.

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Data gempa kali ini dapat dijadikan acuan terbaik untuk skenario mitigasi masa depan.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Arie Lukihardianti, Riga Nurul Iman, Dian Fath Risalah

Gempa berkekuatan 5,6 SR mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin (21/11/2022) berdampak cukup merusak dan mengakibatkan ratusan korban jiwa meninggal dunia. Menurut Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB Irwan Meilano, berdasarkan beberapa data yang didapatkan saat ini serta melihat gempa susulan dan kerusakan yang terjadi, penyebab gempa Cianjur adalah gerakan sesar Cimandiri yang membujur dari Teluk Pelabuhan Ratu sampai sekitar Padalarang. 

Baca Juga

Irman menjelaskan, sesar Cimandiri tergolong sesar aktif. Adapun, sesar merupakan bidang rekahan yang disertai dengan adanya pergeseran, mengalami retakan, atau memiliki celah. 

"Pada sesar ini terdapat akumulasi tegangan tektonik yang menjadi gaya penerus gempa. Jika ditilik melalui pendekatan geologi, juga menunjukkan hal yang serupa," katanya, Selasa (22/11/2022). 

Sesar ini, kata dia, termasuk sumber gempa yang independen dan tidak dipengaruhi oleh gempa-gempa sebelumnya. Sehingga, terdapat potensi gempa yang signifikan terjadi di masa depan.

Menurut Irwan, gempa yang kemarin terjadi pukul 13.21 WIB tersebut bukan tergolong gempa besar jika ditinjau dari kekuatannya. Namun, dampak goyangannya cukup merusak karena hiposentrumnya yang tergolong dangkal, terdapat lapisan yang cukup halus, dan bangunan di atasnya yang tidak tahan gempa.

Menurut Irwan, ini bukan kali pertama pergerakan sesar Cimandiri memicu gempa. Irwan menyebutkan, pada 1970-an pernah terjadi gempa berkekuatan serupa.

"Ada pembelajaran yang bisa dipetik dari bencana kemarin. Concern utama berada di pemerintah dan pemda, perlu ada upaya untuk memahami bahwa daerah tersebut memiliki potensi gempa," katanya. 

Menurutnya, penataan ruang dan kaidah pembangunan yang dilakukan tiap daerah harus disesuaikan dengan struktur geologinya serta jaraknya dari sumber gempa. 

"Selain itu, masyarakat juga harus melek literasi dan pengetahuan bahwa mereka tinggal di daerah yang rawan gempa sehingga mitigasi dapat dilakukan," katanya.

Ketika bencana telah terjadi, kata dia, terdapat waktu (golden time) untuk evakuasi yang hanya berkisar rata-rata 30 menit setelah gempa bumi. Hal yang dapat dilakukan setelah bencana terjadi adalah memberikan respons yang terbaik. 

"Kita harus belajar dari Jepang dalam memanfaatkan golden time ini. Rumah sakit darurat, pengungsian sementara, air dan sanitasi yang baik, mulai dipersiapkan sekarang. Jika hanya fokus pada yang terluka, lantas mengesampingkan hal-hal vital yang harus dipersiapkan, maka orang yang selamat pun dapat menjadi korban selanjutnya," paparnya.

Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB itu berharap tidak ada lagi korban jiwa dan semua pihak dapat sama-sama belajar untuk mengantisipasi hal serupa terjadi di kemudian hari

Kepala Pusat Studi Bencana (UGM), Muhammad Anggri Setiawan mengatakan, potensi gempa akibat pergerakan sesar-sesar yang ada di Jawa Barat harus semakin intens diperhatikan.

 

 

"Ini bisa dilakukan dengan menghitung seberapa cepat pergerakan bidang patahan atau sesar dengan acuan bahwa gempa merupakan siklus karena jika pernah terjadi saat ini, pasti pernah terjadi di masa lalu dan akan terjadi di masa depan," kata Anggri, Selasa (22/11/2022).

Untuk itu, yang perlu dilakukan melakukan pemetaan guna  mengidentifikasi secara spasial, di mana saja keberadaan sesar suatu daerah. Jika sudah teridentifikasi, masing-masing sesar perlu dilakukan estimasi rata-rata kecepatan pergerakannya.

Dengan data inilah, kita bisa tahu mana sesar yang masih aktif dan tidak serta mana yang paling berpotensi untuk gempa di masa depan. Meski begitu, metode ini menurutnya tidak sepenuhnya akurat karena memang aktivitas alam sangat dinamis.

Namun, dengan tersedianya data dasar, maka dapat dijadikan acuan terbaik untuk skenario mitigasi masa depan. Tidak kalah penting fenomena setiap kejadian gempa besar selalu diikuti gempa-gempa susulan dengan skala relatif lebih kecil.

"Walaupun lebih kecil, tetap harus waspada," ujar Anggri.

Untuk masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan dengan lereng curam, ada kemungkinan jika gempa susulan dapat memicu tanah di sekitarnya semakin tidak stabil. Apalagi, ditambah hujan lebat menimbulkan risiko terjadinya longsor.

"Saya kira perlu dilakukan evakuasi warga untuk daerah-daerah yang berdekatan dengan tebing tinggi," kata Anggri. 

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA